MANGGAR, BABEL NEWS - Pemerintah Kabupaten Belitung Timur mencatat persentase cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) per tahun 2025 di wilayahnya, untuk anak di bawah 12 tahun berada di angka 87,7 persen. Jumlah ini masih di bawah target nasional di angka 90 persen.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Belitung Timur, Supardi mengatakan, penyebab dari hal tersebut adalah berbedanya data antara di lapangan dan yang sampai ke dinas. "Kendala kawan-kawan di lapangan itu banyak. Kadang target di desa ditentukan 30 bayi, tapi setelah disisir petugas Puskesmas, ternyata riilnya cuma ada 25 anak," ujar Supardi saat ditemui dalam seremonial Pekan Imunisasi Dunia (PID) tingkat Kabupaten Belitung Timur, di Auditorium Zahari MZ, Desa Padang, Manggar pada Rabu (6/5).
Perbedaan data antara Kementerian, BPS, Dukcapil, hingga data program ini seringkali membuat para petugas di lapangan harus bekerja lebih. Supardi juga membeberkan alasan lain di mana tantangan terbesar justru datang dari keraguan orang tua. Masih ada sebagian ibu yang menganggap imunisasi tidak terlalu penting untuk diberikan pada buah hati mereka.
Supardi mengatakan, di beberapa daerah tertentu bahkan masih ditemui penolakan secara terang-terangan. "Ada yang merasa untuk apa diberikan imunisasi, kan anaknya sehat-sehat saja. Padahal, imunisasi adalah tameng sebelum penyakit itu datang," ucapnya.
Masalah keterbatasan sumber daya manusia kesehatan (SDMK) juga menjadi tantangan lain. Seringkali petugas imunisasi di Puskesmas harus bertarung sendiri karena merangkap kerjaan lainnya.
Supardi berharap, momentum PID 2026 ini bisa menyadarkan orang tua untuk tepat waktu memberikan imunisasi pada anak mereka. Manfaat vaksin akan maksimal jika diberikan sesuai jadwal yang tertera di buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan grafik Kartu Menuju Sehat (KMS).
Bagi anak-anak yang sudah terlanjur lewat jadwal, Supardi menjelaskan pelayanan tetap bisa dilakukan. Diakuinya, imunisasi kejar bisa dilakukan hingga anak menginjak usia 12 tahun. "Kalau dicek di KMS-nya ternyata campak atau DPT-nya masih kurang, ayo segera penuhi. Jangan tunggu sakit dulu baru menyesal," ungkapnya.
Wakil Bupati Belitung Timur, Khairil Anwar mengklarifikasi tentang anggapan imunisasi memberikan dampak buruk bagi kesehatan anak merupakan kekeliruan yang harus diluruskan. "Jangan mendengar kata emak-emak yang lain bahwa begitu anak disuntik, sakit. Nah, itu menandakan bahwa imunisasi itu berjalan dengan baik dan lancar. Itulah salah satu buktinya," ujar Khairil Anwar.
Ia menjelaskan, efek samping yang muncul seperti tubuh panas merupakan bagian dari proses penguatan kekebalan imun tubuh anak. Ia meminta para orang tua tidak perlu cemas karena setiap vaksin yang diberikan telah melalui uji klinis yang ketat. "Imunisasi itu sudah uji klinis dan aman untuk digunakan. Insya Allah itu halal, jadi tidak perlu ada keraguan lagi," ucapnya.
Khairil Anwar mengungkapkan, capaian imunisasi di Kabupaten Belitung Timur saat ini masih variatif. Ada beberapa wilayah atau Puskesmas yang sudah mencapai target nasional, namun masih ada yang berada di bawah angka tersebut.
Khairil menilai pencapaian target nasional sebesar 90 persen tidak akan pernah berhasil jika Dinas Kesehatan hanya bekerja sendirian tanpa dukungan dari masyarakat. "Kita tidak bisa kerja sendiri. Harus ada kolaborasi antara petugas dengan warga masyarakat, terutama para ibu yang punya bayi. Tanpa itu, target tidak bisa tercapai," ungkapnya. (z1)
Gandeng Perusahaan Swasta
PEMERINTAH Kabupaten Belitung Timur melakukan langkah strategis dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara pemerintah daerah bersama sektor swasta, termasuk perusahaan perkebunan sawit seperti PT SMM.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Belitung Timur, Supardi menjelaskan, kolaborasi ini bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi orang tua yang bekerja di sektor industri dan perkebunan.
"Kami menggandeng pihak perusahaan agar mereka memberikan dispensasi bagi karyawan yang memiliki anak. Tujuannya agar orang tua bisa membawa anaknya ke layanan kesehatan tepat pada jadwalnya," ujar Supardi.
Supardi mengatakan, kendala utama yang sering ditemui di lapangan adalah ketidaksesuaian jadwal kerja orang tua dan jadwal pelayanan posyandu. Hal ini seringkali mengakibatkan anak terlambat mendapatkan imunisasi.
Dinas Kesehatan Belitung Timur juga akan memperluas titik pelayanan imunisasi. Ke depannya, pemberian vaksin tidak lagi hanya terpusat di posyandu atau puskesmas saja.
Ia menjelaskan, klinik kesehatan milik perusahaan, seperti PT SMM dan PT SWP akan dikembangkan sebagai mitra resmi dalam memberikan layanan imunisasi kepada anak-anak karyawan maupun masyarakat sekitar. "Dengan adanya layanan di klinik perusahaan, orang tua tidak perlu lagi menunggu jadwal bulanan di posyandu," ucapnya. (z1)