Obat di RSUDZA Dipastikan Tersedia dan Ditanggung JKA
Faisal Zamzami May 08, 2026 10:24 PM

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUDZA) memastikan ketersediaan obat bagi pasien di rumah tersebut tetap terpenuhi dan ditanggung melalui program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA)

Direktur RSUD dr Zainoel Abidin, dr Muhazar, menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir terkait pelayanan obat, termasuk bagi pasien yang masuk dalam kategori desil 8-10.

“Ditanggung (obat). Desil tidak ada persoalan bagi kita. Kalaupun desilnya, misal desil 8 atau 9, jika pasien yang tidak mampu, kita masukkan ke JKA,” kata Muhazar usai menerima kunjungan kerja kunjungan Tim Pansus LKPJ DPRA ke RSUDZA dalam rangka evaluasi terhadap pelayanan kesehatan dan tata kelola rumah sakit milik Pemerintah Aceh tersebut, Jumat (8/5/2026).

Muhazar mengakui saat ini distribusi obat fi rumah sakit pelat merah itu memang dalam kondisi tertatih. Hal tersebut terjadi karena adanya kendala pada distribusi dari pihak vendor. Namun, ia secara tegas membantah bahwa RSUDZA mengalami krisis obat.

“Soal obat-obatan kita tertatih memang, tapi bukan dalam arti tidak mampu menyediakan. Kita dipending oleh pihak vendor. Kita menyampaikan obat itu 400 ribu pcs per 3 bulan, dia merealisasikan hanya sebagian,” ujarnya.

Baca juga: Pansus DPRA Sorot Persoalan Pelayanan RSUDZA, Singgung Soal Utang dan Ketersediaan Obat


Muhazar menambahkan, keterlambatan distribusi obat tersebut berdampak pada pelayanan di rumah sakit, termasuk antrean pasien yang lebih lama. Namun pihak rumah sakit memastikan seluruh kebutuhan pasien tetap dipenuhi.

Sementara itu, Plt Wakil Direktur Penunjang RSUDZA, dr M Fuad, mengatakan obat-obatan vital bagi pasien dipastikan tetap tersedia meski kondisi keuangan rumah sakit cukup berat karena harus menanggung beban utang sebelumnya.

“Nah, untuk obat-obatan dan BMHP (Bahan Medis Habis Pakai), memang di-hold, dikunci dari pihak distributor sehingga ini hal yang agak sangat sulit, sehubungan dengan apa yang terjadi saat ini,” kata Fuad.

Ia menyebut, bahwa manajemen RSUDZA terus berupaya bernegosiasi dengan distributor dan bekerja sama denga Kimia Farma untuk memastikan tidak terjadi kekosongan obat.

“Kami selalu berusaha untuk bernegosiasi dengan mereka untuk selalu bisa diedarkan, terutama obat-obat yang sifatnya sangat vital. Nah, obat-obat yang sangat vital itu insyaallah kami bisa menjamin ini akan terpenuhi selalu,” ujarnya.

Baca juga: Tim Pansus LKPJ DPRA Periksa Layanan Kesehatan & Realisasi Keuangan RSUDZA

Sementara, untuk obat-obat yang sifatnya bukan vital, tetapi sangat penting seperti obat untuk kemoterapi, saat ini sangat sulit di RSUDZA. Namun pihaknya bekerja sama dengan Kimia Farma agar ketersediaanya selalu ada.

Ia menjelaskan jika obat yang dijanjikan belum juga tersedia dalam waktu satu minggu, biasanya karena stok di seluruh jaringan Kimia Farma Banda Aceh juga kosong dan harus didatangkan dari luar daerah.

“Jika benar-benar (obat) tidak ada yang mungkin sampai kejadian seminggu sudah dijanjikan tidak ada juga, berarti Kimia Farma di Banda Aceh di mana-mana enggak ada. Ini yang harus didatangkan dari luar, sehingga kami sudah yakin menjanjikan seminggu,” ujarnya.

“Tapi kalau pas seminggu enggak sampai?. ini yang mungkin menjadi kendala buat kami karena kita sudah berjanji dan ini mungkin akan tertunda satu dua hari lagi. Biasanya kalau sudah ada kita akan hubungi pasien atau keluarga pasien untuk mengambil obat. Nah, selama ini itu berjalan dengan baik walaupun kami dengan tertatih-tatih,” lanjutnya.

Fuad menambahkan, secara operasional pembiayaan layanan melalui BPJS masih dapat berjalan. Namun anggaran tahun berjalan cukup berat karena juga harus menutupi utang operasional sebelumnya.

“Nah, kalau anggaran tahun ini berpikir untuk utang ke belakang, ini sangat berat buat kami. Jadi kami sangat mengharap bantuan,” pungkas Fuad.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.