Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengajak warga Menden, Kebonarum, Klaten manfaatkan limbah kulit bawang merah menjadi pupuk organik cair (POC).
Melalui program Pembelajaran Luar Kampus (PLK) tersebut, mahasiswa diajak untuk menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Ketua PLK Desa Menden, Fauzan Nurul Huda, mengatakan program ini tidak hanya berfokus pada inovasi produk, tetapi juga edukasi masyarakat.
Melalui pemanfaatan limbah kulit bawang merah, pihaknya ingin mendorong masyarakat lebih peduli terhadap limbah rumah tangga.
"Dengan cara sederhana ini, limbah yang sebelumnya tidak bernilai bisa diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bahkan berpotensi menghemat biaya pertanian," katanya melalui keterangan tertulis, Selasa (5/5/2026).
Ia menyebut tim PLK ini terdiri dari 10 mahasiswa dari lintas program studi.
Melalui kolaborasi lintas disiplin ini dapat memperkuat implementasi program berbasis pemberdayaan masyarakat.
Menurut dia, pemanfaatan limbah ini dapat meningkatkan ekonomi masyarakat sekaligus mendorong penggunaan pupuk ramah lingkungan.
"Pemanfaatan limbah dapur menjadi pupuk organik cair menjadi langkah kecil yang berdampak besar dalam menciptakan pola hidup berkelanjutan di masyarakat," ujarnya.
Baca juga: Duka Jadi Daya, Kisah Perjuangan Mahasiswi UNY Torehkan IPK Nyaris Sempurna
Sementara itu, Anggota Tim PLK Desa Menden, Adita Ananta Putri menerangkan inisiatif ini dilatarbelakangi oleh melimpahnya limbah bawang merah yang selama ini dibuang
Mahasiswa Program Studi Kimia FMIPA UNY itu menyebut kulit bawang merah memiliki kandungan senyawa yang dapat mendukung pertumbuhan tanaman.
"Kulit bawang merah mengandung zat-zat yang mampu merangsang pertumbuhan akar, menyuburkan tanaman, serta membantu mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia,” terangnya.
Proses pembuatan pupuk organik cair inipun sederhana, sehingga dapat dilakukan oleh masyarakat.
Bahan utama yang digunakan antara lain kulit bawang merah, air cucian pertama beras, dan gula jawa.
Seluruh bahan difermentasi dalam wadah tertutup selama kurang lebih tujuh hari hingga menghasilkan larutan dengan aroma khas fermentasi.
"Harapannya melalui pendekatan ilmiah yang aplikatif ini dapat menjadi produk yang bermanfaat untuk masyarakat, termasuk pertanian rumah tangga," pungkasnya. (*)