Booth Experience Mengukir di UMKM Grande 2026 Pikat Pengunjung, Jepara Carver Kenalkan Seni Ukir
M Syofri Kurniawan May 08, 2026 08:56 AM

TRIBUNJATENG.COM SEMARANG - Satu di antara booth yang paling ramai dikunjungi dalam gelaran UMKM Grande 2026 di Pollux Mall Paragon Semarang adalah booth experience mengukir milik Jepara Carver.

Booth tersebut menghadirkan pengalaman langsung bagi pengunjung untuk mencoba seni ukir khas Jepara menggunakan alat dan media kayu yang telah disiapkan.

Di area booth, pengunjung tampak antusias duduk mencoba memegang tatah dan palu ukir sambil didampingi langsung oleh pengrajin.

Baca juga: Kembalikan Marwah Jepara Pusat Seni Ukir Nasional, Pameran TATAH 2026 Digelar di Museum Jakarta

Tidak sedikit anak muda hingga orang dewasa yang penasaran mencoba teknik dasar mengukir kayu khas Jepara.

Bahkan di sela kegiatan pembukaan, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jawa Tengah Mohamad Noor Nugroho turut mencoba mengukir kayu yang disediakan.

Pemilik Jepara Carver, Mugiono mengatakan, keikutsertaannya dalam UMKM Grande 2026 menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya ukir Jepara sekaligus mengenalkan seni tersebut kepada masyarakat luas.

"Selain sebagai pelestari budaya, juga kami mengapresiasi apa yang telah diberikan oleh Bank Indonesia kepada kami untuk ikut menyemarakkan acara UMKM setiap tahunnya, karena di sini saya sudah dua kali di tempat yang sama," kata Mugiono.

Menurut dia, minat masyarakat terhadap experience mengukir selama pameran berlangsung cukup tinggi. Banyak pengunjung yang mencoba langsung dan ternyata memiliki bakat dasar mengukir.

"Sangat antusias dari tahun kemarin," katanya.

Ia menilai kemampuan dasar mengukir sebenarnya dimiliki banyak orang, hanya perlu latihan dan pembiasaan.

"Ya, bisa dilihat dari cara pegang itu sudah seperti Mbak itu sudah luwes sekali kalau orang Jawa bilang, tidak kaku. Itu tinggal perlu jam terbang lagi lah ya istilahnya," ujarnya.

Selain menyediakan pengalaman mengukir, booth Jepara Carver juga memamerkan berbagai hasil karya berbahan kayu, mulai dari mangkuk, asbak, tempat buah hingga pajangan ukiran bernilai seni.

"Nah, ada hasil jadi seperti ini ini. Jadi kayak mangkuk-mangkuk asbak kayak itu ya. Bisa untuk tempat buah, bisa untuk asbak," katanya.

Dia menambahkan, satu di antara karya yang dipamerkan bahkan memiliki nilai religi dan telah dipasarkan hingga luar negeri.

“Kebetulan juga saya juga menyuplai seperti ini ke Yerusalem," ujar Mugiono sembari menunjuk salah satu karya ukiran yang dibawanya.

Tak hanya fokus pada produksi kerajinan, Mugiono juga aktif melakukan regenerasi pengukir muda melalui pelatihan ekstrakurikuler untuk anak-anak sekolah dasar di Jepara.

Workshop miliknya yang bernama Jepara Carver berada di dekat Rumah Sakit Kartini Jepara.

Di workshop tersebut, setiap hari Jumat ia membuka pelatihan mengukir bagi anak-anak SD sebagai bentuk kepeduliannya terhadap keberlangsungan seni ukir Jepara.

"Saya sebelumnya merasa prihatin karena anak saya atau lingkungan atau regenerasi untuk ukir itu sudah merosot sekali. Jadi saya melobi kepala sekolah SD yang notabene itu tetangga saya, minta jam sekolah ekstrakurikuler untuk mengedukasi anak-anak, belajar ngukir," ujarnya.

Menurutnya, pelatihan itu bukan bertujuan mencari keuntungan, melainkan menjaga warisan budaya leluhur agar tidak hilang di tengah perkembangan teknologi dan penggunaan gadget pada anak-anak.

“Saya tidak bertujuan untuk mencari hasil. Kalau hasil itu bonus. Hanya saya itu ya ada kejengkelan ya, karena sekarang kan gadget yang utama terutama game-nya itu. Anak saya sendiri juga begitu, menghabiskan waktu untuk gadget. (Kegiatan mengukir) Ini kan ada nilai edukasi juga, warisan leluhur juga. Walaupun tidak pandai, tapi dia setidak-tidaknya tahu untuk nilai-nilai ukiran itu," katanya.

