WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Kepolisian Daerah Metro Jaya melalui Polres Metro Jakarta Pusat mengungkap perkembangan penanganan kasus dugaan eksploitasi anak, perampasan kemerdekaan, dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di kawasan Bendungan Hilir, Tanah Abang.
Diketahui, peristiwa tragis yang menimpa dua asisten rumah tangga (ART) di kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026) malam.
Peristiwa yang terjadi pada Rabu (22/4/2026) itu mengakibatkan seorang anak berinisial D (18) meninggal dunia, sementara satu korban lainnya berinisial R (30) masih menjalani perawatan medis.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto menyampaikan, polisi telah menetapkan tiga tersangka berinisial AV, T alias U, dan WA alias Y.
Ketiganya kini telah ditahan di Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Metro Jakarta Pusat.
“Penyidik bergerak secara profesional dan cepat. Tersangka T dan WA telah ditahan sejak 29 April 2026, sementara tersangka AV menyusul ditahan pada 5 Mei 2026. Penahanan dilakukan guna kepentingan penyidikan lebih lanjut," kata Budi, dalam keterangannya, Rabu (6/5/2026).
Baca juga: Misteri Tewasnya ART usai Lompat dari Lantai 4 di Benhil, Polisi Dalami Dugaan Penyekapan dan TPPO
Dari hasil penyidikan, AV diduga mempekerjakan korban D sejak November 2025 hingga April 2026.
Sementara T dan WA diduga berperan dalam proses perekrutan korban sebagai pekerja rumah tangga.
Polisi telah mengamankan sejumlah barang bukti, antara lain dokumen korban, perangkat elektronik, rekaman DVR CCTV, serta hasil visum dan autopsi.
Penyidik juga berkoordinasi dengan P3A dan LPSK untuk memberikan pendampingan dan perlindungan kepada korban serta saksi.
Para tersangka dijerat dengan Pasal 446 KUHP, Pasal 455 KUHP, serta Pasal 76I jo Pasal 88 Undang-Undang Perlindungan Anak.
"Kami memastikan penanganan perkara ini dilakukan secara transparan dan tuntas. Para tersangka disangkakan dengan Pasal 446 KUHP, Pasal 455 KUHP, serta Pasal 76I jo Pasal 88 Undang-Undang Perlindungan Anak," tegas Kabid Humas.
Polda Metro Jaya menegaskan kasus ini akan ditangani secara transparan dan tuntas, serta mengimbau masyarakat agar waspada terhadap praktik eksploitasi dan TPPO, serta segera melapor melalui layanan 110 jika menemukan indikasi serupa.
Sementara itu, tersangka AV ternyata bernama Adriel Viari Purba yang diketahui merupakan pengacara.
Hal tersebut dibenarkan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Roby Heri Saputra.
"Iya (majikan tersangka dua PRT loncat di Benhil pengacara atas nama Adriel Viari Purba)," ujar Roby, saat dikonfirmasi, Rabu.
Kepolisian masih menyelidiki kasus dua asisten rumah tangga (ART) yang melompat dari lantai empat kosan di kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat.
Peristiwa tersebut diduga berkaitan dengan tindak pidana serius, termasuk penyekapan hingga perdagangan orang.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto mengatakan, proses penyelidikan masih berjalan.
Penyidik saat ini tengah mendalami berbagai kemungkinan pelanggaran hukum.
"Penyidik masih mendalami dugaan tindak pidana yang ada, dengan pasal yang diterapkan antara lain terkait penyekapan, tindak pidana perdagangan orang (TPPO), serta eksploitasi terhadap anak,” ujar Budi, dalam keterangannya, Senin (27/4/2026).
Adapun polisi telah mengamankan sejumlah barang bukti serta melakukan serangkaian pemeriksaan.
Langkah-langkah tersebut meliputi pengamanan rekaman kamera pengawas (CCTV), visum terhadap korban, hingga autopsi bagi korban yang meninggal dunia.
Selain itu, sebanyak sembilan orang saksi telah diperiksa, yang terdiri atas pemberi kerja, penjaga rumah, sopir, pihak penyalur, serta saksi lainnya, termasuk korban yang selamat.
Terkait informasi adanya pihak yang telah diamankan, Budi menyebut hal tersebut masih dalam proses pendalaman.
Baca juga: 2 ART Loncat dari Rumah Kos di Benhil Jakarta Pusat, Ketua RW: Tidak Pernah Lapor sebagai Pendatang
Kepolisian berjanji akan menyampaikan perkembangan lebih lanjut secara resmi seiring dengan berjalannya penyidikan.
"Sejauh ini, langkah yang sudah dilakukan antara lain pengamanan CCTV, visum, autopsi terhadap korban meninggal, serta pemeriksaan terhadap 9 orang saksi antara lain pemberi kerja, penjaga rumah, sopir, penyalur, dan saksi-saksi lainnya termasuk juga korban yang selamat," tutur dia.
