Ketegangan di kawasan Indo-Pasifik kembali menjadi sorotan.
Laporan terbaru menyebut peningkatan kemampuan rudal China dinilai mampu mengancam dominasi militer Amerika Serikat di laut.
Rudal jarak menengah yang dikembangkan Beijing disebut memiliki jangkauan hingga sekitar 1.330 kilometer, memungkinkan serangan presisi terhadap target strategis di kawasan.
Termasuk kapal perang bernilai tinggi seperti kapal induk.
Sistem ini dirancang untuk menembus pertahanan berlapis yang selama ini menjadi andalan armada laut AS.
Mengutip Tribunnews pada (6/5), kabar ini menurut ddesain teknis yang beredar pada akhir April 2026.
Menyebutkan bahwa rudal jelajah stealth (siluman) dioptimalkan bukan untuk kecepatan, melainkan untuk kemampuan bertahan hidup (survivability).
Para analis pertahanan mencatat bahwa jika rudal ini mulai dioperasikan, maka jet tempur Chengdu J-20 dan Shenyang J-35 milik China akan mampu menjalankan misi serangan maritim jarak jauh tanpa terdeteksi.
Kehadirannya secara otomatis memangkas waktu peringatan dini bagi pasukan angkatan laut AS.
Laporan menunjukkan rudal ini memiliki jangkauan hingga 1.330 km.
Jarak itu menempatkan aset angkatan laut AS dalam posisi terancam tanpa mengharuskan pesawat China memasuki wilayah udara yang dijaga ketat oleh sistem pertahanan lawan.
Seorang analis purnawirawan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) menyebut rudal ini unggul karena menggabungkan teknologi siluman dan jangkauan memadai.
Juga, dirancang untuk menghindari sistem pertahanan berlapis, bukan menembusnya secara langsung.
"Strategi ini dirancang untuk melewati sistem pertahanan alih-alih mencoba melumpuhkannya secara kinetik," ujarnya.
Meski belum dikonfirmasi resmi, spesifikasi rudal ini dinilai strategis karena dirancang mengeksploitasi kelemahan jet stealth Barat.
Mendukung serangan terdistribusi yang sulit dideteksi, serta memperkuat konsep kekuatan terintegrasi dan skalabel China.
Rudal jarak jauh pada pesawat siluman berpotensi menciptakan serangan masif yang memaksa AS meninjau ulang strategi kapal induk dan pertahanannya, meski belum ada kepastian uji coba atau produksi resmi.
Efektivitas rudal ini masih bergantung pada uji dan integrasi ke depan.
Namun desainnya yang ringkas memungkinkan dibawa secara internal oleh jet siluman seperti J-20 dan J-35 tanpa mengorbankan stealth.
Pendekatan ini menekankan serangan presisi dan kemampuan menghindari deteksi.
Mencerminkan strategi China untuk mengeksploitasi celah pertahanan Barat melalui teknologi siluman terintegrasi.