Opini: Melodi Rosario di Malam Sunyi
Dion DB Putra May 07, 2026 09:45 AM

Potret Keimanan Masyarakat Nusa Tenggara Timur di Bulan Maria

Oleh: Bernabas Haki
Mahasisawa Fakultas Filsafat Univeritas Katolik Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Nusa Tenggara Timur ( NTT) adalah sebuah provinsi yang dikenal sebagai provinsi dengan mayoritas agama Kristen Katolik. 

Data BPS 2024 mencatat bahwa agama Kristen Katolik menempati urutan pertama dengan presentase sebesar 53,46 juta jiwa. 

Ada tradisi dalam Gereja Katolik yaitu bulan Mei dan bulan Oktober adalah bulan yang dikhususkan untuk Bunda Maria. 

Maka setiap kali bulan Mei dan Oktober tiba, sunyi malam di  bumi Flobamora menjelma menjadi ruang liturgi yang hidup. 

Baca juga: Doa Harian Katolik: Doa Rosario Suci yang Dilantunkan Setiap Hari

Ada desau angin dan kidung yang memecah sunyi ketika senja pergi perlahan-lahan dan kegelapan mulai menyelimuti kampung-kampung di NTT. 

Mulai dari pedalaman Flores, perbukitan Timor, sabana Sumba, hingga pesisir Alor dan Rote. Dalam sunyi dan diam inilah muncul suasana mistis dan spiritual. 

Keheningan malam tidak lagi mencekam, melainkan berubah menjadi hangat saat sayup-sayup terdengar lantunan lagu Ave Maria atau O Maria Bunda Penolong.

Anak-anak yang dibaluti dengan kain lipa karena dinginnya malam, kaum muda hingga para tetua berjalan beriringan dalam kegelapan, dan hanya diterangi oleh seberkas cahaya senter atau obor bambu. 

Mereka berjalan menuju rumah salah satu umat yang merupakan tempat untuk mendaraskan doa rosario bergiliran. 

Malam yang hening dan sunyi seketika pecah oleh "melodi" untaian doa Rosario yang didaraskan bersama.

Di NTT, rosario juga merupakan lambang pengikat solidaritas sosial. Doa Rosario di bulan Maria juga bukan sekadar ritus ibadah pribadi yang sunyi di dalam kamar. 

Ia adalah ritus komunal. Doa dilaksanakan di Kelompok Umat Basis (KUB) yang membuat orang mengenal satu sama lain serta bercandaria selepas doa rosario selesai. 

Nada dan melodi doa yang berulang-ulang "Salam Maria, penuh rahmat..." menjadi jembatan yang merekatkan kembali retakan-retakan sosial sehari-hari.

Di dalam lingkaran doa tersebut, perbedaan status sosial melebur. Tetangga yang sempat berselisih paham duduk berdampingan di atas tikar pandan yang sama, menundukkan kepala di hadapan arca Bunda Maria yang diterangi oleh lilin dan dibaluti dengan kontas yang mempertajam kesakralan tradisi ini dalam Gereja Katolik. 

Pertemuan saban malam selama satu bulan penuh ini memupuk rasa persaudaraan (communio) yang sangat kuat. 

Di sini, iman bekerja sebagai perekat sosial yang paling organik. Belum lagi disuguhkan dengan kopi dan teh hangat yang menambah dan mempererat hubungan persaudaran itu.

Keimanan masyarakat NTT dalam mendaraskan rosario juga menunjukkan betapa indahnya inkulturasi (perpaduan iman Katolik dan budaya lokal) yang sangat hidup. 

Melodi doa sering kali dilantunkan dengan cengkok khas daerah setempat. Ada nyanyian lagu-lagu Maria dalam bahasa daerah seperti di Manggarai terkenal dengan lagu "Tabe Yo Ende Goga", doa juga sering kali memakai bahasa daerah baik bahasa Dawan, Manggarai, Lio dan sebagainya.

Gua Maria atau altar darurat di rumah-rumah dihias dengan kain tenun ikat terbaik khas daerah masing-masing sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada "Mama Maria" sebutan penuh kasih dan kedekatan masyarakat NTT kepada Bunda Yesus. 

Bagi mereka, Maria bukan sosok surgawi yang jauh dan asing, melainkan sosok keibuan yang memahami peluh, perjuangan, dan air mata kehidupan sehari-hari mereka sebagai petani, nelayan, atau perantau.

Jika kita memandang dari kejauhan, bintik-bintik cahaya lilin yang menyala di pelataran rumah-rumah penduduk NTT di malam hari menyajikan pemandangan yang mengharukan. 

Lilin-lilin kecil yang bergoyang ditiup angin malam adalah simbol visual dari iman masyarakat NTT yang merupakan orang-orang yang sederhana, namun tetap menyala di tengah berbagai keterbatasan hidup mulai dari tantangan ekonomi, kekeringan, masalah pendidikan hingga minimnya akses infrastruktur.

Setiap butir rosario yang digeser oleh jemari yang kasar karena kerasnya perjuangan untuk hidup adalah simbol kepasrahan sekaligus keteguhan. 

Di malam yang sunyi itu, mereka mengadu, membawa segala kekurangan mereka, mengucap syukur, dan menggantungkan harapan esok hari lewat perantaraan doa Sang Bunda. 

Maka dari itu melodi rosario di malam sunyi NTT adalah sebuah simfoni iman yang agung namun bersahaja. 

Ia membuktikan bahwa bagi masyarakat NTT, iman bukanlah dokumen teologis yang rumit di atas kertas, melainkan sebuah ritme kehidupan yang dihirup setiap hari.

Melalui tradisi Bulan Maria, masyarakat NTT menunjukkan potret keimanan yang tidak lari dari dunia, melainkan iman yang berakar bumi; iman yang merayakan kebersamaan, menghormati alam, dan merawat harapan di dalam kesunyian malam yang kudus. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.