TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, tidak hanya dikenal sebagai Kota Seribu Umbul.
Klaten yang menjadi jalur penghubung Solo-Yogyakarta dikenal luas juga memiliki banyak candi yang kini jadi destinasi wisata.
Ya, Klaten menyimpan banyak kompleks candi bercorak Hindu-Buddha yang dibangun sejak masa Kerajaan Mataram Kuno.
Baca juga: Rekomendasi Wisata di Klaten : Nikmati Segarnya Hidden Gem Umbul Kroman, Sumber Mata Air Alami
Selain menjadi destinasi wisata sejarah, candi-candi ini juga menjadi saksi perkembangan peradaban Nusantara.
Pengamatan TribunSolo.com, ada beberapa candi di Klaten.
Dari candi yang masih bagus strukturnya karena pemugaran hingga candi yang sudah rusak parah menyisakan puing-puing saja karena termakan usia.
Ketika TribunSolo.com mengunjungi beberapa candi Klaten, atmosfer kejayaan kerajaan tempo dulu langsung terasa.
Nuansa sakral dan tenang langsung bercampur menjadi satu.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Kabupaten Sukoharjo Rabu 6 Mei 2026 : Mayoritas Berawan hingga Potensi Hujan Ringan
Lantas, kenapa banyak candi ditemukan di Klaten? Berikut sejarahnya yang dikutip dari berbagai sumber:
Menurut AJI Artbanu Wishnu dalam buku Candi-Candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta, candi merupakan representasi Gunung Mahameru, tempat bersemayam para dewa.
Pada masa kerajaan, fungsi candi sangat penting, antara lain:
Baca juga: Aksi Konvoi Lulusan di Jogonalan Klaten Berujung Penindakan, 12 Pelajar Terjaring, Motor Kena Sita
Pembangunan candi pada masa lalu tidak dilakukan sembarangan.
Masyarakat Jawa Kuno mengikuti Kitab Manasara Silpasastra dari India sebagai pedoman arsitektur suci.
Salah satu syarat utama pendirian candi adalah lokasi yang subur.
Klaten memiliki kondisi geografis yang sangat sesuai:
Tak heran, banyak candi terletak di wilayah Prambanan-Klaten, kawasan strategis yang sejak dahulu menjadi pusat kehidupan masyarakat agraris dan religius.
Baca juga: Kenapa Banyak Umbul di Klaten? Berkah dari Gunung Merapi, Begini Penjelasan Ilmiahnya
Kerajaan Mataram Kuno, yang berdiri pada tahun 732 M di bawah Raja Sanjaya, berpusat di kawasan yang kini meliputi Klaten dan daerah sekitarnya.
Sebagai kerajaan Hindu-Buddha, pembangunan candi menjadi elemen penting untuk:
Karena itu, candi-candi di Klaten sering ditemukan saling berdekatan sebagai satu mandala atau kompleks religius.
Contoh tiga candi yang lokasinya saling terhubung:
Candi Prambanan – Candi Sewu – Candi Plaosan
Kompleks ini menunjukkan bahwa Klaten merupakan pusat peribadatan besar pada masa Mataram.
1. Candi Plaosan
Terletak di Desa Bugisan, Prambanan, Klaten. Candi bercorak Buddha ini diperkirakan dibangun pada masa Rakai Pikatan (abad ke-9).
Pahatannya mirip Borobudur, Sewu, dan Sari.
Candi ini juga terkenal sebagai simbol kisah cinta beda agama antara Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani.
2. Candi Sewu
Berada di Dukuh Bener, Bugisan, Klaten.
Dibangun pada abad ke-8 oleh Rakai Panangkaran, candi ini menjadi pusat kegiatan agama Buddha.
Prasasti Manjusrigrta menunjukkan fungsi Candi Sewu sebagai pusat penyempurnaan ajaran Buddha.
3. Candi Lumbung
Bercorak Buddha dan dibangun abad ke-9–10.
Memiliki bentuk stupa pada atapnya, menandakan fungsi Buddhis yang mirip dengan candi-candi mandala lainnya.
4. Candi Sojiwan
Terletak di Kalongan, Kebon Dalem Kidul.
Diperkirakan menjadi bagian sebaran dari kompleks Prambanan.
Coraknya Buddha dan memiliki relief yang indah.
5. Candi Bubrah
Berada di kawasan Prambanan. Saat ditemukan, candi sudah rusak berat dan tinggal reruntuhan setinggi dua meter, karena itu dinamakan Bubrah. Candi ini satu kelompok dengan Candi Sewu dan Lumbung.
6. Candi Merak
Terletak di Karanggongko, Karangnongko, Klaten. Bercorak Hindu dan dibangun pada abad VIII–IX.
Nama "Merak" diperkirakan berasal dari banyaknya burung merak di sekitar lokasi saat ditemukan.
Candi ini telah beberapa kali dipugar.
7. Candi Gana
Berada di Dusun Bener, Bugisan.
Merupakan candi bercorak Buddha dan termasuk dalam nominasi bangunan warisan dunia sebagai "Candi Asu".
Diduga dibangun pada abad IX berdasarkan komponen arsitekturnya.
(*)