TRIBUNJAKARTA.COM - Hampir setahun menjadi None Jakarta 2025, Farel Larasati, punya satu pengalaman langka tak terlupakan.
Saat menjalankan dinas luar negeri yang mengharuskannya transit di Doha, Qatar, ia menjadi saksi awal pecah perang Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) ada 28 Februari 2026.
Akhirnya, wanita yang karib dengan sapaan Defa itu, terjebak selama tujuh hari di hotel, tanpa bisa keluar, selama tujuh hari.
Ia melihat langsung rudal berterbangan sambil waswas akan kemanan dirinya sendiri.
Pengalaman itu Defa ceritakan di podcast Ruang Jakarta, salah satu program TribunJakarta, yang tayang di Youtube @RuangJakartaPodcast.
Defa mengungkapkan, penerbangannya sampai ke Doha, Qatar itu, merupakan transit dari tujuan utamanya menuju Berlin, Jerman.
Ia bersama Abang Jakarta 2025, David Leon Bijlsma hendak menemani Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, menghadiri sebuah pameran di Berlin.
“Pas saya sudah di atas pesawat dari Doha ke Berlin, tiba-tiba diminta putar balik ke Bandara Doha,” ujar Defa dikutip dari podcast Ruang Jakarta, Rabu (6/5/2026)
Tiba-tiba dikabarkan terjadi serangan udara di kawasan Timur Tengah yang memicu penutupan ruang udara di sejumlah negara dan mengganggu penerbangan internasional.
“Posisinya lagi di atas perairan antara Iran dan Qatar,” katanya.
Tak hanya batal melanjutkan perjalanan, Defa juga harus tertahan di Doha selama tujuh hari. Dalam masa tersebut, ia merasakan langsung suasana mencekam akibat konflik dari dalam hotel.
Lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu bahkan menyaksikan rudal melintas di udara, termasuk yang dicegat sistem pertahanan.
“Saya tujuh hari di hotel, dan lihat rudal melintas, bahkan ada yang diintersep di atas,” ucapnya.
Situasi semakin terasa nyata ketika notifikasi darurat berbunyi serentak di ponsel para tamu hotel.
“Kayak di film-film, tiba-tiba bunyi peringatan. Semua orang di ruangan itu HP-nya bunyi bareng,” tuturnya.
Meski berada dalam kondisi tidak ideal, Farel mengaku pengalaman tersebut justru menjadi pelajaran berharga.
Ia menilai, sebagai bagian dari Abang None Jakarta, dirinya harus mampu beradaptasi di berbagai situasi.
“Kita harus bisa resilience di dalam tekanan. Harus siap ditempatkan di kondisi apa pun,” ujarnya.
Meski penugasan ke Berlin batal, Farel bersama rekannya tetap berupaya menjalankan peran mereka dengan cara lain, termasuk melalui media sosial.
“Walaupun enggak sampai ke Berlin, kita tetap jalankan tugas. Jadi semacam reporter dadakan,” katanya sambil tertawa.