Tak Sekadar Keripik, Nyonya Patin Ubah Limbah Jadi Produk Bernilai Tinggi
Cak Sur May 07, 2026 10:32 PM

SURYA.CO.ID, LAMONGAN - Desa Waru Wetan, Kecamatan Pucuk, Lamongan, mungkin tidak terdengar familiar di telinga banyak orang. Namun dari desa kecil inilah lahir sebuah produk camilan yang kini dikenal di hampir seluruh penjuru Indonesia, bahkan menembus pasar mancanegara — keripik kulit ikan patin dengan merek dagang Nyonya Patin.

Di balik camilan renyah nan gurih itu, ada kisah perjuangan pasangan suami istri Ahmad Januar dan Elinda Eka Nurcahya yang memulai segalanya dari nol — bahkan dari sesuatu yang dianggap sampah.

Hadiah Ulang Tahun yang Tak Biasa

Cerita Nyonya Patin bermula dari momen yang tak terduga. Sekitar tahun 2016–2017, Ahmad Januar yang kala itu bekerja di perusahaan jasa pengiriman ikan, mendapati sesuatu yang menarik di sebuah pabrik pengolahan ikan di daerah Tulungagung: kulit ikan patin dibuang begitu saja.

"Waktu itu saya tanya, berapa ini? Dijawab, nggak usah, ambil aja, Saking dianggap limbah, malah kami yang dikasih, bukan bayar."

Ia pun membawa pulang sekitar 20 kilogram kulit ikan patin — gratis. Kebetulan, hari itu bertepatan dengan ulang tahun sang istri. Maka jadilah kulit ikan patin itu sebagai "hadiah ulang tahun" yang tak lazim namun penuh makna. Dari situlah mimpi besar dimulai, dengan modal awal hanya sekitar Rp200.000.

Proses Panjang Dari Nyonya Patin

Tidak ada yang instan dalam proses pembuatan Nyonya Patin. Kulit ikan patin segar diperoleh langsung dari pabrik-pabrik mitra di Tulungagung, Pacitan, hingga Sidoarjo. Setiap lembar kulit wajib dicuci satu per satu — bukan sekali, melainkan hingga 10 sampai 12 kali bilasan — menggunakan air mengalir bersih tanpa bahan kimia apa pun.

Setelah dicuci bersih, kulit melalui proses pembekuan, lalu perendaman dengan campuran pengawet alami dari bawang dan rempah pilihan selama tiga hingga empat hari. Total waktu produksi dari awal hingga siap jadi keripik bisa mencapai lima hingga tujuh hari.

"Metode kami ini tanpa dijemur, dan tahapannya sangat rumit. Kami yakin ini pertama kali di Indonesia, Dengan dua orang pekerja, kapasitas produksi bisa mencapai 150 kilogram kulit per hari.”

Perjalanan memasarkan Nyonya Patin tak semulus kerenyahan produknya. Pasangan ini ingat betul bagaimana mereka berkeliling dari toko ke toko di Malang hingga Jakarta untuk menitipkan produk — dan berkali-kali ditolak. Bahkan, keduanya pernah mengantar pesanan ke Surabaya dan Malang hanya menggunakan sepeda motor.

Elinda mengaku pernah berada di titik paling bawah: bekerja di pabrik, sambil berjualan, sambil mengasuh anak usia dua tahun. "Aku down banget, sampai nggak ingin usaha lagi," ungkapnya.

Namun titik balik datang saat Elinda mengikuti pelatihan dari sebuah marketplace besar. Nyonya Patin terpilih masuk ke platform tersebut dan mendapat dukungan promosi. Penjualan pun melonjak drastis. Elinda akhirnya bisa keluar dari pabrik dan fokus sepenuhnya pada usaha keluarga ini. Mereka juga sempat diundang ke podcast milik Kaesang Pangarep — momen yang disebut Elinda sebagai "titik balik hidup tertinggi".

Nyonya Patin bahkan masuk dalam top 25 produk UMKM pilihan marketplace nasional dan menjadi satu-satunya produk dari Jawa Timur yang terpilih mengikuti pameran UMKM di Jakarta yang dipelopori oleh Kaesang Pangarep dan sedianya dihadiri Presiden Jokowi pada November 2021. Wakil Presiden Ma'ruf Amin pun sempat tertarik pada produk ini saat berkunjung ke Surabaya.

Protein Tinggi, Harga Terjangkau, Pasar Mendunia

Keripik Nyonya Patin hadir dalam tiga varian rasa: original, sapi panggang, dan salted egg (telur asin) — dengan kemasan 160 gram. Dari sisi gizi, produk ini mengandung protein sebesar 19,8 persen per kemasan, lebih tinggi dibandingkan kacang almond.

Harganya pun bersaing di angka Rp25.000–Rp40.000 per kemasan, meski menghadapi kompetitor yang menjual produk serupa di kisaran Rp10.000–Rp15.000.

"Kami yakin dengan produk kami. Kepercayaan pelanggan adalah kekuatan kami," tegas Ahmad.

Kini Nyonya Patin telah memiliki konsumen di hampir seluruh wilayah Indonesia dan mulai merambah pasar internasional: Singapura, Sri Lanka, Arab Saudi, Turki, hingga Belanda. Selain itu, usaha ini juga memberdayakan warga sekitar Desa Waru Wetan sebagai tenaga kerja, memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat setempat.

Daihatsu Gran Max Jadi Andalan Distribusi

Di balik berkembangnya usaha Nyonya Patin, terdapat peran penting kendaraan operasional yang digunakan untuk distribusi. Mereka mengandalkan Daihatsu Gran Max sebagai armada utama.

Kendaraan ini digunakan untuk mengirim produk ke berbagai toko oleh-oleh hingga mitra distribusi. Kapasitas angkut yang besar serta performa yang stabil membuat proses distribusi lebih efisien.

“Yang penting irit, kuat, dan muat banyak. Ini sangat membantu usaha kami,” ujar Zanuar.

Dengan mobilitas yang tinggi, distribusi produk menjadi lebih lancar dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

ANDALAN DISTRIBUSI - Dalam mendukung distribusi usaha, pasangan suami istri Ahmad Januar dan Elinda Eka Nurcahya pemilik merek dagang Nyonya Patin mengandalkan kendaraan operasional Daihatsu Gran Max.
ANDALAN DISTRIBUSI - Dalam mendukung distribusi usaha, pasangan suami istri Ahmad Januar dan Elinda Eka Nurcahya pemilik merek dagang Nyonya Patin mengandalkan kendaraan operasional Daihatsu Gran Max. (istimewa)

Mlaku-Mlaku Jatim: Mengangkat Cerita UMKM Lokal

Kisah Nyonya Patin menjadi bagian dari program Mlaku-Mlaku Jatim, inisiatif Tribun Jatim bersama Daihatsu yang mengangkat perjalanan UMKM lokal di Jawa Timur.

Melalui program ini, berbagai usaha diperkenalkan tidak hanya dari sisi produk, tetapi juga cerita perjuangan di baliknya—bagaimana mereka menghadapi tantangan, berinovasi, dan terus berkembang.

Dengan menyusuri berbagai daerah, Mlaku-Mlaku Jatim menjadi jembatan untuk menghadirkan kisah inspiratif UMKM kepada masyarakat luas, sekaligus mendorong kebangkitan ekonomi lokal. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.