Dari desa yang sebelumnya hanya bergantung pada hasil laut, kini tumbuh keyakinan bahwa masa depan dapat dibangun bersama melalui pengetahuan, kerja gotong royong, dan keberanian memanfaatkan potensi yang selama ini terabaikan.
Jakarta (ANTARA) - Wajarnya nelayan hidup dari laut. Sayangnya laut kerap kali tak menentu. Meski begitu, tetap saja di banyak perkampungan nelayan di Indonesia, laut bukan hanya ruang hidup, tetapi juga penentu nasib.
Ketika cuaca bersahabat, penghasilan datang bersama hasil tangkapan. Namun, ketika ombak tinggi dan angin berubah arah, banyak keluarga harus menghadapi kenyataan bahwa pemasukan ikut berhenti.
Situasi seperti ini telah berlangsung lama di berbagai desa pesisir dan membentuk pola ekonomi yang sangat bergantung pada satu sumber penghidupan.
Oleh karena itu, ketika sebuah desa nelayan mulai berani membangun alternatif ekonomi dari potensi yang selama ini terabaikan, kisah tersebut menjadi penting sebagai inspirasi.
Perubahan itu misalnya mulai terlihat di Desa Sawang Laut, Pulau Kundur, Kepulauan Riau. Lahan pesisir yang sebelumnya terbengkalai perlahan berubah menjadi ruang produktif yang menghadirkan harapan baru bagi masyarakat.
Melalui kelompok warga bernama Tuah Bersatu, masyarakat mulai membangun usaha bersama yang tidak hanya bertumpu pada laut, tetapi juga pada kemampuan mereka mengelola potensi desa secara lebih luas dan berkelanjutan.
Ketua Kelompok Tuah Bersatu, Amran, mengisahkan gagasan tersebut lahir dari kegelisahan sederhana yang dirasakan banyak nelayan. Selama bertahun-tahun, kehidupan mereka berjalan dalam pola yang sama.
Setelah melaut, aktivitas ekonomi berhenti. Tidak ada sumber penghasilan tambahan yang bisa menopang kebutuhan keluarga ketika hasil tangkapan menurun. Dari situ muncul kesadaran bahwa desa membutuhkan usaha alternatif yang tetap sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.
Kesadaran itulah yang kemudian mendorong kelompok ini memanfaatkan lahan kosong di kawasan pesisir untuk budidaya ikan kakap putih pada 2022.
Program tersebut mulai berjalan aktif sejak 2023 dan berkembang perlahan sesuai kesiapan kelompok. Menariknya, pengembangan usaha dilakukan secara bertahap dan tidak terburu-buru.
Setelah budidaya kakap putih berjalan, kelompok mulai mengembangkan hidroponik, produksi terasi, peternakan ayam petelur, hingga persiapan bank sampah.
Langkah yang dilakukan Tuah Bersatu memperlihatkan bahwa pembangunan ekonomi desa tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Perubahan justru sering lahir dari keberanian memanfaatkan ruang kecil yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.
Lahan kosong yang dulu terbengkalai kini menjadi pusat aktivitas produktif yang melibatkan banyak warga dengan kemampuan yang terus berkembang.
Dari sisi ekonomi, dampaknya mulai dirasakan masyarakat. Unit peternakan ayam, misalnya, mampu memasarkan sekitar 100 ekor ayam per bulan dengan omzet sekitar Rp10 juta hingga Rp12 juta.
Nilainya mungkin belum seberapa jika dibandingkan dengan skala industri besar di perkotaan, tetapi bagi keluarga pesisir, tambahan penghasilan tersebut memiliki arti yang sangat penting. Penghasilan alternatif memberi ruang napas bagi keluarga untuk menghadapi ketidakpastian musim dan cuaca.
Ekonomi Inklusif
Sementara itu, unit hidroponik yang dikelola kaum ibu menjadi contoh lain bagaimana ekonomi desa bisa tumbuh lebih inklusif. Sayuran segar seperti pakcoy, selada, dan sawi manis mulai menjadi sumber penghasilan baru yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.
Kehadiran kaum ibu dalam aktivitas produktif menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi lokal dapat membuka ruang partisipasi yang lebih luas, bukan hanya bagi nelayan laki-laki, tetapi juga bagi anggota keluarga lainnya.
