TRIBUNBANYUMAS.COM, WONOSOBO - Proses pengusulan Sri Sultan Hamengkubuwono II (Sultan HB II) sebagai Pahlawan Nasional dari daerah Jawa Tengah terus berjalan maju.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonosobo kembali membuka audiensi bersama sejumlah pihak terkait, termasuk keluarga trah Sultan, guna memperkuat aspek administratif dan rekam historis, pada Rabu (6/5/2026).
Audiensi yang berlangsung di Ruang Perundingan tersebut dihadiri oleh berbagai unsur pemerintah desa, perwakilan keluarga Sultan HB II, dinas terkait, serta utusan resmi dari Keraton Yogyakarta.
Baca juga: Gubernur Luthfi Tawarkan Potensi Investasi di Jawa Tengah kepada Kerabat Sultan Brunei
Forum ini menjadi bagian sangat penting dalam menyatukan berbagai perspektif sebelum berkas pengajuan dilanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi.
Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, dalam kesempatan tersebut secara tegas menekankan pentingnya ketelitian dalam setiap tahapan pengusulan gelar kehormatan ini.
"Tahapan pengusulan dari tingkat kabupaten harus benar-benar ditelaah oleh dinas terkait. Ini penting agar saat naik ke tingkat Provinsi dan Pusat, dokumen kita sudah solid," ujar Afif memberikan arahan.
Upaya pengusulan ini sejatinya bukan hal baru. Sejak tahun 2024, berbagai kegiatan pendukung telah gencar dilakukan oleh pemkab. Termasuk di antaranya penyelenggaraan seminar nasional pada awal tahun 2026 yang bertujuan memperkuat landasan akademik dan historis sang tokoh.
Dalam pertemuan tersebut, Prof. Djoko Marihandono menjelaskan lebih detail mengenai perkembangan naskah akademik yang menjadi dokumen utama pengusulan yang sedang disusunnya.
Ia mengakui tingginya kompleksitas penyusunan naskah tersebut yang melibatkan pembacaan berbagai sumber sejarah lintas bahasa.
"Memang di dokumen, khususnya naskah akademik, butuh koreksi. Ada ratusan naskah yang jika disertakan lengkap, satu naskahnya saja bisa lebih dari 250 halaman dalam berbagai bahasa, mulai dari Belanda, Prancis, hingga Inggris," ungkap Prof. Djoko usai forum berlangsung.
Ia juga menyoroti bahwa tantangan terbesar para akademisi saat ini berasal dari sumber literatur kuno berbahasa Jawa yang ditulis dengan aksara tradisional. Meski demikian, progres penyusunan dokumen tersebut diklaim telah mencapai tahap akhir.
"Tinggal melengkapi syarat administrasi lain seperti tanda tangan dari perwakilan putra Sultan HB II dan memperjelas hubungan historis antara Pagerejo atau Wonosobo dengan Keraton Yogyakarta dari masa ke masa," imbuhnya merinci.
Dukungan penuh juga datang dari pihak internal keraton. Perwakilannya, Artha Pararta Dharma, menyatakan kesiapan keraton untuk membantu membuka brankas arsip sejarah guna melengkapi kebutuhan administrasi.
"Salah satu yang dibutuhkan adalah membuka arsip Keraton Yogyakarta untuk mendata nama-nama keturunan Sultan HB II guna melengkapi persyaratan administrasi. Selain itu, situs-situs terkait juga akan diteliti lagi," jelas Romo Artha.
Selain itu, dukungan secara moril turut mengalir dari Gusti Condro, putri langsung dari Sri Sultan Hamengkubuwono X, yang menyatakan komitmen besarnya dalam mendukung proses pengusulan gelar pahlawan tersebut.
Dalam pemaparannya, Romo Artha juga mengungkap betapa kentalnya keterkaitan historis antara sosok Sultan HB II dengan teritorial wilayah Wonosobo.
"Beliau lahir di lereng Gunung Sindoro. Salah satu teknik pertahanan beliau yang luar biasa adalah merekrut prajurit perempuan, yang wilayah rekrutmennya membentang dari Muntilan hingga Wonosobo," tuturnya membeberkan fakta unik.
Setelah audiensi ini, pemerintah daerah berencana untuk segera membentuk Tim Pengusulan Pahlawan Daerah (TP2GD) sebagai langkah lanjutan sebelum semua berkas tebal itu diajukan ke pemerintah pusat di Jakarta.
Di sisi lain, perwakilan trah Sultan HB II yang juga merangkap sebagai Ketua Yayasan Vassati Socaning Lokika, Fajar Bagoes Poetranto, menyampaikan apresiasinya atas dukungan luas dari berbagai kalangan.
"Saya berterima kasih dan menyampaikan apresiasi yang tulus kepada semua pihak yang mendukung Gelar Pahlawan Sultan HB II," jelas Fajar bersyukur.
Ia juga menegaskan kembali bahwa Sultan HB II merupakan sosok pemimpin bumiputra yang amat tegas dalam menentang intervensi asing, terutama pada masa krusial peralihan kekuasaan kolonial.
"Keberanian beliau memuncak pada peristiwa Geger Sepehi tahun 1812, di mana beliau memilih untuk mempertahankan kedaulatan keraton meski harus menghadapi gempuran artileri berat pasukan Inggris. Sikap pantang menyerah inilah yang menjadi landasan utama kuatnya usulan gelar Pahlawan Nasional, sebagai bentuk penghormatan atas konsistensi beliau dalam menjaga marwah bangsa dari penjajahan," ungkap Fajar tegas.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa strategi perjuangan Sultan HB II nyatanya tidak hanya terbatas pada perlawanan fisik konvensional, tetapi juga mencakup penguatan basis militer rahasia di wilayah strategis seperti Wonosobo.
Pendekatan ini dinilai para sejarawan sangat mumpuni dalam membangun loyalitas rakyat secara luas, termasuk melalui pelibatan aktif laskar prajurit perempuan yang mulai dikenal luas dalam sejarah lokal.
"Jejak historis ini menjadi bukti bahwa semangat perlawanan Sultan HB II bersifat akar rumput dan terintegrasi secara luas melampaui tembok keraton, yang hingga kini nilai-nilainya masih dijaga erat oleh masyarakat di lereng Sindoro," pungkasnya. (ima)