Laporan Wartawan Serambi Indonesia Sara Masroni | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Pagi itu wajahnya terlihat semringah. Saat dipanggil, pria itu bergegas berdiri dan membungkukkan badan sebelum menuju mimbar kehormatan akademik.
Adalah Prof Dr Sariakin SPd MPd, perjalanan panjang selama ini dalam dunia akademiknya telah mencapai titik puncak, ia dikukuhkan menjadi Guru Besar pada Bidang Ilmu Manajemen Pendidikan di Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG).
“Merupakan suatu kehormatan, dan rasa syukur yang mendalam bagi saya untuk menyampaikan pidato pengukuhan sebagai guru besar,” ujar Prof Sariakin saat dikukuhkan sebagai profesor di Plenary Hall UBBG, Banda Aceh, Senin (4/5/2026).
Pria kelahiran Langkat, Oktober 1968 itu merupakan lulus S1 FKIP Bahasa Inggris Universitas Serambi Mekkah tahun 1996, kemudian melanjutkan S2 Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Malang 2006 dan S3 bidang yang sama di Universitas Negeri Medan tahun 2019.
Sejumlah penelitian pernah dilakukan bersama tim seperti “Model Pengembangan Program Bahasa Inggris Indoor and Outdoor dalam Meningkatkan Prestasi Sekolah dan Siswa Secara Menyeluruh” dengan sumber pendanaan berasal dari Dikti tahun 2012.
Ia juga pernah menerbitkan produk bahan ajar dalam bentuk cetak berupa Vocabulary Development untuk Prodi S1 tahun akademik 2023/2024. Kemudian menulis enam buku, salah satunya berjudul Master Your English: Teaching Materials for Non-English Department Students.
Prof Sariakin juga pernah menerima penghargaan Satya Lencana Karya Satya 20 Tahun dari Presiden RI pada 2018.
Sejumlah pengabdian kepada masyarakat pernah dilakukan, mulai dari Pelatihan Dan Pendampingan Optimalisasi Kinerja Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di SMPN 2 Peukan Bada Aceh Besar, hingga terbaru yakni Penguatan Kapasitas Administratif Sekolah dalam Mengelola Program Ekstrakurikuler di SD Negeri 61 Kota Banda Aceh pada tahun 2025 lalu.
Dalam pidato pengukuhannya, Guru Besar UBBG itu menjelaskan, momentum ini bukan sekadar bentuk pertanggungjawaban akademik atas amanah keilmuan yang diemban sebagai pemangku jabatan guru besar.
Melainkan juga merupakan wujud pengabdian spiritual kepada Allah SWT untuk senantiasa menuntut, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan bangsa, negara, serta masyarakat luas.
“Saya meyakini ilmu yang diperoleh bukan hanya menjadi kehormatan pribadi, tetapi juga amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab,” ucap Prof Sariakin.
Ia melanjutkan, pendidikan tinggi merupakan pilar strategis pembangunan bangsa. Kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, tetapi terutama oleh kualitas sumber daya manusianya.
Dalam konteks ini, perguruan tinggi memegang amanah besar sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, serta pencetak generasi unggul yang mampu menjawab tantangan zaman.
Kinerja lembaga pendidikan tinggi tidak boleh dipandang sebagai persoalan administratif semata, melainkan sebagai isu fundamental kebangsaan.
Ketika mutu pendidikan tinggi mengalami stagnasi, maka sesungguhnya bangsa sedang menghadapi ancaman terhadap masa depannya.
Karena itu, perbaikan tata kelola pendidikan tinggi harus dilakukan secara terusmenerus, sistematis, dan berkelanjutan.
Salah satu tantangan besar perguruan tinggi saat ini menurutnya adalah, persoalan kaderisasi dosen, terutama di tengah meningkatnya jumlah tenaga akademik yang memasuki masa pensiun.
Perguruan tinggi membutuhkan dosen-dosen berkualitas yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki komitmen organisasi yang tinggi.
Komitmen tersebut menjadi fondasi utama bagi keberlanjutan institusi, sebab universitas hanya dapat berkembang apabila para dosennya memiliki loyalitas, rasa memiliki, serta dedikasi terhadap visi kelembagaan.
“Namun realitas menunjukkan, masih banyak perguruan tinggi yang belum menempatkan komitmen organisasi dosen sebagai prioritas strategis,” ungkap Prof Sariakin.
Guru Besar UBBG itu mengungkapkan, sebagian institusi lebih berfokus pada aspek administratif dan capaian formal, sementara keterlibatan emosional, loyalitas, dan rasa tanggung jawab dosen terhadap organisasi belum sepenuhnya dikelola secara optimal.
Akibatnya, muncul fenomena rendahnya partisipasi dosen dalam kegiatan tridarma, lemahnya kolaborasi internal, hingga berkurangnya keterikatan terhadap institusi.
Dikatakan, universitas sejatinya adalah self-governing corporation of scholars, komunitas para cendekiawan yang mengatur dirinya sendiri melalui budaya akademik yang kuat.
Dalam organisme sosial seperti ini, dosen bukan sekadar tenaga kerja profesional, tetapi merupakan inti penggerak peradaban.
Dosen adalah pendidik, peneliti, pengabdi, sekaligus penjaga nilai-nilai intelektual bangsa.
Menurutnya, dosen yang memiliki komitmen organisasi tinggi akan menunjukkan semangat dalam mengembangkan ilmu, membimbing mahasiswa, menghasilkan penelitian bermutu, dan berkontribusi dalam pengabdian kepada masyarakat.
Sebaliknya, lemahnya komitmen akan berdampak pada menurunnya produktivitas, rendahnya inovasi, serta terhambatnya pencapaian visi kelembagaan.
“Permasalahan yang kita hadapi saat ini semakin kompleks. Beban kerja dosen yang tinggi, tekanan administratif, tuntutan publikasi, keterbatasan kesejahteraan, hingga fenomena moonlighting akibat kebutuhan ekonomi, sering kali menimbulkan stres kerja dan menurunkan fokus terhadap tridarma perguruan tinggi,” ujar Prof Sariakin.
“Dalam situasi seperti ini, komitmen organisasi tidak dapat dibangun hanya melalui regulasi, tetapi harus dibentuk melalui pendekatan yang lebih holistik,” pungkasnya.(*)