Pabrik Gula GMM Blora Berhenti Beroperasi, Karyawan Ikut Progam Detasering
M Syofri Kurniawan May 06, 2026 05:56 AM

TRIBUNJATENG.COM, BLORA - Sebanyak 85 persen karyawan Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (GMM) Todanan, Kabupaten Blora, mengikuti program detasering.

Detasering merupakan penempatan pegawai untuk bertugas di suatu tempat dalam jangka waktu tertentu.

Hal itu imbas Pabrik Gula GMM Todanan yang saat ini berhenti beroperasi akibat kerusakan pada mesin boiler yang membuat proses penggilingan tebu tidak dapat dilakukan.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada pemasukan perusahaan.

Tanpa aktivitas produksi, Pabrik Gula GMM tidak memperoleh pendapatan sehingga mengalami krisis keuangan.

Untuk menyiasati kondisi tersebut, manajemen pabrik gula GMM meminta bantuan Perum BULOG.

Mengingat pabrik gula GMM merupakan anak perusahaan Perum Bulog. 

Menyiasati hal itu, Perum BULOG mengambil kebijakan detasering sebagai upaya menjaga keberlangsungan pendapatan karyawan.

Manajer Humas dan Kelembagaan Perum Bulog, Tomi Wijaya, menjelaskanm program detasering tersebut telah mulai dijalankan secara bertahap.

"Perlu kami tegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari kebijakan untuk melindungi karyawan GMM, khususnya dalam kondisi pabrik yang saat ini belum dapat beroperasi normal," katanya, kepada Tribun Jateng, Selasa (05/05/2026).

Diketahui jumlah karyawan tetap di PT GMM tercatat sebanyak 243 orang.

Tomi mengatakan dari jumlah karyawan pabrik GMM yang ada, sekitar 85 persen memilih mengikuti program detasering.

"Program ini ditawarkan kepada seluruh karyawan, dengan sifat sukarela (boleh ikut atau tidak). Setelah ditawarkan Sebagian besar karyawan mau mengikuti program ini.Penugasannya ke daerah-daerah sentra produksi padi. Karyawan ditempatkan di beberapa wilayah operasional BULOG, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Barat, sebagai bagian dari tim jemput pangan," jelasnya.

Sementara itu, sekitar 15 persen karyawan lainnya memilih tidak mengikuti program detasering. 

Kendati demikian, mereka tetap berstatus sebagai karyawan GMM dan tidak mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

"(Yang 15 persen karyawan tidak ikut detasering, itu kena PHK?) Ya enggak dong, 15 persen tidak memilih saja, kan itu sifatnya ditawarkan. Semuanya baik yang ikut detasering, ataupun yang tidak ikut, tetap statusnya karyawan GMM," jelasnya.

Terkait pendapatan atau gaji bagi karyawan yang tidak mengikuti detasering, Tomi menyebutkan bahwa hal tersebut kembali pada kebijakan internal pabrik gula GMM.

Sedangkan bagi karyawan yang mengikuti program detasering, pembiayaan dan penghasilan ditanggung oleh BULOG.

"Kalo dia memilih detasering pembiayaannya ditanggung Bulog, tapi kalo dia tidak memilih ya itu kembali ke pengaturan di internal GMM nya," tegasnya

Menurut Tomi, melalui program detasering ini, karyawan bisa tetap kerja secara produktif.

“Melalui program detasering ke kegiatan serap gabah Bukog, karyawan tetap dapat menjalankan aktivitas kerja secara produktif dan yang paling penting tetap memperoleh pendapatan."

"Jadi ini bukan pemindahan (kerja) biasa, tetapi langkah perlindungan agar karyawan tidak kehilangan penghasilan di tengah kondisi operasional pabrik yang sedang dalam proses pemulihan," jelasnya.

Pihaknya belum bisa memastikan sampai kapan para karyawan itu akan ditugaskan sementara sebagai tim jemput pangan.

"Ke depan, setelah kondisi Pabrik Gula GMM kembali normal, seluruh karyawan akan kembali menjalankan tugas sesuai fungsi utamanya," paparnya. (M Iqbal Shukri)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.