Sebelumnya, kasus dua asisten rumah tangga (ART) yang melompat dari lantai empat kosan di kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat, kini ditangani tim gabungan Polres Metro Jakarta Pusat dan Ditreskrimum Polda Metro Jaya.
Adapun polisi tengah mendalami adanya dugaan tindak pidana dalam peristiwa tersebut.
Menurut Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imannuddin, penyelidikan masih berlangsung dengan fokus pada pengumpulan fakta.
“Kami sedang melakukan penyelidikan dugaan tindak pidana yang terjadi,” ujarnya, dikutip Sabtu (25/4/2026).
Peristiwa itu mengakibatkan satu orang berinisial D (18) meninggal dunia.
Sedangkan satu korban lainnya berinisial R (30) mengalami luka serius.
Korban D mengembuskan napas terakhir saat menjalani perawatan di RS Mintohardjo pada Kamis (23/4/2026).
Baca juga: Polisi Dalami Dugaan Pidana Kasus 2 ART Lompat dari Lantai 4 di Benhil, Satu Korban Tewas
Sedangkan R masih menjalani perawatan akibat mengalami patah pada bagian lengan.
Sebelumnya, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra menyebut, dugaan awal kedua korban nekat melompat karena tidak betah bekerja di tempat majikan.
“Informasi sementara, orang itu katanya enggak betah,” katanya, Kamis (23/4/2026).
Polisi memperoleh keterangan awal dari korban selamat dan ART lain yang menyebut majikan bersikap galak.
Namun, penyidik masih mendalami keterangan tersebut dan belum dapat menyimpulkan adanya unsur kekerasan.
“Sadis itu enggak tahu ya gimana kata-katanya ya. Enggak ngomong suka disiksa, tapi galak. Iya, galak, galak. Begitulah, sadis lah, galak. Nah itu kan bisa saja dengan omongan, bisa saja dengan tindakan. Kita juga belum tahu karena belum selesai pemeriksaan," tandas dia.
Ketua RW: Tidak Pernah Lapor sebagai Pendatang
Ketua RW 02 Kelurahan Bendungan Hilir, Syahruddin, tidak mengenal kedua korban sebelum kejadian tersebut.
Ia menyebut, keduanya juga tidak pernah melapor sebagai pendatang baru ke lingkungan setempat.
"Sebelum kejadian, saya belum pernah bertemu kedua ART tersebut, mereka juga tidak melapor ke RW (sebagai pendatang baru)," kata Syahruddin saat dikonfirmasi Wartakotalive.com, Sabtu (25/4/2026).
Baca juga: Peristiwa Tragis di Benhil Jakarta Pusat, 2 ART Loncat dari Kos hingga Jatuh Bersama Barang Bawaan
Warga sekitar tempat kejadian, Rahma (55), mengatakan, kedua ART ditemukan sudah tergeletak di dekat rumah tembok kos, bersama sejumlah barang bawaan.
"Di dekat got ada tas, barang-barang mereka, HP (korban) enggak punya, KTP enggak ada," kata Rahma saat ditemui Wartakotalive.com, Jumat (24/4/2026).
Peristiwa itu terjadi saat Rahma hendak beristirahat.
Ia dikejutkan suara ketukan pintu dari tetangganya yang mengabarkan adanya orang jatuh.
Baca juga: 2 ART Perempuan Terjun dari Lantai 4 Rumah Kos di Benhil Jakarta Pusat, Diduga Kabur dari Majikan
Saat keluar rumah, Rahma melihat dua perempuan sudah tergeletak di lokasi yang berjarak sekitar 10 langkah dari rumahnya.
"Posisinya sudah tergeletak dengan barang-barang jatuh dari lantai 4," ucap Rahma.
Menurut Rahma, saat pertama ditemukan, kedua korban masih dalam kondisi hidup.
Salah satu korban, R, masih bisa merespons meski dalam kondisi kesakitan.
Baca juga: Soroti Kasus ART Kabur di Benhil, Kriminolog: Bukti Lemahnya Perlindungan PRT
R sempat mengaku bekerja sebagai ART.
Warga sempat memeriksa tas milik korban yang berada di dekat saluran air untuk mencari identitas, namun tidak ditemukan kartu identitas maupun telepon genggam.
Diketahui, korban R berasal dari Brebes, Jawa Tengah, dan baru bekerja sekitar satu minggu, sementara korban D berasal dari Batang, Jawa Tengah, dan telah bekerja selama tiga bulan.
Penjaga kos langsung menghubungi ambulans dan warga melaporkan ke pihak kepolisian.
Peristiwa tersebut meninggalkan trauma bagi Rahma yang masih terbayang kejadian memilukan itu.