SURYA.CO.ID, LUMAJANG - Harga pasir di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur (Jatim), dilaporkan melonjak hingga 30 persen pada awal Mei 2026. Kenaikan material bangunan ini dipicu oleh meroketnya harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, khususnya Pertamina Dex, yang menjadi urat nadi operasional alat berat di area penambangan.
Iwan, salah satu sopir dump truck pasir di Kecamatan Pasirian, Lumajang, mengungkapkan bahwa harga beli pasir langsung dari penambang kini bisa mencapai Rp 650.000 per truk. Padahal, sebelumnya harga di tingkat penambang masih berada di kisaran Rp 450.000.
"Kalau operasional truk sebetulnya tidak ada kendala, karena kami punya barcode pembelian Biosolar subsidi. Cuma kenaikan harga pasir dari tambang ini yang sangat menekan para sopir, ini jadi pertimbangan berat," ujar Iwan, Rabu (6/5/2026).
Para penambang terpaksa menaikkan harga jual, lantaran alat berat yang mereka gunakan dilarang memakai BBM subsidi. Penambang kini bergantung penuh pada BBM non-subsidi seperti Pertamina Dex yang harganya melonjak tajam.
Untuk tetap mendapat keuntungan, Iwan terpaksa mengambil risiko dengan mengangkut pasir melebihi batas muatan. Menariknya, pasir tersebut tidak langsung dikirim seluruhnya kepada pihak konsumen akhir.
"Biasanya saya bawa 7 kubik, sekarang harus bawa 8 kubik lebih, itu bikin kendaraan gampang rusak. Nanti sekitar 1,5 atau 2 kubik kami turunkan di rumah untuk ditimbun, sisanya baru dikirim ke pelanggan di kawasan Probolinggo," paparnya.
Hasil timbunan itulah yang kelak dijadikan "celengan" bagi Iwan untuk menutupi pembengkakan harga modal. Hal ini dilakukan karena Iwan khawatir jika ia membebankan seluruh kenaikan harga kepada konsumen, pelanggan akan lari.
Dari sisi penambang, Antok yang beroperasi di Kecamatan Pasirian membenarkan bahwa pergerakan harga sudah mulai terasa sejak pertengahan bulan lalu.
"Kenaikan mulai 18 April 2026 seiring mahalnya BBM. Naiknya berkisar Rp 50.000 hingga Rp 100.000 per ritase, dan ini bikin kerja makin bingung," tambahnya.
Menanggapi fenomena ini, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Lumajang, Muhammad Ridha, menyoroti terancamnya daya saing pasir Lumajang. Konsumen bisa saja beralih ke pasir dari Sidoarjo atau Malang yang secara jarak lebih dekat, jika harga pasir Lumajang terlampau mahal.
"Pasir Lumajang memang melimpah dan kualitasnya terbaik. Tetapi rantai pasoknya kini menghadapi ujian berat karena solar yang dulu menjadi pelumas pertumbuhan, kini menjadi beban yang menggerus margin," ucap Ridha.
Ia menekankan bahwa para pelaku tambang harus segera beradaptasi entah dengan efisiensi maupun diversifikasi.
"Di dunia tambang pasir, yang bertahan bukan yang punya pasir terbanyak, melainkan yang bisa menjual dengan harga masuk akal. Saat ini, harga tersebut sedang diuji," tuturnya.
Sesuai dengan regulasi dan pengawasan ketat dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), seluruh alat berat untuk kegiatan operasional pertambangan dilarang keras meminum BBM subsidi. Kebijakan ini diberlakukan, agar alokasi solar subsidi lebih tepat sasaran untuk masyarakat umum dan usaha mikro. Konsekuensinya, alat keruk penambang pasir wajib menggunakan Pertamina Dex atau Dexlite.
Di sisi lain, memasuki bulan Mei 2026, PT Pertamina (Persero) resmi melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi secara berkala.
Di sebagian besar wilayah Jawa, harga Pertamina Dex melonjak pesat dan tercatat menyentuh angka lebih dari Rp 27.900 per liter, melesat naik dari bulan sebelumnya. Pembengkakan ongkos bahan bakar industri inilah yang kemudian ditagihkan menjadi kenaikan harga material di tingkat bawah.
Padahal, pasir asal Lumajang merupakan material primadona yang merupakan muntahan langsung dari letusan vulkanik Gunung Semeru. Pasir Semeru ini memiliki reputasi tingkat nasional berkat kandungan besi (Fe) yang tinggi dan daya lekat (interlocking) yang kuat. Karakteristik tersebut membuatnya menjadi material paling ideal dan stabil untuk campuran beton bertulang berskala besar, yang sayangnya kini posisinya sedang diuji oleh mahalnya bahan bakar pencetakannya.