Macet dan Banjir di Tanah Tingal Ciputat, Pemkot Tangsel Ungkap Kewenangan Ada di Pemprov Banten
Feryanto Hadi May 06, 2026 08:35 PM

 

Laporan Wartawan TribunTangerang.com, Ikhwana Mutuah Mico

WARTAKOTALIVE.COM, CIPUTAT - Ruas Jalan Aria Putra di kawasan Tanah Tingal, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten beserta sistem drainasenya merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi Banten

Humas Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (Dinas SDABMBK Kota Tangerang Selatan), Kemal menyampaikan hal tersebut saat menanggapi kondisi genangan yang memicu kemacetan hingga banjir di kawasan itu pada Selasa (5/5/2026).

Ia mengatakan pihaknya telah meneruskan laporan kejadian tersebut kepada Unit Pelaksana Jalan dan Jembatan (UPJJ) Tangerang serta Dinas PUPR Provinsi Banten.

“Tanah Tingal Jalan Aria Putra merupakan jalan dan drainase milik Provinsi Banten. Kami sudah sampaikan kejadian genangan tersebut kepada UPJJ Tangerang, Dinas PUPR Provinsi Banten,” ujar Kemal kepada TribunTangerang.com, Rabu (6/5/2026).

Kemal menegaskan evaluasi maupun langkah penanganan lanjutan terhadap kondisi jalan dan drainase tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah provinsi.

“Untuk tindak lanjut bisa ditanyakan ke UPJJ, penanganan sepenuhnya sesuai kewenangan dari PUPR Provinsi,” tutupnya.

TribunTangerang.com mendatangi lokasi pertigaan Tanah Tingal, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, untuk melihat kondisi terkini pascakeluhan warga soal banjir dan kemacetan.

Menurut pantauan, terlihat adanya perbedaan kontur jalan di sekitar simpang tersebut.

Baca juga: Sindikat Live Streaming Seks hingga Judi Online Dibongkar di Jakarta dan Tangerang Selatan

Jika dilihat dari arah Bintaro menuju pertigaan, permukaan jalan tampak lebih rendah. Kondisi serupa juga terlihat dari arah Stasiun Sudimara, yang turut membentuk cekungan di area pertemuan arus lalu lintas.

Pada sisi drainase, tampak penutup saluran yang terdiri dari bebatuan berukuran besar. Namun, beberapa bagian terlihat sudah mengalami kerusakan, bahkan ada yang retak.

Di bagian tengah pertigaan, ditemukan pula area drainase yang tidak tertutup beton secara utuh. Sebidang tanah terlihat terbuka, memperlihatkan kondisi saluran yang tidak terkelola dengan baik.

Sementara itu, di pinggir jalan tepat di sekitar pertigaan, terdapat proyek pembangunan perumahan baru.

Sepanjang area proyek terlihat saluran drainase, meski sebagian kondisinya sudah retak dan tertutup tanah.

Selain itu, di atas saluran drainase juga tampak banyak sampah berserakan. Bahkan, ditemukan gulungan kabel yang dibiarkan begitu saja di area tersebut, yang turut memperburuk kondisi lingkungan dan berpotensi menghambat aliran air.

Desi Eliska, warga Ciputat menceritakan pengalamannya saat pulang dari Stasiun Sudimara Selasa malam

Ia mengaku tiba sekitar pukul 20.10 WIB dan langsung mendapati situasi jalanan yang sudah padat merayap.

“Nyampe stasiun sekitar jam 20.10, keluar stasiun udah terjadi penumpukan kendaraan,” ujar Desi kepada TribunTangerang.com, Rabu (6/5/2026).

Menurut dia, kondisi lalu lintas nyaris tidak bergerak. Mobil disebut hampir sepenuhnya terjebak, sementara sepeda motor masih bisa melintas meski harus berbagi ruang dengan pejalan kaki.

“Mobil hampir stuck sih. Kalau motor masih bisa lewat pinggir-pinggir, tapi itu pun harus gantian sama pejalan kaki,” kata Desi.

Situasi tersebut diperparah dengan lumpuhnya transportasi umum dan layanan ojek daring.

Ia mengaku kesulitan mendapatkan kendaraan untuk melanjutkan perjalanan ke rumahnya yang berada di sekitar Tanah Tingal.

“Karena ojol nggak ada yang mau ngambil dan angkot pun nggak gerak, jadi mutusin buat jalan kaki aja,” ucapnya.

Awalnya, ia hanya berniat berjalan sebentar untuk mencari alternatif transportasi di titik lain. Namun, kemacetan yang mengular membuatnya harus berjalan kaki lebih jauh dari yang direncanakan.

“Awalnya mau jalan dikit, siapa tahu di depan ada ojol yang mau ambil, tapi ternyata nggak ada dan macetnya sampai pertigaan Tanah Tingal,” tuturnya.

Ia menambahkan, arah menuju Serua menjadi titik kemacetan terparah, sementara jalur ke arah Prapatan Duren relatif lebih lancar.

Perjalanan yang biasanya hanya memakan waktu singkat berubah drastis. Ia memperkirakan harus berjalan kaki selama sekitar 25 menit untuk mencapai rumahnya.

“Kurang lebih 25 menit jalan kaki, yang normalnya kalau pakai motor cuma butuh waktu 5–7 menit,” ungkapnya.

Bahkan, rekannya yang melintas pada waktu lebih awal mengalami kondisi yang lebih parah. Perjalanan dengan jarak yang sama bisa memakan waktu hingga satu jam.

“Pas magrib, teman gua naik motor dengan arah dan jarak yang sama, itu sampai satu jam,” ujarnya.

Terkait banjir, ia menyebut kondisi di Tanah Tingal kini berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu.

Jika dulu genangan hanya terjadi saat hujan dengan intensitas sangat tinggi, kini banjir dinilai lebih mudah terjadi.

“Dulu sih Tanah Tingal nggak sering banjir, paling kalau intensitas hujannya lagi tinggi banget aja. Tapi sekarang kayaknya jadi lebih gampang banjir,” ungkap Desi.

Ia menduga ada sejumlah faktor yang menyebabkan kondisi tersebut semakin memburuk, mulai dari peningkatan jumlah kendaraan hingga pembangunan yang berdampak pada sistem drainase.

“Kayaknya sih banyak penyebab ya. Jumlah kendaraan makin banyak, jalanan sempit, gorong-gorong kesumbat karena pembangunan, akhirnya bikin banjir,” jelasnya.

Sebagai warga, Desi berharap ada perbaikan nyata dari sisi infrastruktur, khususnya drainase dan fasilitas pejalan kaki. Menurutnya, penanganan yang dilakukan selama ini belum memberikan hasil signifikan.

“Buat jangka pendek, drainase dibenerin deh, jangan cuma formalitas ngegali tiap beberapa bulan sekali tapi nggak ada hasil. Trotoar juga tolong dibanyakin dan dirapiin,” pungkasnya. (m30)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.