Pernahkah traveler membayangkan tinggal di sebuah area yang setiap rumah memiliki setidaknya satu ekor ular berbisa? Selamat datang di Ban Kok Sa-Nga atau yang lebih populer dengan sebutan King Cobra Village.
Terletak di Distrik Nam Phong, Provinsi Khon Kaen, Thailand, desa ini menawarkan sensasi wisata yang memacu adrenalin sekaligus memperlihatkan harmoni unik antara manusia dan reptil paling mematikan di dunia.
Bayangkan saja, hampir setiap dari 140 rumah di sini memiliki setidaknya satu ekor ular sebagai penghuninya, mulai dari ular piton, kobra monokel, hingga sang predator puncak, king cobra.
Tradisi ekstrem itu memiliki sejarah panjang yang dimulai pada 1951. Saat itu, seorang praktisi pengobatan tradisional menggunakan atraksi ular untuk menarik perhatian warga agar membeli ramuan herbal buatannya.
Tanpa disangka, cara promosi tersebut justru berkembang menjadi sebuah tradisi baru yang bertahan lebih dari tujuh dekade. Keterampilan berinteraksi dengan ular kemudian diwariskan secara turun-temurun.
Bahkan, di desa tersebut, anak-anak sejak usia dini sudah diajarkan cara menangani ular. Mereka pun terlihat terbiasa mengalungkan ular di leher tanpa rasa takut.
Daya tarik yang menjadi magnet utama bagi para pelancong adalah pertunjukan "tinju" spektakuler yang mempertemukan keberanian manusia dengan kegesitan kobra. Dalam atraksi yang mendebarkan ini, seorang pawang, sosok legendaris bernama Bualee, sudah puluhan tahun malang melintang di dunia reptil.
Desa Kobra (CNN)
|
Bualee telah bekerja sebagai pawang ular selama lebih dari 50 tahun. Dia secara rutin mengikuti pertunjukan ke berbagai daerah wisata seperti Koh Samui, Phuket, dan Krabi.
Dia menceritakan kehidupan sehari-hari di Ban Kok Sa-Nga serta bagaimana masyarakat setempat hidup berdampingan dengan ular.
"Kami harus mengajarkan anak-anak sejak usia dini cara menangani ular secara detail, termasuk bagaimana memberi makan dan menjinakkannya. Setiap orang tua bebas mengajarkannya dengan cara masing-masing," kata Bualee, yang mengaku sudah 21 kali digigit ular.
Dalam pertunjukan, dia biasanya memancing reaksi ular di dalam arena, kemudian menjinakkannya dengan kontak fisik yang sangat halus, termasuk menyentuhkan atau mencium bagian kepala ular.
Ular-ular di Ban Kok Sa-Nga pun dikatakan sudah terbiasa dengan manusia. Tidak jarang terlihat anak-anak mengalungkan ular di leher mereka, bahkan sesekali berinteraksi dekat dengan hewan tersebut, sementara ular tetap tenang di depan kamera para wisatawan.
Berdasarkan informasi terbaru dari Otoritas Pariwisata Thailand (TAT), Ban Kok Sa-Nga kini berkembang bukan hanya sebagai tempat pertunjukan ekstrem, tetapi juga sebagai pusat edukasi dan konservasi reptil yang diakui secara resmi.
Bagi warga setempat, ular-ular tersebut dipandang sebagai bagian dari kehidupan dan bahkan dihormati layaknya anggota keluarga. Mereka juga menggelar ritual khusus di kuil ketika seekor ular mati sebagai bentuk penghormatan.
Saksikan Live DetikPagi :





