Harga Naik Ditambah Daya Beli Menurun, Penjualan Hewan Kurban di Bekasi Anjlok
Dwi Rizki May 07, 2026 05:24 PM

WARTAKOTALIVE.COM, BEKASI - Menjelang Iduladha 1447 Hijriah, pedagang hewan kurban di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat mengeluhkan kenaikan harga sapi. Akibatnya, membuat penjualan alami penurunan.

Meski demikian, permintaan sapi kurban diakui tetap ada, terutama dari pelanggan tetap.

Pemilik Ghita Farmer, Budiono, mengatakan penurunan penjualan karena mengalami penurunan akibat kenaikan harga sapi dan melemahnya daya beli masyarakat.

Sehingga sejak awal, ia memilih mengurangi stok sapi dan lebih mengutamakan sistem pemesanan guna mengantisipasi kondisi ekonomi yang belum stabil.

“Kami tidak menyetok terlalu banyak. Sebagian besar sapi yang tersedia berdasarkan pesanan pelanggan. Saat ini sudah lebih dari 100 ekor yang terjual,” ujar Budiono saat ditemui di kandang sapi Ghita Farmer, Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, Kamis (7/5/2026).

Menurut dia, harga sapi kurban tahun ini mengalami kenaikan cukup signifikan, baik untuk sapi Bali maupun sapi lokal seperti limosin dan simental.

Baca juga: Kabur hingga Jakarta, Oknum Kiai “Cabul” di Pati Akhirnya Ditangkap di Wonogiri

Kenaikan harga tersebut dipicu berkurangnya populasi sapi setelah merebaknya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) beberapa waktu lalu.

“Harga sapi Bali tahun lalu sekitar Rp48 ribu per kilogram. Sekarang naik menjadi Rp55 ribu sampai Rp58 ribu per kilogram di Bali,” katanya.

Kenaikan harga juga berdampak pada harga jual sapi kurban di tingkat peternak.
Untuk sapi Limosin bobot 500 kilogram sebelumnya sekitar Rp 31-33 juta naik menjadi Rp 33-35 juta. Sedangkan, sapi Bali seberat 400 kg harga sebelumnya Rp 24 juta sekarang menjadi Rp 26 juta.

Budiono menilai kondisi ekonomi masyarakat turut memengaruhi daya beli. Banyak perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), sehingga sejumlah kelompok warga yang biasanya patungan membeli hewan kurban kini mulai mengurangi pembelian.

“Biasanya di perumahan atau musala ada iuran kurban. Sekarang banyak yang menahan karena kondisi ekonomi,” ungkapnya.

Sejauh ini, kata dia, penurunan penjualan berkisar 1 hingga 5 persen diwaktu yang sama dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Budiono, penjualan masih berpotensi bertambah karena waktu menjelang Iduladha masih sekitar tiga pekan lagi.

"Tapi sepertinya turun ya, karena saya melihat jumlah pedagang sapi musiman di pinggir jalan mulai berkurang. Kayaknya karena harga sapi dan biaya operasional tinggi," beber dia.

Untuk mengantisipasi risiko kerugian, Ghita Farmer tahun ini hanya menyediakan sekitar 150 ekor sapi, lebih sedikit dibandingkan tahun lalu yang mencapai 350 hingga 400 ekor.

Selain itu, pihak peternakan memastikan seluruh sapi yang dijual dalam kondisi sehat dan telah menjalani vaksinasi. Untuk sapi asal Bali, vaksin PMK dan Lumpy Skin Disease (LSD) menjadi syarat wajib sebelum dikirim.

“Kami juga melakukan vaksin mandiri untuk sapi limosin dan simental. Jadi kesehatan sapi tetap kami jaga,” tutup Budiono. (MAZ)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.