TRIBUNNEWS.COM - Perjalanan Graham Arnold menuju Piala Dunia FIFA 2026 bersama Timnas Irak menjadi salah satu kisah menarik dalam edisi kali ini.
Pelatih berusia 62 tahun itu hadir dengan segudang pengalaman, baik sebagai pemain maupun pelatih, serta rekam jejak yang terbukti di level tertinggi.
Ia membawa Timnas Irak kembali lolos ke Piala Dunia setelah satu-satunya penampilan mereka 40 tahun lalu, di edisi 1986.
Sebelum menjadi pelatih, Graham Arnold merupakan seorang striker yang cukup tajam di sepak bola Australia.
Lahir di Sydney pada 3 Agustus 1963, Arnold memulai karier sepak bolanya dari level junior sebelum menanjak ke kompetisi profesional Australia.
Seperti dilansir Footballaustralia, ia dikenal sebagai striker produktif, terutama saat memperkuat Sydney United pada periode 1984–1990 dengan torehan 67 gol dari 178 pertandingan.
Arnold juga sempat merantau ke Eropa dan Asia, bermain di Belgia, Jepang, dan Belanda.
Di sana, ia memperkuat klub seperti Roda JC dan membangun reputasi sebagai penyerang tajam.
Di level internasional, Arnold mencatatkan 88 penampilan bersama tim nasional Australia dan mencetak 33 gol.
Ia turut ambil bagian dalam berbagai kampanye kualifikasi Piala Dunia serta Olimpiade 1988, menjadikannya salah satu pemain berpengalaman di generasinya.
Baca juga: Pesan Menyentuh Graham Arnold usai Bawa Irak Lolos Piala Dunia 2026 setelah Penantian 40 Tahun
Karier kepelatihan Arnold dimulai pada 1998 sebagai player-manager di Northern Spirit FC.
Ia kemudian berkembang menjadi salah satu pelatih paling sukses di Australia.
Bersama Central Coast Mariners dan Sydney FC, Arnold meraih berbagai gelar domestik, termasuk beberapa gelar A-League dan penghargaan Pelatih Terbaik.
Puncak kariernya datang saat menangani Timnas Australia. Ia membawa Socceroos lolos ke Piala Dunia FIFA 2022.
Arnold juga menjadi pelatih Australia pertama yang memenangkan lebih dari satu pertandingan di satu edisi Piala Dunia.
Atas pencapaiannya, ia secara mengejutkan dinobatkan sebagai pelatih terbaik di turnamen tersebut oleh media Prancis, L’Équipe.
Di edisi itu, ia mencatat sejarah dengan membawa Australia menembus babak 16 besar—prestasi terbaik sejak 2006.
Tim Negeri Kanguru itu bermain empat kali, dengan yang terakhir dikalahkan Timnas Argentina 2-1, yang kelak menjadi juara dunia 2022.
Sebelum itu, di fase grup Australia kalah 4-1 dari Prancis di laga pembuka. Mereka lalu bangkit dengan menang melawan Tunisia dan Denmark untuk menjadi runner up dan lolos fase gugur.
Setelah meninggalkan Australia pada 2024, Arnold mengambil tantangan baru dengan melatih Singa Mesopotamia, -julukan Timnas Irak.
Ia menangani Timnas Irak sejak putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, efektif per 9 Mei 2025.
Arnold ditunjuk menggantikan Jesus Casas dan berhasil membawa Irak lolos ke Piala Dunia 2026 setelah melewati putaran keempat dan play-off antar-konfederasi.
Kemenangan dramatis 2-1 atas Bolivia memastikan Irak tampil di Piala Dunia untuk kedua kalinya sepanjang sejarah, sekaligus yang pertama dalam 40 tahun terakhir.
Arnold kini menjadi bagian dari kelompok kecil pelatih yang pernah membawa dua negara berbeda ke Piala Dunia—sebuah pencapaian langka di dunia sepak bola.
Baca juga: Profil Timnas Irak di Piala Dunia 2026, Comeback Singa Mesopotamia usai Penantian 40 Tahun Lamanya
Graham Arnold bukan sekadar pelatih berpengalaman, tetapi juga sosok pembawa perubahan.
Dari karier sebagai striker hingga menjadi arsitek tim nasional, ia kini mengemban misi besar bersama Irak—menulis sejarah baru di Piala Dunia 2026.
Timnas Irak sendiri mendapat grup yang berat. Mereka tergabung bersama juara Dunia 2018 Prancis, Juara Afrika 2025 Senegal dan Norwegia yang memiliki Erling Haaland.
Irak jelas bukan unggulan. Namun dengan pengalaman dan mentalitas yang dibangun sang pelatih, bukan tak mungkin Irak bisa menjadi kuda hitam yang merepotkan lawan.
(Tribunnews.com/Tio)