Namun manfaat paling penting dari perubahan ini sesungguhnya bukan hanya soal omzet atau jumlah produksi. Amran menilai hal yang paling terasa justru peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Warga yang sebelumnya hanya mengandalkan keterampilan melaut kini mulai mengenal teknik budidaya, pengelolaan usaha, hingga cara membangun jaringan dengan berbagai pihak.
Perubahan seperti ini sering kali luput dari perhatian karena hasilnya tidak langsung terlihat secara fisik. Padahal, peningkatan pengetahuan dan rasa percaya diri masyarakat merupakan fondasi utama bagi keberlanjutan ekonomi desa.
Ketika masyarakat mulai merasa mampu mengelola usaha sendiri, mereka tidak lagi sekadar menjadi penerima bantuan, melainkan pelaku pembangunan yang aktif menentukan arah masa depannya.
Dalam proses pengembangan tersebut, kelompok Tuah Bersatu mendapat pendampingan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Timah Tbk, anggota Holding Industri Pertambangan MIND ID.
Pendampingan dilakukan mulai dari pembukaan lahan, penguatan teknis, hingga pengembangan usaha secara bertahap. Yang menarik, pendekatan seperti ini tidak berhenti pada pemberian bantuan alat atau modal semata, tetapi juga membangun proses belajar yang memungkinkan masyarakat tumbuh secara mandiri.
Pendekatan berbasis pendampingan menjadi penting karena banyak program ekonomi masyarakat gagal berkembang akibat minimnya transfer pengetahuan. Ketika masyarakat hanya diberi bantuan tanpa penguatan kapasitas, usaha sering berhenti setelah program selesai.
Sebaliknya, ketika masyarakat dilibatkan dalam proses belajar, kemampuan mereka untuk bertahan dan berkembang menjadi jauh lebih besar.
Amran sendiri berharap pendampingan tersebut dapat terus berlanjut, terutama dalam pengembangan pakan mandiri untuk budidaya ikan agar biaya operasional dapat ditekan.
Keberlanjutan Ekonomi
Harapan ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai berpikir lebih jauh tentang efisiensi usaha dan keberlanjutan ekonomi. Mereka tidak lagi hanya berfokus pada bagaimana memulai usaha, tetapi juga bagaimana menjaga usaha tetap hidup dalam jangka panjang.
Apa yang terjadi di Sawang Laut sesungguhnya memberikan gambaran lebih luas tentang arah pembangunan desa yang mulai bergerak menuju penguatan ekonomi berbasis potensi lokal.
Program TJSL yang dijalankan diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi desa agar manfaatnya tidak berhenti pada satu komoditas saja, melainkan berkembang menjadi berbagai sumber penghasilan yang lebih tahan terhadap perubahan situasi ekonomi maupun lingkungan.
Model seperti ini menjadi semakin relevan di tengah tantangan perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi global, dan tekanan terhadap sumber daya alam.
Desa-desa pesisir membutuhkan kemampuan beradaptasi agar masyarakat tidak hanya bergantung pada satu sektor yang rentan terhadap perubahan musim. Diversifikasi usaha menjadi salah satu cara penting untuk membangun ketahanan ekonomi keluarga dan desa.
Inisiatif yang menyentuh aspek sosial dan lingkungan tersebut juga sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang dijalankan grup perusahaan.
Atas konsistensi pengelolaan lingkungan dan dampak sosial yang dibangun di sekitar wilayah operasinya, PT Timah Tbk meraih penghargaan PROPER Emas dan PROPER Hijau 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH.
Namun di luar penghargaan itu, pelajaran terbesar dari Sawang Laut sesungguhnya terletak pada keberanian masyarakat untuk berubah.
Dari desa yang sebelumnya hanya bergantung pada hasil laut, kini tumbuh keyakinan bahwa masa depan dapat dibangun bersama melalui pengetahuan, kerja gotong royong, dan keberanian memanfaatkan potensi yang selama ini terabaikan.
Di tangan masyarakat yang mau belajar dan bergerak, lahan terbengkalai ternyata bisa berubah menjadi harapan baru.





