Sosok Rita Novita, Guru Besar UBBG sekaligus Salah Satu Profesor Termuda di Aceh
Eddy Fitriadi May 07, 2026 01:03 AM

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Sara Masroni | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Meraih jabatan tertinggi dalam akademik di usia kepala tiga, bukanlah sebuah kemustahilan.

Itulah yang baru saja diraih oleh sosok perempuan bernama lengkap Prof Dr Rita Novita MPd, Guru Besar Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) yang baru saja dikukuhkan awal pekan ini, sekaligus menjadi salah satu profesor termuda di Aceh saat usianya baru menginjakkan 38 tahun.

“Syukur kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah dan perkenaan-Nya sehingga saya dapat berdiri di sini, dalam forum yang agung dan penuh kehormatan, prosesi pengukuhan yang khidmat ini,” ujar Prof Rita saat dikukuhkan sebagai profesor di Plenary Hall UBBG, Banda Aceh, Senin (4/5/2026).

Putri dari pasangan almarhum H. M Jamin SPd dan Dra Darwati kelahiran Aceh Utara, November 1987 itu dikukuhkan sebagai Guru Besar pada Bidang Ilmu Pendidikan Matematika (Pembelajaran Bilangan dan Aljabar).

Saat ini, ia menduduki jabatan sebagai Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Inovasi UBBG. Sebelum menjadi dosen tetap pada Prodi Pendidikan Matematika Universitas Bina Bangsa Getsempena sejak 2012, Rita pernah menjadi guru di MIN 6 Model Banda Aceh pada 2009 lalu, dan guru SMA Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB) pada 2008 silam.

Prof Rita menyelesaikan S1 Pendidikan Matematika di Universitas Syiah Kuala (2005-2009), kemudian S2 di Universitas Sriwijaya (2010-2012) dan S3 bidang yang sama di Universitas Pendidikan Indonesia (2019-2023) yang seluruhnya mendapat predikat cumlaude.

Beberapa penelitian yang pernah dilakukan seperti “Desain Didaktis Pembelajaran Pecahan Berdasarkan Teori Situasi Didaktis untuk Mahasiswa Calon Guru Sekolah Dasar” dengan jabatan ketua dan pendanaan bersumber dari LPDP tahun 2020.

Ia juga pernah meneliti bersama tim dengan judul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Rich Task untuk Meningkatkan Kemampuan Mengajar Matematika Guru Sekolah Menengah Pertama” dengan pendanaan bersumber dari DP2M Dikti (penelitian hibah bersaing) tahun 2016-2017.

Dalam pidato pengukuhannya, Guru Besar UBBG itu menjelaskan, sejumlah kajian dalam bidang pendidikan matematika menunjukkan rendahnya pemahaman konsep matematis siswa lebih banyak dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran yang berorientasi prosedural dibandingkan konseptual.

“Pembelajaran cenderung menempatkan matematika sebagai sekumpulan aturan dan 
algoritma yang harus dihafal, bukan sebagai sistem pengetahuan yang harus dipahami dan dikonstruksi secara aktif oleh peserta didik,” ungkap Prof Rita.

Fenomena ini selaras dengan kerangka teoritik konstruktivisme yang dikemukakan oleh Jean Piaget, yang menegaskan pengetahuan dibangun melalui proses asimilasi dan akomodasi secara aktif oleh individu.

Demikian pula, perspektif sosiokultural dari Lev Vygotsky menekankan, pembelajaran yang bermakna terjadi melalui interaksi sosial dan mediasi yang tepat dalam zone of proximal development. 

Namun demikian, dalam praktik pembelajaran di kelas, khususnya pada materi konsep bilangan, terutama bilangan rasional, pendekatan yang digunakan masih didominasi oleh pola pengajaran yang bersifat mekanistik, algoritmik, dan minimal refleksi.

“Guru lebih berfokus pada penyelesaian prosedur dibandingkan eksplorasi makna, serta kurang memberi ruang bagi siswa untuk mengonstruksi pemahaman melalui pengalaman belajar yang kontekstual dan dialogis,” ucap Prof Rita.

Dampak dari praktik tersebut sangat signifikan, yakni munculnya kesenjangan antara kemampuan prosedural dan pemahaman konseptual. Peserta didik mungkin mampu melakukan operasi hitung secara benar, tetapi tidak memahami makna di balik prosedur tersebut. 

Kemudian peserta didik mampu menghasilkan jawaban yang tepat, tetapi tidak mampu menjelaskan proses berpikirnya. Serta mampu menghafal algoritma, tetapi gagal membangun keterkaitan konseptual antar representasi matematika.

“Kondisi ini menunjukkan, pembelajaran matematika belum sepenuhnya berfungsi sebagai sarana pengembangan mathematical thinking, melainkan masih terjebak pada praktik reproduksi prosedur semata,” jelas Prof Rita.

Konsep bilangan merupakan fondasi utama dalam struktur matematika. Ia tidak sekadar berfungsi sebagai objek komputasi, melainkan sebagai basis bagi berkembangnya berbagai bentuk penalaran matematis, mulai dari aritmatika, aljabar, hingga berpikir proporsional.

Dalam perspektif pendidikan matematika, kualitas pemahaman terhadap konsep bilangan menjadi determinan utama bagi keberhasilan belajar matematika secara keseluruhan.

Namun demikian, di balik posisinya yang fundamental, konsep bilangan, khususnya bilangan rasional, justru merupakan salah satu domain yang paling kompleks secara kognitif dan paling problematik dalam pembelajaran. 

Bilangan rasional, yang dalam praktik pendidikan sering direpresentasikan dalam bentuk 
pecahan, bukanlah konsep tunggal yang sederhana.

Sejak kajian klasik Thomas E Kieren sekitar tahun 1970-an, telah ditegaskan pecahan terdiri atas berbagai subkonstruksi konseptual, seperti part-whole, ratio, operator, quotient, dan measure.

Masing-masing subkonstruksi tersebut menuntut cara berpikir yang berbeda dan 
tidak selalu berkembang secara linear dalam diri peserta didik.

Temuan ini diperkuat oleh penelitian Robert Siegler dan koleganya sejak tahun 2017 yang menunjukkan, pemahaman bilangan rasional memiliki peran krusial dalam perkembangan matematika tingkat lanjut, tetapi sekaligus menjadi sumber kesulitan yang persisten dan sistemik bagi siswa.

“Dengan kata lain, bilangan rasional merupakan fondasi yang esensial, namun sekaligus menjadi titik kritis dalam perkembangan kognitif matematis peserta didik,” pungkasnya.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.