Kelompok Bank Sampah di Siak Produksi Pupuk Organik 10 Ton per Hari
M Iqbal May 07, 2026 10:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK-  Di tengah persoalan sampah yang kerap menjadi masalah lingkungan, sekelompok masyarakat di Kecamatan Siak berhasil mengubah limbah menjadi peluang usaha. Potensi penghasilan mereka bernilai jutaan rupiah perhari. 

Kelompok itu bernama Bank Sampah Buantan Bertuah, yang berada di kampung Buantan Besar, Kecamatan Siak. Mereka mengolah sampah organik menjadi pupuk yang memiliki nilai jual. Pupuk itu mulai dipasarkan kepada petani lokal.

Kamis (7/5/2026) siang, matahari begitu garang memuntahkan panasnya. Lima orang bapak-bapak tampak tak peduli. Mereka sibuk mengolah sampah menjadi pupuk meski harus bercucuran keringat. 

Ada yang mendorong gerobak berisi sampah dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) ke lokasi pengolahan. Jaraknya sekitar 150 meter. Dari onggokan sampah yang dilangsir, seorang lain tampak memasukkan sampah ke mesin pemisah. 

“Sampah organik menjadi halus dan sampah anorganik ini menjadi serpihan,” ujar Ketua Kelompok Bank Sampah Buantan Bertuah, Joko Miftahudin dengan ramah. 

Setelah itu, tumpukan sampah organik yang sudah halus dimasukkan lagi ke mesin pengayak untuk membersihkan. Hasilnya, sampah organik benar-benar menjadi halus dan sudah bersih dari serpihan sampah anorganik. 

Seorang lainnya mencampurkan sampah organik yang sudah bersih dengan arang limbah pabrik, dolomit dan pupuk kandang atau limbah peternakan. Setelah selesai dimix dengan takaran yang sudah ditentukan barulah dipackaging dalam karung ukuran 50 Kg. Pupuk sudah siap dijemput para pelanggan. 

“Produksi pupuk organik ini baru berjalan kurang lebih sebulan,” ujar Joko. 

Petani sekitar mengambil pupuk di sini. Seperti Green House Agro Siak Farm dengan komoditas tanaman melon premium. Selain itu juga para petani -petani di sekitar lokasi. 

“Mudah-mudahan nanti bisa masuk ke koperasi-koperasi, termasuk koperasi Merah Putih,” katanya. 

Joko bercerita, awalnya ia  melihat banyak peralatan dan mesin di TPA yang tidak terpakai. 

“Jadi kami memperbaiki dengan uang pribadi sehingga bermanfaat untuk memproduksi pupuk ini,” katanya. 

Pengolahan pupuk tersebut dilakukan di Tempat TPA Buantan Lestari. Mereka memanfaatkan fasilitas yang tersedia di lokasi pengolahan. Sedangkan bahan baku berasal dari sampah rumah tangga, limbah peternakan hingga arang sisa limbah pabrik. 

“Saat ini kapasitas produksi pupuk organik masih berada pada tahap awal yakni sekitar 10 ton per hari,” ujarnya. 
Ia menjelaskan, pihaknya menggunakan fasilitas dari TPA. Ia memanfaatkan semua peralatan yang ada di TPA tersebut.

Ia menjelaskan, pupuk organik hasil olahan kelompoknya dijual dengan harga Rp2.500 per kilogram. Pembeli dapat mengambil langsung di lokasi produksi.

Menurutnya, produksi pupuk organik tersebut masih akan terus ditingkatkan seiring operasional yang berjalan lebih maksimal. Ia berharap dukungan pemerintah dan semua stakeholder serta masyarakat. 


“Per hari itu 10 ton tahap kecilnya. Tapi setelah nantinya sudah produksi normal target kita satu bulan 100 ton,” ujarnya optimistik. 


Meski memiliki potensi ekonomi yang cukup besar, pengelola bank sampah masih menghadapi sejumlah kendala dalam proses produksi.


Salah satu hambatan adalah kurangnya alat transportasi untuk pengangkutan bahan baku. Mulai dari titik pembuangan menuju lokasi pengolahan.


Joko berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah, khususnya terkait armada transportasi dan pengembangan pengolahan limbah non-organik. 

“Limbah anorganik setelah dicacah menjadi serpihan hingga saat ini belum termanfaatkan, terpaksa dibuang kembali ke TPA,” ujarnya. 

Ia berharap produksi pupuk organik dapat berjalan lebih maksimal. Tentunya dengan memberikan dampak ekonomi lebih luas bagi masyarakat sekitar. Sementara itu juga berharap limbah anorganik bisa diolah pula hingga bernilai ekonomis. (Tribunpekanbaru.com/mayonal putra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.