Wakil Ketua MUI Tabalong Kalsel H Ahmad Surkati Paparkan Inti Penyakit Hati, Bisa Hancurkan Diri
Mulyadi Danu Saputra May 08, 2026 09:51 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Peduli sosial dan keseimbangan adalah kunci Islam ditegakkan. Makanya, seorang muslim harus memperhatikan kekuatan jasmani dan rohani. 

Kesatuan lahir batin ini sebagaimana kebahagiaan sejatinya dibangun secara utuh. Jika terpisah, akan ada yang kosong dan ini tidak bijak. 

Mengandalkan kesehatan ragawi saja, tanpa menghiraukan akhlak dan budi pekerti, akan mengundang masalah.

Maka perlu menata hati agar tidak dipenjara sifat-sifat merusak, termasuk sangka buruk yang menghancurkan diri dan orang lain.

Baca juga: Warga Kota Tanjung Kalsel Ini Bedakan Antara Waspada dan Berburuk Sangka, Begini Caranya

Berprasangka buruk terhadap seseorang, selain berpotensi melahirkan kejahatan lain, juga biang kerok dosa-dosa lainnya, karena dengki, emosi, dan menghukum kepribadian seseorang, personal judgement.

Allah menyatakan penyakit hati ini dengan,”Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa…” (QS Al-Hujurat ayat 12).

Umat Islam harus terbebas dari kondisi saling curiga dengan cara membersihkan hati, yakni mempertebal iman dan mempertajam keyakinan, Allah sajalah yang mengetahui hati seseorang.

Memperkuat keyakinan, hati seseorang dalam genggaman-Nya dan Allah yang Maha Mengetahui, maka tidak ada alasan yang benar dan pasti, kecuali meyakini hanya Allah yang menguasai hati.

Untuk itu, kesadaran ini harus selalu dihadirkan supaya hati tertata baik, tazkiyatun nafs dan dengan sendirinya hati terbimbing oleh iman yang menakjubkan raga dan rohani yang bertumpu pada hati yang baik dan menenteramkan.

Jika terlintas sangka buruk mulai merasuk, maka segera pindahkan getar rasa dengan berprasangka baik, sebab diperintah menjaga iman supaya tetap saling menyayangi satu dengan lainnya.

Sikap waspada bukan dilarang, namun merupakan ikhtiar seseorang agar berlaku benar pada diri dan lingkungan. Agama tidak melarang, karena ini bagian ketajaman pikiran dan hati.

Muslim sejati harus mengutamakan sikap santun yang dibangun oleh akuratnya ilmu pengetahuan dan pengalaman.

Berdasarkan kondisi ini akan ada berbagai petunjuk untuk bertindak benar dan membawa rahmat. Jika tidak, maka termasuk timpang dan tidak adil.

Agama tidak menginginkan umatnya bodoh dan lengah. Namun mesti seimbang dan bijak. Seseorang bisa dikatakan bodoh jika beragama asal-asalan dan tidak cerdas bersikap serta lembut hati.

Sangka buruk lahir dari kondisi ketidaktahuan, kurangnya kepasrahan diri, dan keraguan yang didominasi nafsu dan bisikan syaitan.

Sedangkan waspada adalah ketajaman batin yang dibangun berdasarkan data dan pengalaman.

Jika sebelumnya ada petunjuk seseorang telah berkhianat, fasik, maka perlu membaca tanda-tanda agar terjaga dari berbagai kemungkinan yang fatal.

Waspada pada musuh, orang jahat, Allah berfirman, “Wahai orang-orang beriman, bersiap siagalah kamu” (QS An-Nisa: 71).

Sementara Rasul menegaskan,”Ikatlah untamu, lalu bertawakkal.”(HR Tirmidzi). Mengikat adalah ikhtiar pasti agar tidak ada keraguan unta lepas.

(Banjarmasinpost.co.id/Dony Usman)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.