Lima Pemuda Disabilitas Siak Dikirim ke Bogor, Muamar Tak Kuasa Menahan Tangis di Hadapan Bupati
M Iqbal May 07, 2026 10:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Muamar sudah berdiri sambil memeluk tas ranselnya di kantor Bupati Siak, Kamis (7/5/2026) pagi. Ia menunggu kedatangan Bupati Siak Afni Z terlebih dahulu. Koper kecil berwarna hitam tampak tidak baru lagi di bagian sudut menambah pemandangan kesederhanaannya. 

Muamar umurnya 22 tahun. Ia berasal dari Kampung Pusako, Kecamatan Pusako. Seorang penyandang disabilitas. 

Senyum merekah di bibirnya saat namanya dipanggil. Ia bukanlah seorang untuk masuk ke kantor bupati, tapi seorang dari lima yang akan bertemu bupati sebelum berangkat ke Bogor. 

Tak lama, Bupati pun tiba. Lalu menghampiri dan menjulurkan tangan kepada Muamar dan teman-temannya. Muamar tampak tertegun, air mukanya tampak haru, lalu menahan sabak. 

“Terimakasih Bu, atas dukungannya,” ucap Muammar dengan suara berat dan mata berkaca-kaca. 

Suara tangis itu akhirnya pecah. Ia menunduk sesaat, lalu kembali menatap wajah orang-orang yang berdiri di sekelilingnya. Di hadapan bupati, ia tak kuasa membendung air mata. Lalu sempat menutup matanya dengan tangan sambil tersedu. Ia dikuatkan bupati. Demi menambah ilmu dan pengalaman untuk meraih keterampilan, memang harus pergi merantau. Apalagi Muamar, terpilih dari program pusat. Meninggalkan Siak selama setengah tahun tidak mengapa demi masa depan yang lebih jelas. 

Bagi Muammar, perjalanan menuju Sentra Terpadu “Inten Soeweno” Bogor bukanlah  bepergian biasa ke luar daerah. Baginya, ini perjalanan menuju harapan yang selama ini terasa jauh dari jangkauan.

Selama ini, keterbatasan fisik kerap membuat langkahnya tidak mudah. Tetapi hari itu, rasa rendah diri yang dulu sering datang perlahan berubah menjadi keyakinan. Di Bogor nanti, ia akan mengikuti pelatihan las selama enam bulan. Ini program vokasional Kementerian Sosial.

“Ini kesempatan bagi saya untuk belajar agar lebih produktif dan ilmu yang didapat bisa diterapkan nantinya,” katanya.

Kalimat itu diucapkan dengan mata yang masih berkaca-kaca. Sesekali ia menghela napas panjang, seperti sedang menenangkan perasaan yang bercampur antara gugup dan bahagia. Ia mengaku tak pernah membayangkan bisa mendapat kesempatan belajar keterampilan secara langsung di lembaga pelatihan milik pemerintah pusat.

Di samping Muammar, empat pemuda disabilitas lain tampak sibuk berpamitan dengan keluarga mereka. Ada yang menggenggam tangan ibunya erat-erat, ada pula yang berkali-kali memastikan berkas keberangkatan tidak tertinggal. Suasana hari itu dipenuhi pelukan, doa, dan harapan yang tumbuh diam-diam di wajah para orangtua.

Bagi keluarga penyandang disabilitas di daerah, kesempatan seperti itu bukan perkara sederhana. Pelatihan vokasional selama enam bulan berarti membuka jalan baru menuju kemandirian. Sebab setelah pelatihan, para peserta diharapkan memiliki keterampilan kerja yang bisa digunakan untuk mencari nafkah.

Muammar memahami benar arti kesempatan tersebut. Karena itu, ia berjanji akan bersungguh-sungguh menjalani pelatihan.

“Alhamdulillah, saya terharu dengan kondisi seperti ini, bisa diberikan kesempatan untuk menimba ilmu yang lebih tinggi lagi,” ujarnya.

Bupati Siak, Afni Zulkifli, mengatakan para peserta yang berangkat merupakan anak-anak istimewa Kabupaten Siak yang diharapkan mampu bangkit dan bersaing di dunia kerja. Menurut dia, keterampilan yang diperoleh nantinya diharapkan dapat menjadi bekal untuk kehidupan mereka di masa depan.

“Semoga dengan adanya program pelatihan ini bisa memberikan ilmu yang berguna baik untuk diri sendiri, keluarga maupun Kabupaten Siak,” kata Afni.

Kelima peserta akan menjalani pelatihan di Sentra Terpadu “Inten Soeweno” Bogor mulai 22 April hingga 22 Oktober 2026 dengan pendampingan dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Siak.

Selain Muammar, peserta lain yang mengikuti pelatihan yakni Wahyu Ridho Padli asal Tambak Rejo, Sungai Mempura, M Syuhada dari Bandar Sungai, Hafiz Syahputra asal Teluk Kemas, Minas Timur, serta Davin Fatuh Gaulay dari Dayun.

Waktu terus berjalan. Satu per satu koper mulai diangkat ke kendaraan. Sebelum menaiki mobil, Muammar sempat menoleh ke belakang. Wajahnya masih menyimpan haru. Namun kali ini, di balik mata yang basah itu, tumbuh keyakinan baru bahwa masa depan ternyata juga menyediakan tempat bagi dirinya.

“Assalamualaikum,” ujarnya sambil melambaikan tangan lalu masuk ke kendaraan. Bupati dan jajaran, serta pihak keluarga para penyandang disabilitas yang beruntung ini ikut melambaikan tangan sambil tersenyum hari, sampai bus yang mengantarkan mereka lenyap dari pandangan.

(Tribunpekanbaru.com/mayonal putra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.