Butuh Perjuangan Panjang, UIN Ar-Raniry Bakal Terima Dana Ratusan Miliar Pinjaman Luar Negeri
IKL May 07, 2026 09:39 AM

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH — Perjuangan panjang Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh untuk mendapatkan dukungan pembiayaan internasional akhirnya membuahkan hasil.

Kampus tersebut direncanakan akan menerima pendanaan ratusan miliar melalui skema Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN) guna mendukung transformasi besar di bidang infrastruktur dan pengembangan sumber daya manusia.

Rektor UIN Ar-Raniry Prof Mujiburrahman, menjelaskan PHLN merupakan skema pembiayaan yang terdiri dari pinjaman dan hibah luar negeri.

Dalam rencana ini, UIN Ar-Raniry akan memperoleh pinjaman luar negeri dari Islamic Development Bank (IDB) yang bermarkas di Jeddah, Arab Saudi.

“Kalau dengan kurs dolar Rp16.000 di tahun 2025, besaran bantuannya sekitar Rp770 miliar.

Namun realisasi nantinya akan disesuaikan dengan kurs tahun berjalan,” ujar Prof Mujiburrahman, Rabu (6/5/2026).

Ia menegaskan bahwa pinjaman ini dilakukan oleh pemerintah pusat dan akan dikembalikan oleh pemerintah, bukan oleh pihak kampus.

Pendanaan ini akan difokuskan pada dua komponen utama.

Sekitar 90 persen dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur fisik, sementara sisanya digunakan untuk pengembangan nonfisik, seperti peningkatan kualitas SDM, penguatan kurikulum, serta pengembangan tridharma perguruan tinggi.

Prof Mujiburrahman mengungkap, dipilihnya UIN Ar-Raniry sebagai penerima program ini melalui proses panjang dan seleksi ketat.

Dari total 47 kampus di bawah Kementerian Agama yang mengajukan proposal, jumlah tersebut disaring secara bertahap hingga tersisa dua kampus, yakni UIN Ar-Raniry dan UIN Alauddin Makassar.

Beberapa pertimbangan menjadi dasar pemilihan, di antaranya pengalaman sebelumnya menerima bantuan pascatsunami dari IDB, serta posisi UIN Ar-Raniry sebagai salah satu kampus prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 untuk pengembangan Universitas Islam Global.

Selain itu, kondisi sebagian infrastruktur kampus yang dinilai sudah tidak layak menjadi faktor penting. 

“Perjuangan ini juga gak sederhana, jauh hari kita menyiapkan proposal usulan selogis mungkin, serasionil mungkin. Kemudian menyampaikan ke pusat bahwa UIN kita Sangat layak untuk dipertimbangkan dengan kondisi yang ada hari ini,” jelasnya.

Sementara itu, Tim Task Force PHLN UIN Ar-Raniry Abdul Jalil Salam, menjelaskan bahwa proyek tersebut telah melewati tahap Blue Book dan sedang menunggu terbitnya Green Book sebagai daftar prioritas pinjaman luar negeri tahun 2026. Setelah dokumen tersebut terbit, alokasi anggaran akan dibagi dalam periode pelaksanaan selama lima tahun.

Dalam rencana pengembangannya, UIN Ar-Raniry akan membangun tujuh tower (bangunan) di kampus utama, satu kawasan olahraga, serta dua tower di kampus pascasarjana, dengan total 10 proyek pembangunan. Proses pembangunan akan dilakukan bertahap agar tidak mengganggu aktivitas akademik.

“Pembongkaran gedung lama akan disesuaikan dengan pembangunan pengganti dan tidak dilakukan sekaligus,” katanya.

Selain pembangunan fisik, program ini juga mencakup peningkatan kapasitas tenaga pendidik melalui pelatihan, sertifikasi, hingga peluang studi ke luar negeri sebagai bagian dari penguatan kualitas akademik.

Progres pembangunan diperkirakan mulai terlihat pada semester kedua tahun anggaran 2027. Dengan dukungan pembiayaan ini, UIN Ar-Raniry menargetkan dapat masuk dalam peringkat 500 besar universitas di Asia pada tahun 2030.

“Harapannya, ini tidak hanya berdampak bagi kampus, tetapi juga memberikan efek positif bagi masyarakat sekitar, baik secara ekonomi maupun akademik,” pungkasnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.