Sosok dan Peran Kuswandi Diduga Bantu Pelarian Kiai Ashari dari Polisi, Dibayar Ro 150 Juta
Evan Saputra May 08, 2026 10:03 PM

 

BANGKAPOS.COM -- Kabur dari kejaran polisi, Kiai Ashari ternyata diduga dibantu oleh Kuswandi.

Kuswanti merupakan sosok yang diduga merencanakan pelarian Ashari dari kejaran polisi terkait kasus pencabulan puluhan santriwati.

Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Kapolresta Pati Kombes Pol Jaka Wahyudi mengatakan.

"Ia diduga membantu mulai dari perencanaan, proses pelarian, hingga cara menghapus jejak tersangka," ujar Jaka.

KS alias Kuswandi mengungkap alasan dirinya bersedia membantu Ashari (51), pendiri Pondok Pesantren Ndholo Kusumo Pati

Ia mengaku percaya bahwa Ashari tidak bersalah setelah mendengar langsung penjelasan dari sang kiai maupun orang-orang terdekatnya.

Baca juga: Terkuak Keberadaan Istri Kiai Ashari saat Suami Lecehkan Santriwati, Ayah Korban Ungkap Gelagat Aneh

"Karena dia kiai, dia bilang demi Allah tidak berbuat zina. Saya pun siap membantu. Karena pembuktian zina kan tidak sembarangan. Proses hukumnya juga saya belum tahu."

"Saya sama Pak Ashari sudah kenal lama tapi tidak akrab," kata KS di Satreskrim Polresta Pati, dikutip dari Tribun Jateng, Kamis (7/5/2026).

Meski demikian, polisi saat ini masih mendalami peran KS terkait dugaan membantu pelarian Ashari yang sempat buron sebelum akhirnya ditangkap di Wonogiri.

KS menceritakan, awalnya ia didatangi Miftah yang disebut sebagai menantu Ashari.

Menurut dia, Miftah meyakinkan bahwa Ashari tidak melakukan perbuatan seperti yang dituduhkan.

"Awalnya Pak Ustaz Miftah itu datang ke rumah malam-malam. Dia bilang, 'Pak Kus, Pak (Ashari) ini tidak bersalah demi Allah. Terus Senin (4/5/2026) itu dia mau dipanggil polisi, tapi dia enggak mau datang karena takut ditangkap.' Jadi bukan saya yang ngasih saran (untuk mangkir). Karena saya di tengah-tengah ya saya diam aja," ujar KS.

KS mengaku kemudian bertemu langsung dengan Ashari di Kabupaten Kudus pada Minggu (3/5/2026).

Dalam pertemuan itu, Ashari disebut menyampaikan keinginannya untuk pergi meninggalkan Pati.

"Pak Ashari bilang, 'Pak Kus, pokoknya saya nggak mau ditangkap. Saya pokoknya, cara saya lah, mau keluar (bepergian) saja,'" kata KS.

KS juga mengakui menerima uang Rp 150 juta dari pihak Ashari melalui Miftah.

Namun, ia mengeklaim uang tersebut digunakan untuk biaya operasional dan mencari penasihat hukum baru bagi Ashari.

"Itu katanya buat bantu cari lawyer, untuk operasional saya, makan, dan sebagainya," katanya.

Menurut KS, pihak Ashari saat itu memang ingin mengganti pengacara karena tidak puas dengan penasihat hukum sebelumnya.

KS mengaku sempat pergi ke Bekasi untuk bertemu pengacara baru di sebuah apartemen.

"Kemarin sore itu saya sebetulnya mau balik ke Pati menyelesaikan kasus ini. Saya bahkan sempat telepon Pak Ashari, saya minta beliau pulang ke Pati karena saya sudah dapat pengacara."

"Pak Ashari nggak mau, bilang sedang di Wonogiri. Tapi (sebelum pulang ke Pati) saya sudah dijemput (oleh polisi) di Bekasi. Polisi tanya, saya kasih tahu Pak Ashari di Wonogiri. Saya diajak ke sana," ujar KS.

Saat ini, tersangka Ashari dan Kuswandi yang diduga membantunya melarikan diri telah diamankan di Mapolresta Pati untuk proses hukum lebih lanjut.

Namun, sejauh ini Kuswandi masih berstatus sebagai saksi.

Korban Ashari Ngaku Diminta Tidur Bareng

Salah satu korban pelecehan Ashari, Tari, ngaku disuruh tidur bareng dengan pengasuh Ponpes Ndolo Kusumo tersebut.

