TRIBUNBATAM.id, NATUNA - Di tengah keterbatasan hidup sebagai anak petani di daerah perbatasan seperti Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), seorang remaja diam-diam menyimpan mimpi besar.
Ketekunan gadis asal Desa Harapan Jaya, Kecamatan Bunguran Timur ini patut diacungi jempol.
Namanya Vita Olita (18), sosok pelajar sederhana yang berhasil menembus seleksi masuk Politeknik Engineering Pertanian Indonesia (PEPI), kampus vokasi bergengsi di bawah naungan Kementerian Pertanian (Kementan) RI.
Keberhasilan Vita bukan sekadar tentang lolos kuliah.
Lebih dari itu, ia membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi.
Seluruh biaya pendidikan Vita di kampus tersebut juga ditanggung negara melalui program beasiswa.
Perjalanan Vita dimulai dengan cara yang tak kecil namun berbuah besat.
Saat itu ia hanya melihat informasi penerimaan beasiswa mahasiswa baru PEPI dari media sosial di ponsel pintarnya.
Rasa penasaran membuatnya langsung mencari tau informasi lebih lanjut di internet.
Tanpa berpikir panjang, alumni MAN 1 Natuna itu tak menyiakan kesempatan dan langsung menyiapkan seluruh persyaratan administrasi.
Salah satu syarat penting dalam jalur tersebut adalah rekomendasi dari Dinas Pertanian serta rekomendasi dari Bupati Natuna.
“Alhamdulillah saya mendapat dukungan luar biasa. Semua proses rekomendasi dibantu dan dipermudah,” katanya.
Setelah lolos administrasi, Vita harus menjalani tahapan seleksi lain berupa wawancara, tes kesehatan, hingga tes fisik secara daring.
Untuk jalur undangan khusus anak petani, seleksi akademik tidak dilakukan melalui ujian tertulis, melainkan berdasarkan nilai rapor lima semester terakhir.
Usahanya selama ini menjaga prestasi akademik pun akhirnya membuahkan hasil.
Selama bersekolah, Vita dikenal sebagai sosok tekun dan kerap masuk peringkat atas di kelasnya.
“Semester terakhir kelas tiga saya peringkat dua. Sebelumnya juga pernah juara dua dan tiga,” ucap gadis kelahiran 2008 itu.
Tanggal 8 April 2026 menjadi momen yang tak akan dilupakannya.
Hari itu, Vita dinyatakan resmi lolos masuk PEPI.
“Rasanya bangga sekaligus tak percaya. Dari awal memang ingin ambil jurusan teknik, dan ternyata diterima di teknik pertanian. Saya merasa ini cocok sekali karena saya juga berasal dari keluarga petani,” ungkapnya.
Bagi Vita, dunia pertanian bukan hal asing. Sejak kecil ia tumbuh di tengah keluarga petani.
Ayahnya sehari-hari berkebun karet dan juga salak, dengan penghasilan yang tidak menentu.
Kondisi itulah yang membuat Vita memiliki tekad besar untuk melanjutkan pendidikan tanpa membebani orang tua.
“Saya ingin bantu meringankan beban orang tua. Apalagi kan Bapak juga sudah cukup berumur. Jadi kalau begini kan Bapak tak perlu pusing lagi memikirkan biaya kuliah,” katanya lirih.
Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, Vita sadar perjuangan orang tuanya tidak mudah.
Karena itu, kesempatan kuliah dengan biaya ditanggung negara menjadi jawaban atas harapan yang selama ini ia simpan diam-diam.
Meski berasal dari desa, Vita tak pernah merasa minder untuk bersaing.
Justru latar belakang sebagai anak petani menjadi motivasi terbesar baginya untuk terus maju.
“Bapak dan Abang saya petani. Jadi saya merasa bidang ini memang jalan saya,” ujarnya.
Rencananya, Vita akan berangkat kuliah pada Agustus 2026 mendatang.
Ia juga menjadi putri daerah Natuna ketiga yang berhasil lolos ke PEPI, setelah sebelumnya ada peserta lain yang diterima pada tahun 2025.
Di akhir wawancara, Vita menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung perjuangannya.
“Terima kasih untuk Bupati Natuna, Dinas Pertanian, orang tua dan keluarga yang selalu support saya sampai bisa diterima hari ini,” tutupnya. (TribunBatam.id/Birri Fikrudin)