Bank Indonesia Siapkan 7 Strategi Penguatan Kembali Rupiah Terhadap Dollar AS
Adiana Ahmad May 06, 2026 11:19 PM

POS-KUPANG.COM - Bank Indonesia menyiapkan 7 Strategi Penguatan Kembali Rupiah terhadap Dollar AS.

Hal itu disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo selasa (5/5/2026). 

Adapun 7 Strategi Penguatan Kembali Rupiah terhadap Dollas AS tesebt yakni; 

Langkah pertama adalah memperkuat intervensi di pasar valuta asing, baik di dalam negeri maupun luar negeri untuk menstabilkan rupiah.

"Cadangan devisa kami lebih, jadi cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah itu," jelas Perry.

Langkah kedua dan ketiga difokuskan pada penguatan arus modal dan koordinasi fiskal-moneter.

Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Hari ini Terpuruk ke Rp 17.400 Per Dollar AS, Ini Yang Dilakukan Bank Indonesia

Bank Indonesia, menurut Perry, mendorong peningkatan inflow melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menutup outflow dari Surat Berharga Negara (SBN) dan saham, serta terus melakukan pembelian SBN di pasar sekunder.

"Kami sudah membeli SBN dari pasar sekunder year to date adalah Rp 123,1 triliun. Kami akan melakukan koordinasi termasuk nanti Pak Menteri Keuangan bisa melakukan masalah buyback dan segala macam. Koordinasi sangat erat antara fiskal dan moneter," jelasnya.

Selanjutnya, langkah keempat dan kelima mencakup penjagaan likuiditas perbankan yang tetap longgar, serta pembatasan pembelian dollar di pasar domestik.

"Yang dulunya 100.000 dollar per orang per bulan, kita turunkan 50.000 dollar per orang per bulan. Itu yang kami langsung koordinasi dengan KSSK untuk penguatan," kata Perry.

Sementara itu, langkah keenam dan ketujuh adalah penguatan intervensi di pasar offshore, serta peningkatan pengawasan terhadap aktivitas perbankan dan korporasi.

Selain itu, pengawasan diperketat melalui koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) guna memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.

"Yang terutama kami lihat bank-bank korporasi yang aktivitas pembelian dolarnya tinggi, kami kirim pengawas ke sana koordinasi dengan Bu Frederika Widyasari Ketua OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga," imbuh Perry.

Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Kian Terpuruk, Tembus Rp 17.400 per Dollar AS

Optimis Nilai Tukar Rupiah Kembali Membaik

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengaku optimis prospek nilai tukar rupiah akan membaik.

Ia mengatakan, rupiah saat ini memang dalam kondisi undervalued.

Namun, dia meyakini rupiah berpotensi menguat seiring kuatnya fundamental ekonomi nasional.

“Tadi disampaikan oleh Pak Menko, berkaitan fundamental kita itu kuat. Pertumbuhan sangat tinggi, 5,61 persen, inflasi rendah, kredit juga tumbuh tinggi, cadangan devisa juga kuat. Nah, ini adalah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat," ujar Perry Warjiyo usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana, Jakarta, Selasa (5/5/2026) malam.

Perry menyampaikan ada dua faktor yang menjadi penyebabkan tekanan terhadap rupiah. 

Dua faktor tersebut adalah faktor global dan musiman.

Untuk faktor musiman, dipengaruhi oleh kebutuhan devisa untuk repatriasi dividen, pembayaran utang, dan kebutuhan jemaah haji.

Sementara faktor global disebabkan tingginya harga minyak dunia.

"Faktor globalnya apa yang menyebabkan tekanan nilai tukar dalam jangka pendek ini? Adalah satu, harga minyak yang tinggi. Dua, suku bunga Amerika yang juga meningkat tinggi. Yield US Treasury 10 tahun sekarang adalah 4,47 persen. Demikian juga dollar yang menguat," jelasnya.

Baca juga: News Analysis Nilai Tukar Rupiah Melemah, Pengamat: Sinkronisasi Kebijakan

Rupiah Akhirnya Bangkit, Putus Tren Pelemahan 5 Hari Lawan Dolar AS

Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (6/5/2026).
Merujuk data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di level Rp17.380/US$ atau terapresiasi 0,17 persen. Penguatan ini sekaligus memutus tren pelemahan rupiah yang sudah berlangsung selama lima hari perdagangan beruntun.

Sejak awal perdagangan, rupiah sudah bergerak di zona hijau. Mata uang Garuda dibuka menguat 0,34 % ke level Rp17.350/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS atau DXY yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia turut menjadi sentimen positif bagi rupiah. Per pukul 15.00 WIB, DXY terpantau melemah 0,34 % ke level 98,111.

Bank Indonesia (BI) yang menilai nilai tukar rupiah saat ini sudah berada dalam kondisi undervalued, atau lebih lemah dari nilai yang seharusnya jika mengacu pada fundamental ekonomi domestik.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, kondisi fundamental Indonesia sebenarnya masih cukup kuat untuk menopang stabilitas rupiah. Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 % , inflasi yang tetap rendah, cadangan devisa yang kuat, serta pertumbuhan kredit yang masih tinggi.

Menurut Perry, kombinasi faktor tersebut seharusnya menjadi dasar bahwa rupiah dapat bergerak lebih stabil dan berpeluang menguat ke depan. Namun, ia mengakui rupiah masih menghadapi tekanan jangka pendek hingga sempat menembus level Rp17.400/US$.

Baca juga: Lipsus - Nilai Tukar Rupiah Melemah, Kadin NTT Ajak Pengusaha Tingkatkan Ekspor

"Sebabnya ada dua yaitu faktor global, dan kemudian pada faktor musiman," kata Perry.

Dari sisi global, tekanan rupiah dipengaruhi oleh harga minyak yang masih tinggi, suku bunga Amerika Serikat yang meningkat, serta imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun atau US Treasury yield yang berada di level tinggi sekitar 4,47 % . Selain itu, dolar AS juga masih cenderung kuat sehingga memicu keluarnya modal asing dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Dan Pak Menko tadi mengatakan terjadinya pelarian modal dari emerging market termasuk Indonesia," kata Perry.

Selain faktor global, Perry juga menyoroti faktor musiman yang membuat permintaan dolar AS meningkat pada periode April hingga Juni. Kebutuhan tersebut antara lain berasal dari pembayaran repatriasi dividen, pembayaran utang, serta kebutuhan valuta asing untuk jamaah haji.

Meski begitu, Perry menegaskan bahwa rupiah saat ini sudah berada dalam kondisi undervalued dan ke depan berpeluang kembali stabil serta cenderung menguat.

"Tapi rupiah adalah undervalue dan ke depan akan stabil dan cenderung menguat. Itu nomor satu," kata Perry. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.