BANGKAPOS.COM--Pemerintah Amerika Serikat menyatakan operasi militernya terhadap Iran telah rampung dan mencapai target utama.
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam konferensi pers di Gedung Putih, Selasa (5/5/2026).
Rubio menegaskan bahwa operasi yang diberi nama “Operation Epic Fury” telah berakhir sesuai rencana.
“Operasi sudah selesai. Kami mencapai tujuan utama dan tidak mengharapkan eskalasi tambahan. Kami lebih memilih jalur damai. Presiden menginginkan sebuah kesepakatan,” ujarnya.
Konferensi pers tersebut tergolong tidak biasa karena Rubio tampil menggantikan Sekretaris Pers Gedung Putih yang sedang cuti.
Meski operasi utama telah dihentikan, AS kini meluncurkan misi lanjutan berskala lebih kecil bernama “Project Freedom”.
Operasi ini difokuskan pada pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu titik vital distribusi energi global.
Rubio menekankan bahwa misi ini bersifat defensif.
“Kami tidak akan melakukan tindakan militer kecuali jika diserang lebih dulu,” katanya.
Selat Hormuz diketahui menjadi jalur penting bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Gangguan di wilayah ini berdampak langsung pada stabilitas energi global.
Pernyataan berakhirnya operasi militer ini juga dinilai sebagai langkah pemerintah untuk meredam kritik dari Kongres AS.
Sejumlah anggota legislatif menilai Presiden Donald Trump melanggar ketentuan dalam War Powers Resolution.
Aturan tersebut membatasi penggunaan kekuatan militer oleh presiden tanpa persetujuan Kongres maksimal selama 60 hari.
Konflik dengan Iran sendiri dimulai sejak akhir Februari 2026 melalui serangan udara yang melibatkan AS dan sekutunya.
Batas waktu 60 hari berakhir pada 1 Mei 2026, yang kemudian direspons dengan pengumuman resmi berakhirnya operasi.
Di tengah klaim keberhasilan operasi, Rubio juga mengungkap dampak kemanusiaan yang cukup serius akibat konflik di kawasan Teluk.
Ia menyebut sekitar 23.000 orang dari 87 negara terjebak di kapal-kapal yang tertahan di sekitar Selat Hormuz.
“Mereka terisolasi, kelaparan, dan rentan. Setidaknya 10 pelaut sipil dilaporkan meninggal,” ungkapnya.
Situasi ini memperlihatkan bahwa meskipun operasi militer dihentikan, dampak konflik masih dirasakan oleh masyarakat sipil, terutama di jalur perdagangan laut.
Meski mengklaim keberhasilan operasional, pemerintah AS mengakui bahwa target utama terkait program nuklir Iran belum sepenuhnya tercapai.
Hingga kini, Iran disebut masih menyimpan lebih dari 400 kilogram uranium yang diperkaya tinggi.
Hal ini menjadi fokus utama dalam proses negosiasi yang sedang berlangsung.
Rubio menyebut dua utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, terus mengupayakan solusi diplomatik dengan Teheran.
“Kesepakatan tidak hanya soal pengayaan uranium, tetapi juga terkait material yang masih tersimpan dan berpotensi digunakan kembali,” jelasnya.
Pemerintah AS menegaskan bahwa langkah ke depan akan lebih mengedepankan jalur diplomasi dibandingkan konfrontasi militer.
Rubio menilai proses negosiasi dengan Iran sangat kompleks dan membutuhkan waktu.
Namun, ia optimistis kesepakatan tetap dapat dicapai jika kedua pihak menunjukkan komitmen.
“Ini proses yang teknis dan rumit, tapi kami membutuhkan solusi diplomatik yang jelas,” pungkasnya.
Dengan berakhirnya operasi militer utama, perhatian dunia kini tertuju pada keberhasilan diplomasi dalam meredakan ketegangan di Timur Tengah sekaligus menjaga stabilitas energi global.(*)
Sumber : Kompas.com