Ekonomi Indonesia Triwulan I 2026 Ditopang Konsumsi Rumah Tangga dan Didorong Momentum Ramadan
Wahyu Widiyantoro May 07, 2026 02:22 AM

TRIBUNLOMBOK.COM - Di tengah ketidakpastian perekonomian global yang masih mencari keseimbangan baru, perekonomian Indonesia justru mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61 % secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Triwulan I-2026. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa capaian ini melampaui sejumlah negara anggota G20 seperti China dan Korea Selatan, sekaligus melampaui proyeksi berbagai lembaga internasional, dan mencerminkan kuatnya fundamental ekonomi nasional.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52 % (yoy), didorong momentum Ramadan dan Idulfitri yang mendongkrak daya beli serta mobilitas masyarakat. 

Realisasi Belanja Negara

Realisasi belanja negara turut berkontribusi signifikan, mencapai Rp815 triliun atau 21,2?ri total APBN, termasuk di dalamnya program Makan Bergizi Gratis yang telah tersalurkan hingga Rp51 triliun per Maret 2026, serta berbagai stimulus seperti diskon tarif dan penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) bagi ASN.

Airlangga menyebut berbagai indikator ekonomi terkini juga menunjukkan tren positif. 

Baca juga: Tiga Sektor yang Pengaruhi Ekonomi NTB Awal 2026: Industri Pengolahan, Pertambangan, Jasa Keuangan

Tingkat Inflasi

Inflasi April 2026 tercatat sebesar 2,42 % , kembali berada dalam rentang sasaran 2,5 % ±1 % . 

Indeks Keyakinan Konsumen berada di angka 122,9, sementara neraca perdagangan mencatatkan surplus USD3,32 miliar memperpanjang tren surplus hingga 71 bulan berturut-turut. 

Dana pihak ketiga tumbuh 13,55 % (yoy) dan pertumbuhan kredit mencapai 9,49 % (yoy).

"Kebijakan fiskal akan dioptimalkan untuk menjaga dan melanjutkan momentum pencapaian target pertumbuhan sepanjang 2026 sebesar 5,4?n menjadi buffer gejolak ekonomi global," ujar Menko Airlangga dalam Konferensi Pers Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I-2026, Selasa (5/5/2026).

Serapan Tenaga Kerja

Sepanjang Februari 2025 hingga Februari 2026, penyerapan tenaga kerja bertambah sebanyak 1,89 juta orang, sehingga total penduduk bekerja mencapai 147,67 juta orang. 

Tingkat Pengangguran Terbuka turun dari 4,76 % menjadi 4,68 % . Tingkat kemiskinan menyusut ke angka 8,25 % pada September 2025, dan Rasio Gini turun menjadi 0,363.

Penyaluran KUR

Berbagai program kredit pemerintah juga menunjukkan kinerja progresif. 

Kredit Usaha Rakyat (KUR) telah tersalurkan sebesar Rp96,18 triliun atau 34,41?ri target, diikuti Kredit Program Perumahan sebesar Rp14,92 triliun atau 42,89?ri target, serta Kredit Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) dan Kredit Industri Padat Karya (KIPK) yang terus bergerak maju.

Guna menjaga momentum pertumbuhan sepanjang 2026, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah lanjutan, antara lain penyaluran gaji ke-13 ASN senilai sekitar Rp55 triliun, akselerasi bantuan pangan bagi 33,2 juta Keluarga Penerima Manfaat periode April–Juni 2026, serta keberlanjutan subsidi dan kompensasi energi senilai Rp356,8 triliun. 

Program Perumahan

Selain itu, pemerintah mendorong program 3 juta rumah melalui skema FLPP dengan alokasi Rp37,1 triliun, revitalisasi satuan pendidikan senilai Rp13,4 triliun, dan implementasi mandatori B50 mulai 1 Juli 2026.

Pemerintah juga telah membentuk Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi (Satgas P3M-PPE) berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2026. 

Dalam pertemuan perdananya, satgas ini menyepakati sejumlah kebijakan strategis, di antaranya penurunan bea masuk impor LPG menjadi 0 % , penurunan sementara bea masuk bahan baku plastik menjadi 0 % selama enam bulan, serta reformasi perizinan impor dan kemudahan pengurusan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang melalui sistem OSS.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.