Renungan Harian Kristen 7 Mei 2026 - Menemukan Karya Tuhan
Bacaan ayat: Hakim-hakim 14:4 (TB) Tetapi ayahnya dan ibunya tidak tahu bahwa hal itu dari pada TUHAN asalnya: sebab memang Simson harus mencari gara-gara terhadap orang Filistin. Karena pada masa itu orang Filistin menguasai orang Israel.
Oleh Pdt Feri Nugroho
Budaya modern telah menciptakan alur pikir yang tertata sangat baik. Dibuatnya standar sistematika menciptakan alur pikir yang memungkinkan seseorang memahami segala sesuatu lebih mudah.
Pendidikan formal dibuat. Kurikulum diciptakan seturut dengan tumbuh kembang nara didik.
Tidak mungkin anak Taman Kanak-kanak diajarkan hukum fisika. "Dimulai dari nol ya...", demikian sambutan petugas SPBU, maka pendidikan pun bermula pada titik yang sama, titik nol dan bergerak sesuatu deret hitung.
Perlahan dibimbing sedemikian rupa agar tertata apik dalam sistematika yang indah. Tercipta standar baik dan jahat dalam perilaku.
Ada kelompok perilaku masuk kategori baik; ada pula perilaku masuk kategori jahat. Masing-masing dipelajari; yang baik untuk dilakukan sementara yang jahat akan ditinggalkan.
Hingga suatu saat seseorang bisa jadi berada di persimpangan. Ia harus memilih dalam standar yang berbeda. Disitulah konsekuensi logis akan menyertai.
Simson tertarik pada seorang gadis Filistin di Timna. Gadis itu bukan dari bangsanya. Sementara aturan diberlakukan bahwa ada larangan untuk menikah dengan perempuan dari bangsa lain.
Aturan ini menjadi benteng pertama agar umat Tuhan tetap hidup dalam kesetiaan. Hal ini didasarkan pada fakta lapangan bahwa setiap bangsa memiliki sesembahan masing-masing.
Itu sebabnya pernikahan berpotensi besar untuk beralih sesembahan.
Ini ketidaksetiaan kepada Tuhan. Kecenderungan untuk meninggalkan Tuhan dan beralih pada tuhan yang lain sangat besar.
Simson tahu itu. Bahkan orangtuanyapun melarang. Sayangnya cinta telah membutakan Simson. Ia telah dikendalikan oleh cinta sehingga bersikeras untuk menikah dengan gadis pilihannya, meskipun berasal dari bangsa lain, yaitu Filistin.
Dan benar saja, teka-tekinya terbongkar karena rengekan sang istri yang mendapatkan ancaman dari orang-orang yang tidak bisa menjawab teka-tekinya. Peristiwa ini memicu kemarahan Simson sehingga ia memusuhi orang Filistin.
Menariknya, ada sesuatu yang sedang terjadi dikedalam peristiwa, yang biasanya baru ketahuan setelah peristiwanya terjadi. "Tetapi ayahnya dan ibunya tidak tahu bahwa hal itu dari pada TUHAN asalnya: sebab memang Simson harus mencari gara-gara terhadap orang Filistin. Karena pada masa itu orang Filistin menguasai orang Israel."
Dibalik peristiwa biasa, percintaan Simson dengan gadis Filistin di Timna, ternyata ada Aktor Agung yang sedang mereka-rekakan sesuatu. Sang Aktor Agung hendaklah menampilkan Simson sebagai tokoh yang akan membebaskan umat-Nya dari penindasan Bangsa Filistin.
Dialah Allah, Sang Aktor Agung Pencipta langit dan bumi. Ia merancang sesuatu dalam peristiwa alamiah, yaitu rasa cinta Simson, untuk sesuatu yang lebih besar di kemudian hari.
Dalam prosesnya ada cinta, ada pelanggaran hukum, ada teka-teki, ada rayuan, ada ancaman, bahkan ada amarah yang memuncak sehingga muncul dalam sikap anarkhi melalui pembakaran ladang.
Menariknya, bahwa semua tetap dalam kendali Allah. Allah tetap tampil sebagai Allah yang berotoritas dalam segala hal.
Tidak mudah menemukan karya Tuhan di tengah hiruk-pikuk nya dunia. Bahkan Yesus sendiri harus di cap sebagai penyesat oleh ahli Taurat dan para imam.
Seakan lambat namun pasti bahwa semua tersingkap. Sering hanya diperlukan pikiran dan sikap terbuka pada karya yang lebih besar.
Kerendahan hati sangat diperlukan sebab kerendahan hati akan menjadi pondasi bahwa ada karya Tuhan dinyatakan dalam segala perkara. Terus temukan karya-Nya dalam kehidupan. Amin.
Renungan Kristen oleh Pdt Feri Nugroho, GKSBS Siloam Palembang