Taufiqurrahman Siswa SMKN 3 Bandar Lampung Urutan 4 Nasional Bidang Restaurant Service
Robertus Didik Budiawan Cahyono May 07, 2026 05:19 PM

 
Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Prestasi membanggakan telah diraih siswa SMKN 3 Bandar Lampung. 

Taufiqurrahman (19) berhasil meraih Juara 1 Lomba Kompetensi Siswa (LKS) tingkat Provinsi Lampung pada bidang Restaurant Service dan melanjutkan perjuangan ke tingkat nasional hingga meraih peringkat 4.

Keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi sekolah, keluarga, serta dunia pendidikan vokasi di Lampung. 

Dengan persiapan yang matang dan semangat pantang menyerah, Taufiqurrahman mampu bersaing dengan peserta terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam wawancara, Taufiqurrahman menjelaskan bahwa kompetisi Restaurant Service menilai banyak aspek penting dalam pelayanan restoran dan perhotelan. 

Baca juga: Habib Faisal Siswa SMKN 3 Bandar Lampung Juara Dua Baca Puisi FLS3N

Penilaian meliputi kebersihan, grooming, kecepatan kerja, hingga kualitas penampilan dan kerapian pakaian.

“Kompetisinya tentang kebersihan, grooming, kecepatan, dan kualitas pakaian yang digunakan,” ujarnya.

Pada lomba tersebut terdapat beberapa kategori utama, di antaranya table set up, yaitu keterampilan menata meja makan dengan rapi dan sesuai standar pelayanan restoran.

Napkin folding, yaitu seni melipat serbet menjadi bentuk yang menarik dan elegan.

Serta sequence of service, yaitu tahapan pelayanan kepada tamu mulai dari menyambut, menerima pesanan, hingga menyajikan makanan dan minuman dengan pelayanan profesional.

Terakhir dirinya harus membuat minuman mocktail yang disajikan langsung kepada tamu yang menggadiri kompetisi tersebut.

Menurutnya, setiap kategori memiliki tantangan tersendiri yang membutuhkan ketelitian, kecepatan, dan fokus tinggi.

Taufiqurrahman mengaku awalnya tertarik mengikuti kompetisi setelah melihat kakak tingkat yang pernah mengikuti lomba serupa. Ia kemudian dipilih oleh guru untuk mewakili sekolah.

“Saya dipilih oleh guru dan memang tertarik sejak melihat kakak-kakak sebelumnya mengikuti lomba ini. Rasanya senang bisa ikut kompetisi sampai akhirnya terpilih di tingkat sekolah, lanjut provinsi, dan Alhamdulillah bisa sampai nasional,” katanya.

Untuk persiapan, ia membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Satu bulan digunakan untuk persiapan tingkat provinsi dan satu bulan lagi untuk tingkat nasional.

“Persiapan provinsi sekitar satu bulan, termasuk semua materi lomba. Untuk nasional juga satu bulan,” jelasnya.

Ia mengatakan salah satu materi yang dipelajari adalah table boxing, yaitu keterampilan menata meja dengan cepat dan rapi. 

Penilaian mencakup ketepatan waktu, kerapian lipatan, hingga pemasangan taplak meja yang harus terlihat sempurna.

Meski baru pertama kali mengikuti kompetisi besar, Taufiqurrahman mengaku sempat merasa gugup sekaligus bersemangat.

“Ada rasa deg-degan dan excited, tapi Alhamdulillah masih bisa dikendalikan,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam lomba adalah menjaga kecepatan sekaligus tetap rapi dan fokus. Terlebih pada sesi mocktail presentation yang harus dipresentasikan menggunakan bahasa Inggris.

“Yang paling sulit itu saat presentasi mocktail karena harus menggunakan bahasa Inggris, harus hafal langkah-langkahnya, tidak boleh lupa. Selain itu saat sequence of service juga harus benar-benar fokus karena langsung berhadapan dengan tamu,” katanya.

Dalam sesi tersebut, peserta dituntut melayani tamu layaknya di restoran dan hotel berbintang, mulai dari menerima pesanan hingga menyajikan makanan dan minuman dengan standar pelayanan profesional.

Ia juga menambahkan bahwa pembuatan mocktail menjadi tantangan tersendiri karena minuman harus dibuat dengan rapi, bersih, memiliki rasa yang seimbang, serta tetap menarik di depan tamu dan juri.

Ke depannya, Taufiqurrahman bercita-cita menjadi seorang profesional di bidang perhotelan. Ia mengaku senang berinteraksi dengan tamu dan memberikan pelayanan terbaik.

“Saya ingin menjadi hotelier karena saya suka menyambut tamu dengan ramah dan memang tertarik di bidang hotel,” ungkapnya.

Di akhir wawancara, Taufiqurrahman memberikan pesan kepada para siswa yang ingin mengikuti kompetisi serupa agar tetap percaya diri dan terus berusaha.

“Tentu ada rasa bangga dalam diri sendiri, apalagi bisa membanggakan orang tua. Jadi jangan takut mencoba dan tetap menikmati prosesnya,” pesannya.

(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.