Sekolah Ungkap Fakta Kematian Siswa SMK yang Diduga karena Sepatu Kekecilan
Kiki Novilia May 06, 2026 08:44 PM

Tribunlampung.co.id, Samarinda - Pihak SMK 4 Samarinda, Kalimantan Timur, buka suara setelah siswanya meninggal dunia diduga infeksi karena memakai sepatu yang kekecilan. 

Siswa tersebut bernama Mandala Rizky Syahputra (16), ia berasal dari keluarga tidak mampu. Karena itu, pihak sekolah telah memberikan bantuan seperti perlengkapan sekolah, sembako, bahkan sampai uang sewa kontrakan.

Namun, belakangan ramai isu yang beredar Mandala meninggal karena harus mengenakan sepatu kekecilan yang membuat kakinya terluka. 

Kabar terbaru, pihak sekolah SMKN 4 Samarinda sudah menanggapi soal meninggalnya Mandala lewat keterangan tertulis yang diunggah pada Senin (4/6/2026) kemarin di Instagram.

Dalam postingan tersebut dibeberkan secara lengkap kronologi meninggalnya Mandala. Melansir dari Tribunnews, berikut unggahan Instagram @smkn4_samarinda, Rabu (6/5/2026):

Baca juga: Sepatu Siswa Sekolah Rakyat Rp700 Ribu Per Pasang, Mensos Bantah Adanya Kongkalikong

Kronologi Lengkap

Sekolah bekerja sama dengan mitra industri menyelenggarakan Praktik Kerja Pra PKL bagi jurusan Pemasaran.

Pembekalan dilaksanakan pada Minggu, 8 Februari 2026 dan pelaksanaan dimulai pada Senin, 9 Februari 2026 sampai 20 Maret 2026. Mandala adalah salah satu siswa yang sangat antusias.

14 Maret 2026

Di akhir Ramadhan, sekolah menyalurkan zakat sebesar Rp 200.000 kepada Mandala. Zakat diambil oleh perwakilan kakak Mandala. Pembagian zakat merupakan program rutin tahunan sekolah sebagai bentuk kepedulian kepada siswa yang membutuhkan.

30-31 Maret 2026

Mandala masih hadir ke sekolah mengikuti pembelajaran.

1 April 2026

Mandala hadir, tapi wajahnya pucat. Guru PKn langsung menyarankannya untuk beristirahat di rumah karena kondisi fisiknya sudah tak memungkinkan.

2 April 2026 

Mandala izin sakit tidak mengikuti pembelajaran. 

9 April 2026

Mandala izin sakit tidak dapat mengikuti pembelajaran, disampaikan melalui WhatsApp ke wali kelas.

10 April 2026

Ibu Mandala datang meminta bantuan uang Rp1.100.000 untuk biaya pengobatan non-medis (dimandikan di Tenggarong). Sekolah segera memberikannya dari kas masjid sekolah.

Pihak sekolah juga menyarankan agar Mandala diperiksakan ke layanan kesehatan agar diketahui penyakitnya secara medis.

Beberapa hari kemudian Ibunya Mandala datang meminta bantuan lagi dengan alasan yang sama.

13-15 April 2026

Ada pelaksanaan USK program keahlian MPLB (Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis) pada tanggal 13-14 April 2026 dan konsentrasi keahlian Akuntansi pada hari Rabu 15 April 2026 sehingga pembelajaran untuk kelas X dan XI dilakukan secara daring.

16-17 April 2026

Mandala kembali izin sakit tidak mengikuti pembelajaran di sekolah, surat izin dikirimkan melalui WhatsApp kepada wali kelas.

20 April 2026

Mandala mengirim foto kakinya yang mulai bengkak ke wali kelas. Ia kembali meminta bantuan dana dan mencantumkan nomor rekening.

21 April 2026

Wali kelas, Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan (yang merupakan wali kelas Mandala di Kelas X dahulu), dan dua teman sekelas langsung berkunjung ke rumah Mandala. 

Mereka ingin memastikan kondisi aslinya. Dari kunjungan tersebut ditemukan:

Mandala terlihat lemah, suara kecil dan pelan, jalannya lambat, serta tangannya gemetar. Keluarga punya BPJS, tapi tidak aktif karena tunggakan.

Sekolah membantu mengurus pengaktifan namun terkendala administrasi kependudukan.

22 April 2026

Mandala mengabarkan bahwa kaki bengkaknya mulai kempes. Semua lega, mengira kondisi kesehatan mulai membaik.

