Data itu merupakan jumlah akumulasi hingga Kamis (7/5) waktu setempat. Lebanon mengatakan 8.438 orang lainnya mengalami luka-luka.
Dilansir l, Jumat (8/5/2026), serangan terbaru Israel di wilayah Lebanon terjadi pada Rabu (6/5) malam. Israel mengklaim serangan itu menghantam 20 situs infrastruktur kelompok Hizbullah.
Baik Israel maupun Hizbullah saling menuduh melanggar perjanjian gencatan senjata yang ditengahi bulan lalu antara Israel dan Lebanon. Kedua negara sempat sepakat melakukan gencatan senjata pada 17 April.
Sejak saat itu, militer Israel telah berulang kali membombardir beberapa bagian Lebanon. Pada hari Kamis (7/5), Pasukan Pertahanan Israel memperbarui seruan evakuasi untuk tiga desa di utara Sungai Litani, Lebanon, di luar zona pendudukan di selatan tempat militer mengatakan mereka menargetkan serangan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengutuk serangan Israel terhadap pusat-pusat medis dan paramedis. PBB memperingatkan bahwa serangan tersebut "merusak akses masyarakat terhadap perawatan dan membahayakan pasien dan petugas garda depan."
Laporan WHO pada Rabu (6/5) menyebutkan fasilitas perawatan kesehatan di Lebanon telah menerima 151 kali serangan dari tentara Israel.
Amerika Serikat akan menjadi tuan rumah putaran ketiga pembicaraan antara duta besar Israel dan Lebanon pekan depan. Sejauh ini, Presiden Lebanon Joseph Aoun menolak untuk terlibat dalam diskusi gencatan senjata tatap muka dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.