Saat mengajak tidur bareng, Ashari beralasan ingin menyembuhkan penyakit yang ada dalam diri Tari.

Menurut penerawangan Ashari, Tari memiliki penyakit iri hati dan juga dengki.

Oleh karenanya, dengan modus tidur bersama, Ashari mencoba meyakinkan Tari bahwa penyakitnya tersebut akan hilang.

Adapun pengakuan mengejutkan ini disampaikan Tari saat ia hadir dalam Podcast Denny Sumargo.

Tari adalah satu di antara puluhan santriwati yang diduga pernah dilecehkan Kiai Ashari.

Dalam podcast bersama artis Denny Sumargo, Tari menceritakan awal mula dirinya diperlakukan tak senonoh oleh Ashari.

Kejadian bermula saat Tari duduk di kelas 9 SMP.

Di pesantren tersebut, Tari yang sudah karib dengan Kiai Ashari secara tiba-tiba disuruh untuk memijat pemilik ponpes tersebut.

Setelah disuruh pijat, wajah Tari pun dicium.

Namun kata Tari, kebiasaan Kiai Ashari mencium wanita itu adalah hal lumrah yang dilakukannya di lingkungan pesantren.

"Awal mulanya disuruh mijetin. Terus dicium. Kalau udah selesai kan pamitan, terus dicium (pipi kanan kiri bibir), di situ biasa, kalau sudah ndalem sama pak Kiai biasa. Tapi kalau santri biasa cuma salam tangan," ungkap Tari.

Seiring berjalannya waktu, Tari tak cuma disuruh memijat Ashari saja.

Ia juga diminta beberapa kali menemani sang Kiai berziarah hingga datang ke acara sholawatan.

Di situlah Tari mendapatkan perlakuan tak biasa yakni disuruh menemani Kiai Ashari tidur di kamar.

"Berjalannya seiring waktu, terus bertahap, sering diajak ziarah, diajak pergi sholawatan. Biasanya berdua, biasanya rame-rame. Kalau santri kan melekatnya harus tawadu," pungkas Tari.

"Pas ziarah enggak ada perbuatan aneh-aneh?" tanya Denny Sumargo alias Densu.

"Kalau abis ziarah sama sholawatan, biasanya langsung diajak nemenin tidur. Enggak sampai berhubungan sih," ujar Tari.

"Tidur maksudnya tidur satu kamar? lah dalilnya apa?" tanya Densu penasaran.

"Kalau kesannya itu, katanya, di sana kan ada guru torikoh, bilangnya disuruh guru torikoh itu, ini bagian dari nyembuhin sakit," jawab Tari.

Terkejut mendengar cerita Tari, Densu pun kembali bertanya.

Hingga Tari pun blak-blakan soal alibi Ashari nekat mengajak santriwatinya tidur bareng di kamar.

Kata Tari, Ashari menyebut bahwa dengan tidur bareng dengannya, penyakit iri dengki di hati Tari bisa sembuh.

"Lah emangnya kamu sakit?" tanya Densu.

"Katanya gitu, saya banyak iri, saya banyak penyakit dalam, semacam iri dengki, banyak fitnah," ujar Tari.

"Oh jadi ceritanya dia melihat kamu, terus dia menerawang," pungkas Densu.

"Iya. (Kata kiai) 'kamu itu banyak sakitnya, kamu itu iri dengki, obatnya gini'," ucap Tari.

"Oh obatnya tidur bareng?" tanya Densu.

"Iya, salah satu obat. Aku enggak nangkepnya gimana gimana. Cuma aku mikir 'emang aku seburuk itu'. Kadang mau kadang menolak juga. Takut sih pak, aku enggak pernah tidur beneran, cuma merem aja," ungkap Tari.

Setelah sering diajak tidur bareng, Tari pun kian syok saat diminta melakukan hal menjijikan.

Yaitu Tari disuruh memasukkan alat kelamin Ashari ke mulutnya.

Lagi-lagi, Ashari mengurai alasan aneh agar santriwatinya melakukan hal tak senonoh tersebut.

"Pernah satu kejadian pak Kiai sampai bilang disuruh emut (alat kelamin), biar nanti ada darah daging di tubuh saya," ungkap Tari.

"Inisial A ini keinginanya itu memasukkan alat kelaminnya di mulut, ditelan, agar diakui nabi dan umat dan guru torikohnya," sambung pengacara Tari.

(Bangkapos.com/TribunJateng.com/TribunnewsBogor.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.