23 April 2026

Wali kelas dan teman-teman kembali berkunjung. Kali ini mereka membawa bantuan uang tunai sekitar Rp650.000, roti, dan susu. 

Saat kunjungan ini, Ibu Mandala baru menyampaikan bahwa sepatu anaknya sudah tak muat dipakai. 

Mandala pernah mengeluh soal itu kepada ibunya, tapi ibunya sendiri mengakui bahwa ia melarang Mandala bercerita ke sekolah atau teman- teman. 

"Jangan sampai orang tahu kita kesusahan," pesan itu yang sering disampaikan Ibunya kepada Mandala.

Mendengar itu, wali kelas segera bergerak. Ia berkoordinasi dengan teman sekelas untuk membelikan sepatu baru.

Rencana bantuan pun disusun. Selain sepatu, wali kelas bersama teman-temannya di sekolah juga berencana membawa Mandala ke puskesmas untuk diinfus pada hari Jumat sambil menunggu pengaktifan BPJS.

24 April 2026

Sebelum semua rencana bantuan itu terlaksana, kabar duka datang. Jumat dinihari kakak Mandala mengabarkan melalui WhatsApp kepada Wali Kelas dan Waka Kesiswaan bahwa Mandala telah meninggal dunia.

Melihat keterbatasan ekonomi keluarga, sekolah turun tangan penuh dalam proses fardu kifayah yakni menanggung biaya pemandian, pengkafanan, dan penguburan, menyediakan ambulans, menyalatkan jenazah Mandala di sekolah, dihadiri guru dan teman-teman.

Siswa dan guru pun berdonasi untuk pihak keluarga Mandala. Donasi diserahkan setelah penguburan Mandala

Sekolah Membantah karena Sepatu

Pihak SMKN 4 Samarinda menegaskan hingga saat ini, belum bisa dipastikan penyebab kematian siswa malang tersebut.

"Sepatu bukan penyebab kematian. Tanpa ada diagnosa medis yang lengkap, maka sepatu tidak dapat disebut sebagai penyebab kematian karena belum terbukti. Tidak ditemukan luka pada bagian kaki baik di tumit ataupun jari-jari kaki. Kaki membengkak di bagian punggung," jelas dalam keterangan tersebut.

Fakta lain terungkap, Ibu Mandala sendiri mengakui bahwa beliau melarang anaknya bercerita tentang kesulitan keluarga kepada sekolah atau teman-teman. 

Mandala sebenarnya pernah mengeluh soal sepatu kepada ibunya, tetapi informasi itu tidak segera diteruskan ke sekolah. 

Sekolah baru mengetahui hal ini pada kunjungan kedua di hari Kamis, 23 April 2026.

Setiap kali ibu atau Mandala meminta bantuan, sekolah segera merespons. memberikan bantuan uang, menyalurkan zakat, berusaha untuk membantu mengaktifkan BPJS, melakukan kunjungan rumah, memberikan bantuan tunai dan makanan, hingga merencanakan pembelian sepatu dan bantuan medis.

Berdasarkan keterangan kakak dan ibunya, Mandala ternyata tidak pernah diperiksakan ke dokter atau fasilitas kesehatan lainnya, sehingga penyebab pasti meninggalnya tidak diketahui secara medis. 

Ibu Mandala hanya mengoleskan minyak angin roll-on pada bengkak di kaki Mandala dan memberinya vitamin penambah darah karena berasumsi Mandala mengalami kurang darah. 

"Adapun keterangan mengenai sakit yang disampaikan ke pihak sekolah bersifat non-medis. pun tidak benar. Ini baru diketahui pihak sekolah berdasarkan pengakuan Ibu Mandala saat kunjungan pada Jumat, 1 Mei 2026," lanjut SMKN 4 Samarinda.

Terlepas dari kejadian ini, pihak sekolah turut prihatin atas kejadian yang menimpa Mandala. Diharapkan ada pelajaran yang bisa dipetik sehingga tidak terulang kejadian sama di kemudian hari.

"Segenap keluarga besar SMK 4 turut berduka cita atas berpulangnya Mandala Rizky Syaputra, siswa kelas XI Pemasaran 2 yang kami cintai."

"Agar tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat, kami ingin berbagi cerita kronologis kejadian ini dengan hati yang terbuka. Bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk mengenang dan memetik pelajaran bersama," tegas SMKN 4 Samarinda.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.