Kasus Lompat di JMP Ambon Meningkat, Psikolog: Banyak Laki-laki Menyimpan Beban Hidup Sendirian
Ode Alfin Risanto May 06, 2026 08:52 PM

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Jenderal Louis

AMBON, TRIBUNAMBON.COM – Psikolog Herbethz Pattiruhu menilai banyak laki-laki cenderung menyimpan beban hidup sendirian karena tuntutan sosial untuk selalu terlihat kuat.

Fenomena itu, menurutnya, menjadi salah satu faktor yang membuat laki-laki lebih rentan memendam tekanan emosional tanpa mencari bantuan atau bercerita kepada orang lain.

“Ketika ada masalah, emosi dan perasaan yang seharusnya dikeluarkan justru dipendam,” kata Herbethz kepada TribunAmbon.com, Rabu (6/5/2026).

Ia menjelaskan, secara psikososial perempuan umumnya lebih diterima ketika mengekspresikan kesedihan atau tekanan emosional.

Baca juga: Pemprov Maluku Temui Kemendagri, Dorong Terus Integrasi Data Daerah

Baca juga: Tim Gabungan Imigrasi Maluku Amankan 24 WNA China di Kawasan Gunung Botak

Sementara laki-laki sering merasa harus menahan perasaan agar tidak dianggap lemah.

“Perempuan biasanya lebih mudah mengekspresikan emosi, sementara laki-laki sering dituntut terlihat kuat,” ujarnya.

Herbethz mengatakan kondisi tersebut dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental apabila tekanan hidup terus dipendam tanpa adanya dukungan emosional maupun ruang bercerita.

Menurut dia, tindakan berbahaya terhadap diri sendiri umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi berbagai persoalan psikologis dan sosial yang berlangsung cukup lama.

“Orang yang mengambil tindakan berbahaya terhadap dirinya sendiri biasanya tidak terjadi begitu saja,” katanya.

“Tidak mungkin hanya karena satu masalah lalu langsung mengambil tindakan ekstrem. Biasanya ada faktor-faktor lain yang menumpuk di belakangnya,” sambung Herbethz.

Ia menjelaskan seseorang yang pernah mengalami tekanan emosional berat, memiliki pikiran negatif berkepanjangan, atau minim hubungan sosial lebih rentan mengalami gangguan psikologis serius.

“Orang-orang yang memiliki hubungan sosial lebih sedikit dan memiliki gangguan mental seperti depresi, cemas atau trauma berpotensi mengalami kondisi psikologis yang berbahaya,” jelasnya.

Empat Insiden dalam Lima Bulan di JMP Ambon

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul meningkatnya insiden darurat di kawasan Jembatan Merah Putih (JMP) Ambon sepanjang 2026.

Dalam lima bulan terakhir, tercatat empat kejadian yang melibatkan warga di kawasan jembatan ikon Kota Ambon tersebut. 

Jumlah itu menjadi perhatian masyarakat karena dinilai paling banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Pada 20 Maret 2026, seorang perempuan berinisial SC (21) tidak berhasil diselamatkan setelah terjatuh dari atas jembatan sepanjang 1.140 meter tersebut.

Kemudian pada 8 April 2026, seorang pria berstatus ASN juga tidak berhasil diselamatkan dalam insiden serupa.

Peristiwa berikutnya terjadi pada 27 April 2026 ketika seorang pria berinisial FJ (67) mengalami kejadian yang sama.

Sementara pada 2 Mei 2026, seorang mahasiswa Universitas Pattimura berhasil diselamatkan warga dan kini masih menjalani perawatan medis.

Terbaru, seorang wanita diduga ODGJ nyaris melompat dari JMP, Rabu (6/5/2026) pagi.

Beruntung ia berhasil diselamatkan oleh anggota TNI yang kebetulan melintas di lokasi 

Psikolog Imbau Warga Segera Cari Bantuan

Herbethz mengingatkan pentingnya kesadaran diri atau self-awareness untuk mengenali perubahan kondisi emosional sejak dini.

Ia mengimbau masyarakat segera mencari bantuan ketika mulai merasa emosinya tidak stabil atau mengalami tekanan psikologis yang sulit dikendalikan.

“Kalau sudah sadar ada hal yang tidak benar dengan diri sendiri, segera cari pertolongan,” katanya.

Menurut dia, dukungan keluarga, sahabat, maupun tenaga profesional seperti psikolog dan psikiater sangat penting untuk membantu seseorang keluar dari tekanan emosional.

“Jangan memendam masalah sendiri terlalu lama,” ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.