Momen Chivu Rendah Hati, Beri Panggung untuk Pahlawan Tersembunyi Scudetto Inter Milan
Cornel Dimas Satrio May 06, 2026 07:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM - Momen Cristian Chivu rendah hati, beri panggung untuk para pahlawan tersembunyi, mereka yang tak terlihat di balik kesuksesan Inter Milan meraih Scudetto.

Keberhasilan Inter Milan merebut gelar juara Liga Italia Serie A 2025/2026 tak bisa dilepaskan dari magis Cristian Chivu.

Sempat diragukan dan dikritik karena datang ke Appiano Gentile dengan modal 13 giornata bersama tim medioker Parma, Chivu perlahan membuktikan kualitasnya.

Allenatore asal Rumania itu berhasil mengubah wajah Nerazzurri warisan Simone Inzaghi dengan permainan agresif dan dominan.

Kemenangan atas Parma di Meazza akhir pekan lalu menjadi klimaks pembuktian Cristian Chivu di tahun pertamanya menukangi Inter Milan, Senin (4/5/2026).

Gelar Scudetto ke-21 Inter Milan diraih dengan sangat pantas, 26 kemenangan dan 4 imbang dari 35 pertandingan, serta mencetak 82 gol ke gawang lawan. Jumlah Gol yang dicetak Lautaro Martinez dkk bahkan jauh lebih banyak dari AC Milan, Napoli, dan Juventus. 

Chivu memang brilian dalam meramu taktik dan menumbuhkan mental anak asuhnya, namun ia enggan menonjolkan dirinya sendiri.

05052026 Inter Milan Scudetto ke-21 01
INTER SCUDETTO - Selebrasi para pemain Inter Milan saat meraih Scudetto ke-21 setelah mengalahkan Parma 2-0 pada giornata 35 Liga Italia Serie A musim 2025/2026, di Stadion Giuseppe Meazza, Senin (4/5/2026).

Baca juga: Kalimat Menyentuh Chivu Jelang Debut Bersama Inter Milan, Pelecut Semangat Pemain Nerazzurri

Pria berusia 45 tahun itu malah memberikan panggung kepada para pahlawan tersembunyi di balik perjalanan Inter Milan musim ini.

Momen ini tersaji seusai Inter Milan mengalahkan Parma, Chivu meminta para staf kepelatihan mengambil alih sesi konferensi pers di hadapan awak media.

"Hari ini saya tidak akan berbicara, melainkan saya membiarkan staf hebat saya yang berbicara. Dan saya harap kalian semua ikut bergabung dengan saya untuk bertepuk tangan bagi mereka atas pekerjaan hebat mereka," ungkap Chivu yang tak mau duduk di bangku konferensi pers.

Mantan bek Inter Milan, AS Roma, dan Ajax itu kemudian meninggalkan ruangan diiringi riuh tepuk tangan. Simak momen tersebut pada link berikut:

LINK 1 <<<<<

LINK 2 <<<<<

Chivu seolah tak membutuhkan lagi banyak pujian, sebab ia sudah merasakan sensasi Scudetto tiga kali sebagai pemain saat masih bersama Nerazzurri.

Bagi Cristian Chivu, ini adalah Scudetto luar biasa yang berasal dari kerja keras Aleksandar Kolarov, Mario Cecchi, Angelo Palombo, Stefano Rapetti, Maurizio Fanchini, Gianluca Spinelli, Paolo Orlandoni, Matteo Tagliacarne.

Mereka adalah staf pelatih yang mendampingi Cristian Chivu di Inter Milan musim ini.

Aleksander Kolarov menyebut kehadiran Chivu telah memberikan angin segar bagi Inter Milan yang musim lalu hancur lebur tanpa gelar.

"Setiap kali ada pergantian (pelatih), selalu ada suasana baru. Kami mencoba bekerja dengan baik dan menawarkan beberapa ide baru tanpa menghapus pondasi yang sudah ada. Sejak pertandingan pertama, kami semua percaya bahwa hari seperti ini akan tiba," ungkap Kolarov.

Peran Penting Pahlawan Tersembunyi

1. Aleksandar Kolarov

Di bangku cadangan, Aleksander Kolarov berperan sebagai asisten pelatih yang menerjemahkan pikiran Cristian Chivu ke para pemain Inter Milan.

Pengalamannya meraih Scudetto pada era Covid sebagai pemain Inter Milan, menjadi sebuah keuntungan tersendiri dalam mengenal tim ini.

"Kami percaya pada proses dan selalu berusaha menang dengan bermain cantik," ujar Kolarov.

Tak hanya itu, sepanjang kariernya Kolarov dikenal sebagai sosok pemain yang tegas dan garang. Mentalitas itu yang membuat lawan-lawannya gemetar ketika berduel di lapangan.

Bahkan Zlatan Ibrahimovic pernah dibuat sial saat Derby della Madonnina akibat terprovokasi dengan aksi Kolarov.

Kepribadiannya itu sangat penting untuk menjaga para pemain muda Inter Milan seperti Pio Esposito, Petar Sucic, Andy Diouf, dan Bonny agar tak gemetar menghadapi duel dan provokasi lawan.

2. Angelo Palombo

Kemudian ada Angelo Palombo, mantan gelandang Sampdoria dan Inter Milan yang ikut bergabung di tim kepelatihan Chivu.

