Tekad Merantau Demi Rumah Impian, Rani dan Aldi Sempat Dilarang Pergi Sebelum Laka Maut di Muratara
Weni Wahyuny May 08, 2026 11:32 AM

TRIBUNSUMSEL.COM - Pasangan suami istri Aldi Sulistiawan (26) dan Rani (24), beserta balitanya, Bela (1,8), menjadi korban tewas dalam kecelakaan maut bus ALS di Muratara, Sumatra Selatan.

Di balik tragedi kebakaran hebat tersebut, terselip kisah memilukan tentang perjuangan Aldi dan Rani, keluarga muda yang ingin hidup mandiri.

Hambali, orang tua dari Rani, tampak tegar meski raut kesedihan mendalam tak bisa disembunyikan saat tiba di Rumah Sakit Bhayangkara Palembang, Kamis (7/5/2026).

Ia mengaku kehilangan tiga anggota keluarga sekaligus dalam satu peristiwa: putrinya, menantu, dan cucu pertamanya yang masih balita.

Hambali menceritakan bahwa perjalanan anak dan menantunya menuju Pekanbaru, Riau, adalah untuk merantau demi membangun masa depan yang lebih baik.

Baca juga: Jerit Histeris Istri Sopir Bus ALS Menunggu Kepulangan Suami, Sempat Tak Percaya Jadi Korban Tewas

Rani dan Aldi memiliki tekad kuat untuk membangun rumah hasil jerih payah mereka sendiri di Lampung.

"Dia izin ingin usaha, hidup mandiri untuk membina rumah tangga. Katanya tidak mau terlalu merepotkan orang tua. Ingin punya rumah dari keringat sendiri," kenang Hambali kepada Tribunsumsel.com, Kamis (7/5/2026).

Kepergian mereka sebenarnya sempat meninggalkan keberatan di hati Hambali.

Pasalnya, ia bersama anggota keluarga lain sudah mulai menyicil bahan bangunan seperti semen dan pasir untuk membangunkan rumah bagi Rani di kampung halaman.

Namun, karena tekad sang anak yang begitu kuat untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit di Riau karena ajakan saudara, ia akhirnya luluh dan memberikan izin.

"Itu mau tidak mau (diizinkan) karena anak itu tekadnya benar-benar mau usaha, jadi kami izinkan walaupun berat hati," kata Hambali.

"Padahal aku sama kakak aku sudah patungan belikan pasir, semen, kubuat batako, kami bersihkan lokasinya. Setelah kami bersihkan, dia malah izin ingin merantau," sambungnya.

Perjalanan maut ini ternyata sempat tertunda hingga dua kali.

Sedianya, keluarga kecil ini berangkat pada hari Minggu menggunakan bus yang berbeda.

Mereka sempat tertinggal bus pertama karena perjalanan menuju loket terhambat oleh perlintasan kereta api.

Mereka hanya terlambat sekitar lima menit.

"Mereka ketinggalan bus. Itu awalnya mau naik bus Handoyo, tapi kelewat lima menit karena terhalang kereta. Mobilnya tidak sabar jadi langsung pergi pas hari Minggu," ujarnya.

Baca juga: Tim DVI Kesulitan Indentifikasi Korban Kecelakaan Bus ALS di Muratara, Karena Kondisi Rusak Terbakar

Upaya keberangkatan kedua kembali gagal karena bus yang dijadwalkan sudah penuh.

Akhirnya, mereka baru bisa berangkat pada Selasa pagi menggunakan bus ALS yang kemudian mengalami kecelakaan tragis tersebut.

Di tengah duka mendalam, Hambali menyampaikan pesan terbuka untuk perusahaan otobus (PO) dan otoritas transportasi ALS.

Ia meminta agar kelayakan armada menjadi prioritas utama agar tidak ada lagi nyawa yang melayang sia-sia di jalanan.

"Kami mohon, bus-bus yang sudah tidak layak dipakai, ya jangan dipakailah. Itu sebenarnya sudah tidak layak, dari sana ke sini sudah 'rewel' saja," tandas Hambali saat ditemui di RS Bhayangkara Palembang.

Tim DVI Kesulitan Identifikasi Bayi

Tim DVI Polda Sumsel di RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang masih melakukan proses identifikasi terhadap 16 korban kecelakaan Bus ALS dan truk tangki di Musi Rawas Utara hingga Kamis (7/5/2026) sore.

Proses identifikasi diperkirakan memakan waktu cukup lama mengingat kondisi para korban yang mengalami luka bakar parah. Salah satu korban meninggal diketahui seorang bayi perempuan berusia 1 tahun 8 bulan bernama Bela, putri dari pasangan Aldi Septiawan (26) dan Rani (24) yang juga menjadi korban tewas dalam kecelakaan tersebut.

