TRIBUNBATAM.id, LUBUKLINGGAU - Duka mendalam menyelimuti keluarga Ariyanto, sopir truk tangki BBM milik PT Seleraya yang menjadi korban dalam kecelakaan maut Bus ALS di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, Rabu (6/5/2026) siang.
Ariyanto, warga Desa Ketapat Bening, Kecamatan Rawas Ilir, meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan setelah truk yang dikemudikannya bertabrakan dan terbakar.
Kepergiannya yang begitu mendadak meninggalkan luka mendalam, terutama bagi sang istri, Usbapermi.
“Tak bisa berkata-kata saya,” ucap Usbapermi lirih saat ditemui di RS Siti Aisyah, Kota Lubuklinggau.
Kesedihan semakin terasa karena pernikahan mereka terbilang masih seumur jagung. Ariyanto juga meninggalkan tiga orang anak, dua di antaranya telah beranjak besar, sementara satu lainnya masih duduk di bangku sekolah dasar.
Tak ada tanda-tanda mencurigakan sebelum tragedi itu terjadi.
Usbapermi mengingat, sekitar pukul 10.00 WIB, suaminya sempat singgah ke rumah sebelum berangkat bekerja.
Saat itu, Ariyanto bahkan sempat bertanya hal sederhana—menawarkan untuk membelikan nanas.
“Dia cuma tanya mau nitip beli nanas atau tidak. Tidak ada firasat apa-apa,” kenangnya.
Hari itu, Ariyanto hendak melakukan pembongkaran muatan BBM di wilayah Simpang Jene, Kabupaten Musi Rawas.
Namun takdir berkata lain. Di perjalanan, truk tangki yang dikemudikannya terlibat kecelakaan hebat dengan Bus ALS.
Ariyanto meninggal dunia bersama seorang penumpang bernama Martini.
Usbapermi mengaku awalnya diminta datang ke lokasi kejadian. Namun di tengah perjalanan, ia justru diarahkan langsung menuju rumah sakit.
“Saya dikabari untuk datang ke TKP, tapi di jalan diminta langsung ke rumah sakit,” katanya.
Kabar duka juga menghantam anak sulung korban, Rangga. Ia mengaku terakhir berkomunikasi dengan sang ayah pada Selasa malam.
“Kami telepon seperti biasa, hanya menanyakan kabar,” ujarnya.
Keesokan harinya, sekitar pukul 15.00 WIB, ia menerima kabar mengejutkan bahwa ayahnya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.
“Saya sedang bekerja di tempat cuci steam, lalu dikabari keluarga,” katanya.
Bus ALS diduga oleng setelah menghindari sesuatu dan masuk ke jalur berlawanan sebelum akhirnya bertabrakan dengan truk tangki BBM.
Benturan keras memicu tumpahan bahan bakar yang kemudian terbakar dan melalap kedua kendaraan.
Akibat kejadian ini, total 16 orang meninggal dunia, terdiri dari 14 penumpang bus dan dua orang dari truk tangki.
Sementara empat korban lainnya selamat, meski sebagian mengalami luka bakar serius dan masih menjalani perawatan.
Kasat Lantas Polres Muratara, AKP M. Karim, menyebut dugaan sementara kebakaran dipicu oleh minyak yang menyambar setelah kecelakaan terjadi.