Pria asal Italia ini adalah sosok kunci di balik kekuatan Inter Milan memanfaatkan bola mati.

Dari total 82 gol yang dicetak Nerazzurri, 26 gol tercipta dari situasi bola mati. Termasuk 17 gol yang lahir dari skema tendangan sudut.

Semua ini berkat kejelian Angelo Palombo yang memanfaatkan kualitas para pemain Inter Milan.

Bahkan Cristian Chivu beberapa kali memuji kinerja Palombo soal analisa ini.

"Sebenarnya rahasianya adalah kami memiliki penendang dan pelompat yang kuat. Kami hanya memanfaatkan karakteristik tersebut tanpa perlu menciptakan penemuan yang aneh-aneh. Para pemainlah yang melakukan semuanya di lapangan," kata Palombo seraya merendah.

3. Mario Cecchi

Sosok lain yang tak kalah penting di bangku cadangan adalah Mario Cecchi.

Pria Italia ini bergabung di kepelatihan Inter Milan selaku pelatih teknis sejak masuknya Simone Inzaghi.

Namun saat Inzaghi pergi ke Arab Saudi, Mario Cecchi memilih bertahan di Inter Milan.

Kehadiran Cecchi sangat membantu Chivu, mengingat ia sudah sangat mengenal sebagian besar karakter dan kemampuan para pemain Nerazzurri.

"Saya menghabiskan sembilan tahun bersama Simone Inzaghi sebelum dia mengambil pilihan (karier) yang berbeda. Saya berterima kasih kepada klub yang mengizinkan saya bertahan dan juga kepada Chivu. Saya mengerahkan seluruh gairah dan kerja keras saya. Bagi saya, ini adalah kepuasan yang luar biasa," jelas Cecchi.

Sentuhan terbaik Cecchi adalah mengenal para pemain yang bisa mengubah jalannya pertandingan dari bangku cadangan.

Chivu selalu mendengarkan saran dari Cecchi mengenai pergantian pemain. Keputusan itu tepat, lantaran Inter Milan sanggup mencetak 13 gol hanya dari pemain pengganti.

Musim-musim sebelumnya, Cecchi berhasil melahirkan Davide Frattesi sebagai supersub penting di era Simone Inzaghi.

Musim ini, supersub Nerazzurri bisa lahir dari siapa saja, Henrikh Mkhitaryan, Ange-Yoan Bonny, Pio Esposito, dan Petar Sucic.

Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu mendampingi timnya dari bangku cadangan, pada pertandingan Liga Italia Serie A 2025/2026.
SCUDETTO PERDANA - Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu mendampingi timnya dari bangku cadangan, pada pertandingan Liga Italia Serie A 2025/2026. Ia berhasil meraih Scudetto perdana di musim debutnya bersama Nerazzurri, Senin (4/5/2026). (X/@SerieA_EN)

Baca juga: Hasil Liga Italia, Tumbangkan Mantan Klub, Chivu Bawa Inter Milan Scudetto

Chivu lepaskan Ego

Pelatih Nerazzurri ini merasa puas dengan Scudetto yang diraih timnya sebelum musim berakhir.

Kepuasan itu bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk seluruh elemen Inter Milan yang telah berjuang keras sepanjang musim ini.

Menurutnya, Scudetto ke-21 ini termasuk yang bersejarah lantaran didapat setelah momen buruk tahun lalu, serta awal musim yang penuh kritik dan bencana.

"Saya sudah menjadi bagian dari sejarah Inter bahkan sebelum Scudetto ini. Saya bahagia untuk para pemain, untuk klub, dan para penggemar, karena mereka harus menanggung narasi dan ejekan dari pihak-pihak yang selalu mencoba merendahkan kerja keras mereka," ungkapnya kepada Inter TV.

Keberhasilan ini semakin menegaskan Cristian Chivu sebagai pewaris Jose Mourinho, lantaran sama-sama memenangkan Scudetto di musim pertamanya di bangku kepelatihan Inter Milan.

Selain itu, Chivu juga mengikuti jejak Armando Castellazzi yang pernah mencatatkan prestasi serupa bersama Nerazzurri, yakni juara sebagai pemain lalu pelatih (1930 dan 1938).

Tetapi, ia tak larut dengan torehan sejarah dan banjir pujian itu. Chivu menganggap telah kehilangan egonya bersama Inter Milan sejak lama.

"Saya tidak membicarakan diri saya sendiri, secara manusiawi saya ini tipikal yang tidak lazim. Beberapa tahun lalu, saya harus berbicara dengan diri saya sendiri tentang masalah hidup dan mati (merujuk pada cedera kepala saat bermain), dan di sanalah saya kehilangan ego saya," ungkapnya.

Ia mendedikasikan gelar Scudetto ini untuk semua elemen Inter Milan yang telah bersama-sama melewati kepahitan, lalu bangkit menjadi juara.

"Tim ini sangat hebat dalam menyingsingkan lengan baju, bangkit kembali, dan menemukan motivasi yang tepat untuk menjalani musim yang kompetitif. Mereka berhasil, dan saya senang untuk mereka," pungkasnya.

(*)

(TribunKaltara.com/ Cornel Dimas Satrio K)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.