Produk ramah lingkungan juga jadi fokus pelaku UMKM

Selain menghadirkan berbagai pengalaman bagi pengunjung, UMKM Grande 2026 juga menghadirkan deretan booth fesyen dan wastra.

Berbagai produk batik kontemporer hingga ready to wear tampil menarik dengan sentuhan modern.

Satu si antara booth yang menarik perhatian pengunjung adalah milik Metaflora, UMKM asal Pekalongan yang menghadirkan produk batik ramah lingkungan dengan desain minimalis modern.

Owner Metaflora, Elmatyas mengatakan, ciri khas utama produknya terletak pada penggunaan bahan alami dan pewarna natural.

"Kalau khasnya Metaflora sendiri itu sebenarnya yang pertama dari warnanya. Kita menggunakan pewarna alam indigo dan juga warna putih yang memang khas berasal dari serat kapas murni," ujarnya.

Menurutnya, warna putih pada kain Metaflora tidak melalui proses pemutihan sehingga tetap mempertahankan warna asli kapas.

"Jadi itu serat kapas murni itu kita enggak ada proses pemutihan sama sekali. Jadi warnanya itu natural enggak yang putih ngemplak," katanya.

Sementara untuk warna biru indigo, Metaflora menggunakan pewarna alami yang berasal dari tanaman indigofera.

"Dari pewarna alami daun indigofera," ujarnya.

Selain mengusung konsep sustainability, Metaflora juga menghadirkan inovasi desain dengan menyederhanakan motif batik tradisional agar lebih dekat dengan generasi muda.

"Jadi motifnya itu kita tetap pakai motif batik tradisional, tapi kita menjembatani antara budaya dan anak muda. Jadi kita sederhanakan lagi motifnya," kata Elmatyas.

Salah satu motif yang dikembangkan adalah motif tambal dengan pendekatan visual modern dan minimalis.

"Contohnya kayak motif tambal, motif tambal segitiga gitu kan. Tapi kita bikin sesederhana mungkin kayak gini nih," ujarnya.

Menariknya, proses pengembangan desain Metaflora juga dipengaruhi latar belakang pasangan Elmatyas yang merupakan seorang arsitek.

Ia menjelaskan, konsep cahaya dan gradasi dalam arsitektur diterapkan ke dalam pola batik sehingga menghasilkan desain yang lebih modern dan dinamis.

"Pasangan aku background-nya itu arsitek. Nah, jadi dia menerapkan ilmu arsiteknya itu atau prinsip-prinsip arsiteknya ke dalam batik ini," katanya.

Meski baru berjalan selama tiga tahun, Metaflora mulai mendapatkan pasar di sejumlah kota besar hingga luar negeri.

"Kita pasar utamanya di Jakarta dan di Bali," sebutnya.

Selain pasar domestik, lanjut dia, produk Metaflora juga mulai diminati konsumen di Jepang.

"Kalau luar negeri kita larinya ke Jepang," ujarnya.

Menurutnya, pasar Jepang maupun konsumen di Bali dan Jakarta memiliki ketertarikan yang hampir sama terhadap produk berbahan alami dan berkonsep sustainability.

"Sebenarnya sama saja ya mirip-mirip mereka lebih suka bahan yang natural dan berkonsep sustainability," terangnya.

Elmatyas mengatakan, konsep fesyen ramah lingkungan yang diusung Metaflora muncul sebagai respons terhadap isu lingkungan, khususnya kondisi industri batik di Pekalongan.

"Tapi sebenarnya kita menghadirkan warna alam indigo itu di Pekalongan itu kan kayak ada rumor batik dan limbah terus banyak sekali, sedangkan kita juga tidak ingin tenggelam. Makanya kita lari ke (bisnis produk yang lebih ramah) lingkungan," ujarnya.

Di UMKM Grande 2026, Metaflora menghadirkan berbagai produk mulai dari scarf, sweater, ready to wear hingga kain batik tulis lembaran.

Harga produk yang ditawarkan pun cukup beragam, mulai dari Rp300 ribu hingga Rp700 ribu. (Adv/idy)

Baca juga: Noor Hadi Bangun Bisnis Seni Ukir Kaligrafi Khas Jepara, Diminati Pembeli dari Malaysia hingga Turki

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.