TRIBUNBANYUMAS.COM, CILACAP - Musim kemarau yang diprediksi segera melanda wilayah Cilacap membuat pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan dengan melakukan rapat koordinasi menghadapi musim kemarau, Rabu (6/5/2026).
Kepala Pelaksana BPBD Cilacap, Taryo, mengatakan rapat tersebut menjadi langkah awal untuk memastikan kesiapan seluruh pihak dalam menghadapi potensi dampak kemarau, terutama krisis air bersih.
“Rapat koordinasi ini kami lakukan sebagai bentuk antisipasi dan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026, dengan melibatkan OPD, BUMN, BUMD, swasta, instansi vertikal, hingga relawan agar semua siap bergerak bersama,” ujar Taryo.
Ia menegaskan, meski pemerintah tidak berharap terjadi bencana, langkah mitigasi tetap harus dilakukan sejak dini agar dampak kemarau bisa ditekan semaksimal mungkin.
“Kami tentu tidak berharap ada hal-hal yang tidak diinginkan, tetapi ini bagian dari kesiapan pemerintah daerah bersama seluruh stakeholder,” katanya.
Menurut Taryo, ketersediaan air bersih menjadi fokus utama dalam menghadapi musim kemarau, mengingat kebutuhan masyarakat akan air meningkat saat curah hujan menurun.
“Untuk air bersih, saat ini kami sudah menyiapkan sekitar 250 tangki yang siap didistribusikan ke masyarakat jika dibutuhkan,” jelasnya.
Selain itu, BPBD juga telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan dukungan tambahan apabila kebutuhan meningkat.
“Kalau nanti ada kekurangan, kami sudah berkoordinasi dengan sejumlah pihak seperti CSR perusahaan, PMI, Baznas, dan lainnya yang siap membantu,” imbuhnya.
Hingga saat ini, BPBD Cilacap mencatat belum ada permohonan distribusi air bersih dari wilayah, seiring musim kemarau yang belum sepenuhnya berlangsung.
“Berdasarkan informasi BMKG, musim kemarau di Cilacap diperkirakan mulai dasarian kedua Mei, khususnya di wilayah timur seperti Binangun dan Adipala,” ungkap Taryo.
Baca juga: KDMP Bisa Benturan dengan Pedagang Kecil, Kades Kaliori Banyumas Soroti Potensi Konflik Harga
Ia menambahkan, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus dengan durasi sekitar lima hingga enam bulan.
“Puncaknya diperkirakan bulan Agustus dan bisa berlangsung hingga September atau Oktober,” katanya.
Dari sisi armada, BPBD Cilacap juga memastikan kesiapan kendaraan pengangkut air bersih untuk mendukung distribusi ke wilayah terdampak.
“Untuk armada, saat ini kami memiliki tiga unit mobil tangki, dua di induk dan satu di UPT Majenang, serta tambahan bantuan satu armada dari provinsi yang segera bergabung,” jelasnya.
Taryo berharap seluruh upaya kesiapsiagaan ini mampu meminimalisir dampak kemarau, sehingga masyarakat tetap dapat menjalani aktivitas dengan aman.
“Harapan kami tentu Cilacap tetap terhindar dari bencana, namun jika ada potensi, kami sudah siap untuk bergerak cepat membantu masyarakat,” tandasnya. (ray)