Rudal Jepang dan AS Menggelegar di Filipina Dekat Laut China Selatan, Tiongkok Bereaksi
Glery Lazuardi May 07, 2026 03:23 AM

TRIBUNNEWS.COM - Latihan militer gabungan Balikatan 2026 kembali menjadi perhatian setelah melibatkan uji coba rudal oleh Jepang dan Amerika Serikat di wilayah Filipina yang berhadapan dengan Laut China Selatan.

Pasukan Bela Diri Jepang menembakkan rudal anti-kapal Type 88 dalam latihan maritim dan mengenai target berupa kapal bekas Angkatan Laut Filipina, BRP Quezon.

Militer Filipina menyebut dua rudal diluncurkan dan mencapai sasaran dalam waktu sekitar enam menit.

Latihan ini merupakan bagian dari Balikatan 2026, agenda tahunan Filipina dan Amerika Serikat yang kini melibatkan sejumlah negara mitra seperti Jepang, Australia, Kanada, Prancis, dan Selandia Baru.

Sekitar 17.000 personel terlibat dalam berbagai skenario operasi darat, laut, dan udara.

Menteri Pertahanan Filipina Gilberto Teodoro menyatakan latihan tersebut bertujuan meningkatkan koordinasi antarnegara dalam operasi maritim serta kesiapan menghadapi potensi ancaman di kawasan.

Kegiatan berlangsung di perairan sekitar 75 kilometer dari pesisir utara Filipina, yang berhadapan langsung dengan Laut China Selatan.

Di sisi lain, Jepang dan Filipina juga membahas kemungkinan kerja sama transfer peralatan pertahanan, menyusul pelonggaran kebijakan ekspor militer Jepang. Opsi yang dibahas mencakup pengiriman kapal perusak kelas Abukuma dan pesawat TC-90.

Selain itu, dalam rangkaian latihan yang sama, militer Amerika Serikat bersama Filipina melakukan uji tembak rudal jelajah Tomahawk pada 5 Mei 2026 dini hari waktu setempat.

Rudal diluncurkan dari sistem darat Typhon di dekat Tacloban dan menghantam target sejauh sekitar 600 kilometer di Fort Magsaysay, Nueva Ecija.

Baca juga: Masukan Akademisi dan Praktisi Terhadap Penyusunan Kode Etik Perilaku di Laut China Selatan

Pejabat militer Filipina menyebut rudal tersebut mencapai sasaran dengan tingkat akurasi tinggi dalam waktu sekitar satu jam. Uji coba dilakukan dalam skenario operasional, sehingga peluncuran dilakukan berdasarkan kebutuhan latihan di lapangan.

Balikatan 2026 kini berkembang menjadi latihan multi-domain yang mencakup operasi darat, laut, udara, hingga siber, serta melibatkan penggunaan sistem persenjataan jarak jauh.

Seiring berlangsungnya latihan, China menyampaikan keberatan atas aktivitas militer di kawasan tersebut. Beijing menilai kehadiran sistem seperti Typhon berpotensi meningkatkan ketegangan dan memicu perlombaan senjata.

Sebagai respons, militer China dilaporkan melakukan patroli kesiapsiagaan di sekitar wilayah sengketa Laut China Selatan selama latihan berlangsung.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.