Namun keluarga korban mendapat kabar bahwa proses identifikasi terhadap Bela mengalami kesulitan karena kondisi tubuh korban hangus terbakar.

“Tadi sudah diambil sampelnya, tapi untuk keponakan saya Bela itu sulit,” kata Hambali, ayah Rani, sambil tertunduk lesu.

Baca juga: Temukan Motor Hingga Tabung Gas,Korlantas Polri Akan Periksa Pemilik Bus ALS yang Tewaskan 16 Orang 

Hambali menjelaskan, tim DVI menyampaikan darah korban Bela sudah mengering sehingga sulit diambil sampelnya.

Sementara pengambilan sampel dari Rani yang diduga ibu korban telah dilakukan.

“Darah ibunya masih ada, katanya diambil dari kaki kiri dan kanan, tapi darah Bela sudah kering,” ungkapnya.

Sebagai alternatif, keluarga diminta membawa data pembanding lain seperti pakaian bekas korban yang belum dicuci. Namun keluarga mengaku kesulitan karena seluruh barang berada di Lampung dan membutuhkan waktu untuk mengambilnya.

“Kami disuruh membawa pakaian bekas Bela yang belum dicuci, tapi bagaimana mau mengambilnya, belum tentu juga masih ada. Kami sekarang bingung harus bagaimana,” katanya.

Sementara itu, Ketua Tim DVI Pusdokkes Polri Kombes Pol Wahyu Hidayati meminta keluarga bersabar karena proses identifikasi membutuhkan waktu cukup lama.

“Memang kondisi korban kurang menguntungkan sehingga membutuhkan waktu lebih lama. Untuk memastikan identitas bayi atau bukan, nanti akan dipastikan lebih lanjut,” ujar Wahyu.

Tim DVI Polda Sumsel telah mengumpulkan sampel dari 16 jenazah korban kecelakaan maut Bus ALS dan truk tangki yang terjadi di Jalan Lintas Sumatera, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara.

Sampel tersebut rencananya akan dikirim ke Laboratorium Pusdokkes Mabes Polri melalui jalur udara pada Jumat (8/5/2026).

Kepala RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang, Kombes Pol dr Budhi Susanto mengatakan, sampel DNA yang telah dikumpulkan akan dikirim menggunakan jalur protokol bandara.

“Rencana besok DNA yang sudah kami kumpulkan hari ini akan dikirim ke Laboratorium Pusdokkes Polri melalui jalur protokol bandara,” ujar Budhi saat merilis hasil pemeriksaan tim DVI, Kamis (7/5/2026).

Budhi menjelaskan, proses identifikasi mengalami kendala karena kondisi 16 jenazah rata-rata hangus terbakar hingga hampir 99 persen.

Tim DVI kesulitan mengambil bagian tubuh yang masih dapat dijadikan sampel DNA.

“Secara visual dan medis jenazah tidak bisa dikenali. Bahkan tulangnya mengalami pengeringan dan email gigi hancur. Sebisa mungkin kami mengambil bagian tubuh yang dapat dijadikan sampel,” katanya.

Dari pihak keluarga korban, tim DVI mengambil sampel DNA berupa air liur, rambut, dan gigi. Sementara dari jenazah, petugas berupaya mengambil bagian tubuh yang masih memungkinkan untuk diperiksa.

Hasil pencocokan DNA diperkirakan keluar paling cepat lima hari setelah sampel dikirim dan paling lambat dua minggu.

Sambil menunggu hasil pemeriksaan DNA di Laboratorium Pusdokkes Polri, tim DVI juga melakukan pencocokan data gigi para korban.

“Kami berharap bisa memberikan kepastian identitas korban kepada keluarga. Mohon doa agar seluruh korban dapat segera teridentifikasi,” ujar Budhi.

Menurutnya, hingga Kamis sore keluarga yang datang melapor baru berasal dari 11 korban, sehingga masih ada lima korban lain yang belum dilaporkan pihak keluarga.

“Hingga saat ini proses pemeriksaan jenazah dan pengambilan sampel DNA masih terus berlangsung dilakukan tim DVI,” ujarnya.

RS Bhayangkara Moh Hasan bersama Biddokkes Polda Sumsel, tim asistensi DVI Pusdokkes Polri, dan Dinas Kesehatan Provinsi terus berkolaborasi dalam proses identifikasi tersebut.

“Sambil menunggu hasil DNA, kami juga melakukan pencocokan data gigi korban agar dapat memberikan kepastian identitas kepada keluarga,” bebernya.

Ia meminta doa dan dukungan semua pihak agar proses identifikasi dapat berjalan lancar. Menurutnya, tim DVI tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, kepolisian, dan media dalam pengumpulan data ante-mortem korban. 

