TRIBUNJATENG.COM, BREBES - Emak-emak di Desa Randusanga Kulon, Kecamatan/Kabupaten Brebes, Jawa Tengah memanfaatkan limbah sampah plastik menjadi nilai ekonomis.
Harga plastik yang melambung tinggi dampak dari perang di Timur Tengah justru menjadi peluang bagi mereka yang bersemangat mengumpulkan sampah plastik dengan menjual ke bank sampah karena harga jualnya ikut naik.
Dengan dibanderol harga Rp 3.500- 4.000 rupiah per kilogram, uang yang didapat kemudian ditabungkan dan bisa medapatkan kupon undian yang akan diundi pada Agustus mendatang.
Sementara sampah yang terkumpul, pihak desa mengolahnya menjadi ecobrick dan paving block di bawah naungan Bank Sampah Rangkul Jaya. Sementara hasil sampah organik, Pemdes meminta warga membuat kubangan di depan rumah.
Setelah membusuk, sampah tersebut bisa digunakan menjadi pupuk organik.
Halidah (34) warga setempat yang menjadi salah satu nasabah rutin yang menyetor sampah plastik menyebut, semula plastik limbah rumah tangga dibakar atau dibuang, kali ini sengaja dikumpulkan.
"Ada plastik bekas bungkus popok bayi, kopi, bekas minuman, semua dikumpulin, kemudian disetor," ujarnya saat melakukan penimbangan, Senin (4/5).
Warga mengaku makin semangat setelah harga plastik naik. Karena harga jual hasil memulung ikut terangkat. Jika sebelumnya Rp 3.000 sekarang naik antara Rp 3.500 sampai Rp 4.000 per kg.
Diketahui, Bank Sampah Rangkul Ceria dibuka sejak awal 2026 dan sudah banyak menerima kiriman limbah plastik. Berbagai jenis sampah ini datang dari warga desa.
Selain limbah plastik, warga juga bisa menukarkan minyak goreng jelantah ke Bank Sampah Rangkul Ceria yang dibanderol Rp 4.000 rupiah per liternya.
Pantauan TribunJateng.com, halaman rumah kepala Desa Randusanga Kulon, Afan Setiyono bahkan direlakan untuk jadi gudang Bank Sampah.
Ada limbah bekas air minum, plastik kemasan makanan, bumbu dapur, jajanan, plastik es sampai tas kresek. Plastik limbah bekas air mineral dan gelas plastik menjadi sampah favorit karena memiliki nilai jual tinggi.
Selain sampah plastik, ada juga sampah baju dan sepatu bekas yang rencananya akan dibuat menjadi tanggul banjir rob.
Kepala Desa Randusanga Kulon, Afan Setiyono menyebut, didirikannya tersebut berawal dari keresahan dirnya soal pengolahan sampah ribuan warganya.
"Jadi yang pertama berkaitan dengan instruksi Presiden berkaitan dengan penanganan sampah, terus berkaitan dengan surat edaran dari Bupati, tentang bagaimana penanganan sampah itu di tingkat Desa. Maka kami inisiasi melalui unit perpustakaan desa ini untuk membuat bank sampah Unit Desa, namanya adalah Bank Sampah Rangkul Ceria," ungkapnya.
Afan menyebut, dimulai untuk Bank Sampah itu sejak Januari 2026, setelah mempertimbangkan TPA di wilayah Kaliwlingi sudah ditutup karena terlalu overload.
"Kami berpikir sampah yang di wilayah desa dengan penduduk sampai 9.000 jiwa ini mau dikemanakan? Sehingga timbul inisiatif untuk mengelola dengan cara-cara inovasi dengan pendampingan dari Kecamatan Brebes," terangnya.
Tak melangkah sendiri, Afan juga didukung oleh para kader posyandu yang aktif di desanya. Emak-emak para nasabah Bank Sampah ini kemudian menukarkan hasil sampahnya saat desa menggelar posyandu setiap bulannya.
"Bekerja sama dengan posyandu, sampah plastik yang terkumpul dalam satu bulan itu bisa lebih dari satu ton. Belum kain, belum sampah yang lainnya kita kumpulkan disini," ujarnya.
Sampai saat ini, kata Afan, sudah ada ratusan warga yang menjadi nasabah Bank Sampah Rangkul Ceria.
"Alhamdulillah untuk warga dengan menggunakan tabungan khusus, yaitu kurang lebih ada 600 nasaba. Mereka sangat sadar bahwa kebersihan di lingkungan rumah itu penting. Selain itu juga mendapatkan value ekonomi untuk kesejahteraan mereka, tidak hanya membuang, tapi menerima uang," katanya.
Bank Sampah Rangkul Ceria, kata Afan, memprioritaskan sampah yang selama ini tidak diterima pada pengepul barang bekas.
"Kami prioritas sampah yang tidak laku di rongsokan, salah satu adalah contohnya untuk kemasan makanan," tuturnya.
Hasil dari sampah plastik itu, Afan menyebut bisa menghasilkan meja dan kursi untuk taman, paving block dengan cara di bakar kemudian di padatkan.
Sementara untuk sampah multiyears, dikelola menjadi ecobrick.
"Untuk sampah organiknya kami menyampaikan kepada masyarakat untuk dibuat kubangan di depan rumah supaya tidak membuang secara langsung di dalam TPS," tandasnya.
Direktur Bank Sampah Rangkul Ceria, Nur Isnawati mengatakan, sampah kiriman dari warga terlebih dulu ditimbang sesuai jenisnya. Kemudian akan ditukar dengan uang yang besarannya sesuai dengan volume sampah.
"Kami berikan reward, untuk sampah botol plastik Rp 3.500 per kg, kemudian yang jenis plastik es, kresek, bekas bungkus kopi, jajanan dan sejenisnya dihargai Rp 400 per kg," ungkapnya.
Sistem pembayaran tidak dilakukan secara cash. Setelah ditimbang, hasil akan dicatat di buku nasabah dan baru diuangkan menjelang Hari Raya.
"Kalau dibayar langsung kan jumlahnya sedikit, jadi ditabung dulu. Nanti pas menjelang Hari aya baru totalan dan dibayar," pungkasnya. (Wahyu Nur Kholik)