TRIBUNTRENDS.COM - Tangis, rasa malu, hingga pengakuan soal kondisi mental yang sedang tidak stabil mewarnai polemik pemotongan rambut siswi di SMK Negeri 2 Garut. Kasus yang viral di media sosial itu kini membuka sisi lain dari sosok guru bimbingan konseling (BK) bernama Ai Nursaida.
Di hadapan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, Ai akhirnya mengakui bahwa dirinya sedang berada dalam kondisi psikologis yang buruk saat melakukan razia penampilan hingga berujung memotong rambut sejumlah siswi berhijab.
Pengakuan itu muncul setelah tindakannya menuai sorotan luas dan memancing perdebatan publik tentang batas kedisiplinan di sekolah.
Baca juga: Pengurus Ponpes Klarifikasi Video Viral Protes Wali Santri soal Rambut Gundul
Dalam pertemuan bersama Dedi Mulyadi, Ai Nursaida menyadari tindakan yang dilakukannya telah melukai para siswi.
Ia mengaku emosinya saat itu dipengaruhi kondisi psikologis yang sedang tidak stabil.
"Saya psikologisnya lagi gak baik, digunting tapi gak semua, masih bisa diikat rambut. Iya pada akhirnya saya sadar dan menyadari saya salah besar," katanya.
Pernyataan itu menjadi titik pengakuan bahwa tindakan memotong rambut siswi bukan keputusan yang lahir dari situasi biasa. Di balik razia penampilan tersebut, tersimpan tekanan dan keresahan yang menurut Ai terus menumpuk dalam waktu cukup lama.
Ai menjelaskan, razia itu dilakukan karena dirinya merasa resah dengan penampilan sebagian siswa di sekolah, terutama terkait penggunaan kosmetik berlebihan dan warna rambut yang dianggap mencolok.
Menurutnya, keluhan soal penampilan siswa sudah lama menjadi perhatian di lingkungan sekolah.
"Yang meresahkan kami baru-bari ini tentang penampilan siswa, berkerudung dalam hal kosmetik berlebihan," kata Ai ke Dedi Mulyadi.
Ia menyebut keresahan itu semakin besar karena banyak komentar dan aduan yang diterimanya, terutama soal ketimpangan razia antara siswa laki-laki dan perempuan.
Baca juga: Usai Viral Ejek Guru, Siswa SMAN 1 Purwakarta Buat Video Minta Maaf, Ini Tanggapan Dedi Mulyadi
Di balik tindakan kontroversial tersebut, Ai juga mengaku selama ini sering menjadi sasaran kritik ketika ada siswa yang dianggap melanggar aturan penampilan sekolah.
Menurutnya, tekanan datang dari berbagai arah hingga akhirnya memengaruhi emosinya.
"Keresahan di masyarakat, anak-anak laki-laki biasanya. Bu kenapa kalau laki-laki panjang sedikit dirazia, kalau yang perempuan rambut merah dibiarin, keluar gerbang dibuka merah masih pakai seragam. mungkin bukan anak saya yang ini, ya akumulasi dari sana dari sini terus yang disalahkan biasanya anak-anak saya, itu anak bimbingan saya, saya kan sakit hati," katanya.
Ai menegaskan bahwa sebelumnya dirinya tidak pernah melakukan tindakan represif terhadap siswi yang dirazia kosmetik.
"Setiap ada rajia kosmetik, saya belum pernah merajia mereka. Saya belum pernah menghapus makeupnya, tapi saya dituduh seolah membiarkan mereka," katanya.
Menariknya, Ai juga mengakui bahwa keenam siswi yang rambutnya dipotong sebenarnya tidak memiliki masalah dalam perilaku maupun akademik.
Mereka disebut rajin sekolah dan tidak pernah membuat pelanggaran berat.
"Keenam anak ini baik-baik aja secara perilaku baik. Akademis gak ada masalah, rajin sekolah," katanya.
Menurut Ai, persoalan penampilan sebenarnya masih bisa diselesaikan lewat teguran dan pembinaan biasa.
"Mungkin orang tuanya cukup uang, kan gak ada masalah. Penampilan menor, wajar, kan tinggal diingatkan," katanya.
Baca juga: Dedi Mulyadi Usul Pelaku Rusuh May Day Bandung Dibina di Barak Militer, Curigai Ada Skenario
Di sisi lain, para siswi mengaku sangat terpukul setelah rambut mereka dipotong pendek di sekolah.
Salah satu siswi bahkan mengaku merasa seperti laki-laki setelah rambutnya dipotong.
"Kayak laki-laki. Sakit hati, trauma," katanya.
Para siswi mengatakan mereka berdandan hanya untuk tampil lebih rapi dan percaya diri di sekolah. Mereka juga membantah menggunakan riasan berlebihan.
"Biar cantik. Sunscreen, bedak, gak (tebal). Kalau tebal mah pakai," katanya.
Meski merasa sakit hati, para siswi akhirnya berjanji akan mengurangi penggunaan makeup selama tetap bisa bersekolah gratis.
"Boleh, mau. Make up tipis tapi gratis," katanya.
Menanggapi polemik tersebut, Dedi Mulyadi meminta publik melihat persoalan secara lebih proporsional.
Menurutnya, karakter siswa jurusan broadcast memang dekat dengan dunia hiburan dan seni sehingga perhatian terhadap penampilan menjadi hal yang wajar.
"Atuh menor gak apa-apa kan jadi bintang film. Saya orang yang selalu bela guru, tetapi saya juga ingin proporsional. kadang penilaian kita terhadap penampailan sering kali salah. Kedua, jurusannya broadcast berarti urusannya dengan dunia hiburan perfilman, apakah mungkin karakter itu dipangaeruhi oleh kejuruan," kata Dedi Mulyadi.
Dedi juga meminta para siswi tidak terus menyimpan rasa sakit hati terhadap guru mereka.
"Jangan ngomong trauma, biasa ajalah. Aku digaplok gak pernah trauma sama guru. Udahlah biasa aja, Kamu udah bisa senyum. gak boleh sakit hati," kata KDM.
Meski demikian, Ai Nursaida tetap mengakui bahwa tindakannya memotong rambut siswi merupakan kesalahan besar yang tidak seharusnya terjadi.
***