Kerja di Jakarta Tak Lagi Dilirik, Perantau Sebut Sejawat Kampung Pilih Jadi Content Creator
Joseph Wesly May 06, 2026 02:50 PM

 

Laporan Jurnalis TribunBekasi.com, Rendy Rutama Putra

TRIBUNBEKASI.COM, KOTA BEKASI- Perubahan tren dunia kerja dirasakan para perantau yang sudah lama menetap di wilayah Jabodetabek.

Satu contohnya dikatakan Achmad Nasrudin Yahya, perantau asal Kebumen yang telah 14 tahun tinggal dan berkarier di Jakarta dan Bekasi.

Tren Kerja Berubah, Jakarta Tak Lagi Jadi Pilihan Utama

Pria kelahiran Desa Sidayu, Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen pada 4 Februari 1993 itu menilai, bekerja di Jakarta kini tak lagi menjadi pilihan utama, khususnya bagi kalangan anak muda.

“Jakarta itu untuk saat ini menurut saya kurang dilirik lagi buat kerja, karena anak muda sekarang justru memilih pekerjaan yang bersifat remote atau kerja yang dapat dilakukan melalui pemanfaatan teknologi dan tidak perlu mendatangi kantor,” kata Achmad kepada Tribun Bekasi, Minggu (26/4/2026).

Menurut Achmad, perkembangan era digital membuat banyak orang memiliki alternatif sumber penghasilan tanpa harus terikat pada lokasi kerja tertentu.

Perkembangan era digital juga seakan menenakan anak muda menjadi lebih kreatif dan mampu mencari uang melalui ide kreatifnya masing-masing.

"Sekarang itu anak muda, baik di Jakarta, maupun di kampung saya, lebih memilih belajar jadi YouTuber, content creator, script writing hingga jasa accounting, pokoknya yang sifatnya remote," jelasnya.

Persaingan Ketat dan Minim Lowongan

Menurut laki-laki yang kerap disapa Yay itu menuturkan, faktor persaingan calon pekerja, serta minimnya lowongan pekerjaan (Loker) di Jakarta juga menjadi faktor berkurangnya peminat pekerja.

Kemudian, seiring berkembangnya zaman di era digital, membuat masyarakat melihat dan belajar kalau mencari uang saat ini tak lagi perlu di kantor dan pergi jauh dari keluarga.

"Cari kerja sekarang di Jakarta itu susah, tidak lagi seperti dulu, risikonya juga berat, jauh dari keluarga, daripada ambil risiko berat, sekarang cari duit bisa dengan sistem endorse, hanya modal ide, handphone, dan internet, belajar juga bisa dari intenet, jadi mereka memilih remote," tuturnya.

Pernyataan Yay pun bukan serta merta pandangan belaka.

Sebab, fenomena itu pun ia lihat dengan realita beberapa rekannya di kampung halamannya.

"Ada beberapa teman yang sekarang tekunin jadi content creator di kampung, dia belajar dari influencer Instagram, Tik tok, bagaimana dia bisa cari uang," ujarnya.

Kisah 14 Tahun Merantau di Jakarta

Yay menyimpulkan, realita pola cara kerja saat 14 tahun pertama dirinya merantau ke Jakarta dengan saat ini sangatlah berbeda.

Kala itu, dirinya memulai hidup di Jakarta dengan kondisi serba terbatas.

Ia datang pertama kali ke ibu kota dengan modal Sekira Rp 2 juta.

Uang tersebut digunakan untuk kebutuhan awal seperti tempat tinggal dan makan sehari-hari.

“Pertama datang ke Jakarta, saya sempat nguli diajak teman kakak, itu berlangsung lebih kurang enam bulan nguli,” imbuhnya.

Berdasarkan pengalaman tersebut, Yay mulai menyadari pentingnya memiliki keahlian untuk bisa bersaing di tengah ketatnya dunia kerja di Jakarta.

Sehingga ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Islam 45 Bekasi dengan mengambil jurusan jurnalistik.

Kini, ia bekerja di perusahaan di bidang media dan merasa pekerjaannya sudah sesuai dengan harapan sejak awal.

“Memasuki semester satu akhir, saya mulai kerja lain secara profesional di media massa, setelah itu kuliah lulus 2017,” lugasnya.

Tantangan Hidup dan Adaptasi Budaya

Selama merantau, Yay mengaku kerap menghadapi beragam tantangan.

Tantangan itu mulai dari perbedaan budaya hingga ketatnya persaingan kerja.

“Tantangan besarnya adalah budaya, budaya seperti gaya hidup bergaul dengan orang baru yang terkadang kerap ditemukan berbanding terbalik dengan saya ketika di kampung,” ucapnya.

Yay mencontohkan, kebiasaan nongkrong di kafe yang membutuhkan biaya tidak sedikit, berbeda dengan suasana di kampung halaman.

Selain itu, ia juga sempat merasa minder saat awal datang ke Jakarta karena harus bersaing dengan banyak orang dari berbagai latar belakang.

Namun kondisi tersebut justru memacu dirinya untuk terus berkembang.

Sebab ia juga mengakui, taraf hidupnya meningkat setelah menetap dan bekerja di Jakarta.

Pesan untuk Perantau Baru

Bagi para perantau baru yang datang setelah Lebaran, Yay memberikan pesan agar memiliki tujuan yang jelas serta keahlian yang bisa diandalkan.

“Pahami secara betul maksud dan tujuan hidup masing-masing, pahami keahlian diri sendiri yang dimiliki, dan itu wajib,” tegasnya.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya membangun relasi untuk menunjang perkembangan karier.

“Sebab jika tidak merasa memiliki keahlian, justru akan rentan kalah berkompetitif dengan khalayak luas. Kemudian, perbanyak relasi dengan khalayak luas, baik itu kalangan pejabat ataupun masyarakat biasa,” pungkasnya. (M37)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.