Daftar 16 Korban Tewas

Sebelumnya, kecelakaan maut antara bus ALS dan truk tangki minyak terjadi di Jalinsum Muratara, tepatnya di Kelurahan Karang Jaya, Kecamatan Karang Jaya, pada Rabu (6/5/2026).

Akibat kecelakaan tersebut, 16 orang tewas di tempat dengan kondisi terbakar, tiga orang mengalami luka berat, dan satu orang luka ringan.

Seluruh korban tewas telah dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara di Kota Palembang untuk proses identifikasi lebih lanjut.

Identitas Korban Meninggal Dunia:

  1. Aryanto (49) – Pengemudi Mobil Tangki Seleraya (Warga Lubuklinggau).
  2. Martoni (48) – Penumpang Mobil Tangki Seleraya (Warga Musi Rawas Utara).
  3. Alif (44) – Pengemudi Bus ALS (Warga Jawa Tengah).
  4. Saf (50) – Kernet Bus ALS (Warga Medan).
  5. Maleh (42) – Kru Bus ALS (Warga Medan).
  6. Relodo – Penumpang Bus ALS.
  7. Zulkifli – Penumpang Bus ALS.
  8. Aldi Sulistiawan – Penumpang Bus ALS.
  9. Rani – Penumpang Bus ALS (Istri Aldi Sulistiawan).
  10. Bela – Penumpang Bus ALS (Anak dari Aldi dan Rani).
  11. Celinton – Penumpang Bus ALS.
  12. Hisyamsiah Bachri – Penumpang Bus ALS.
  13. Sukardi – Penumpang Bus ALS.
  14. Salim – Penumpang Bus ALS.
  15. Budiyanto – Penumpang Bus ALS.
  16. Barhul Ulum – Penumpang Bus ALS.

4 Korban Selamat

Adapun korban selamat dalam kecelakaan tersebut yakni:

  • Jumiatun (35), warga Pati, Jawa Tengah.
  • Ngadiono (44), warga Pati.
  • Muhammad Fahrul Hubaidi (31), warga Tegal, yang mengalami luka bakar dan dirawat di RSUD Rupit.
  • M. Fadli bin Ibrahim (30), kenek Bus ALS asal Riau, selamat dengan luka ringan.

Dr Budhi juga mengungkapkan tiga korban selamat yang masih dirawat di RSUD Rupit, yakni Ngadiono (44) warga Pati, Jawa Tengah, Jumiatun (35), dan M Tarul (31), direncanakan akan dievakuasi menggunakan helikopter maupun jalur darat untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Kecelakaan itu terjadi di Jalan Lintas Sumatera, Kecamatan Karang Jaya, Musi Rawas Utara pada Rabu (6/5/2026) siang. Tabrakan kencang antara bus ALS dan truk tangki itu langsung mengeluarkan api.

Akibat kecelakaan itu, 16 orang dinyatakan meninggal dunia.

Kasatlantas Polres Musi Rawas Utara AKP M Karim menerangkan, pengemudi bus ALS, yaitu Alif (44) asal Jawa Tengah meninggal terbakar.  

Sementara itu, seorang kernet yang bernama M Fadli asal Riau mengalami luka gores karena memecahkan kaca bus.

Karim mengatakan bahwa penyebab tabrakan antara ALS dan truk tangki diduga karena bus mencoba untuk menghindari lubang jalan yang tidak rata.

“Bus ALS diduga menghindari lubang sehingga adu kambing dengan truk mobil tangki,” kata Karim. Api pun langsung muncul akibat tabrakan tersebut, kemudian segera membakar dan menghanguskan seluruh bagian bus dan truk.

Kanit Gakkum Satlantas Polres Musi Rawas Utara, Aiptu Iin Shodikin, mengungkapkan tabrakan bus ALS dan truk tangki itu berlangsung sekitar pukul 12.00 WIB.

Bus ALS yang membawa belasan penumpang itu tengah melaju dari arah Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan menuju Jambi.

Pada saat bersamaan, datang truk tangki yang dikendarai Yanto bersama Martini sebagai kernet datang dari arah berlawanan.

“Sesampainya di TKP, diduga bus ALS masuk ke jalur berlawanan sehingga menabrak mobil tangki BBM tersebut,” jelas Iin, Rabu (6/5/2026).

Truk tangki yang membawa minyak tersebut pun langsung terbakar setelah ditabrak bus ALS.

Api kemudian langsung menyambar badan bus ALS. Para penumpang yang terjebak di dalam bus tak bisa menyelamatkan diri. (Aggi Suzatri/Angga Azka/Tribunsumsel)

(*)

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.