Badan Bahasa Berharap Para Misionaris Indonesia Jadi Duta-duta Bahasa di Berbagai Negara Tujuan
Elfan Fajar Nugroho May 08, 2026 10:40 PM

TRIBUNWOW.COM - Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berharap para misionaris dari Indonesia dapat menjadi duta-duta bahasa di negara tujuan misi. 

Sebagai tindak lanjut dari harapan ini, Badan Bahasa akan bekerjasama dengan para misionaris Indonesia yang berkarya di lebih dari 80 negara. 

Penegasan itu disampaikan Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin saat menerima kehadiran Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komisi Komsos KWI) yang didampingi Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) di Kantor Badan Bahasa, Jakarta, Kamis (07/05/2026).  

Kehadiran KWI tersebut sebagai pemenuhan undangan Badan Bahasa terkait dengan penggunaan bahasa Indonesia secara resmi oleh Takhta Suci yang diawali dengan penandatanganan MOU antara Komisi Komsos KWI dan Dikasteri (Kementerian) Komunikasi Vatikan, di Vatikan, Rabu (25/03/2026).  

Dalam pertemuan tersebut, Hafidz Muksin didampingi jajarannya termasuk Ganjar Harimansyah (Sekretaris Badan) dan Iwa Lukmana (Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra). Sementara Komisi Komsos KWI diwakili oleh Rm Petrus Noegroho Agoeng (Sekretaris Eksekutif) yang didampingi Abdi Susanto (Anggota Badan Pengurus) dan Stefani Irawati (Staf).  

Sementara dari PWKI hadir, AM Putut Prabantoro (Founder), Asni Ovier Dengen Paluin (Ketua), Yophiandi Kurniawan dan Algooth Putranto (Hubungan Luar Negeri) serta Stanislaus Jumar Sudiyana (Sekretaris). 

Menurut Rm Noegroho Agoeng, dirinya menyambut hangat harapan  Badan Bahasa tersebut. Namun demikian, kerjasama itu tidak bisa dilakukan langsung dengan para misionaris. 

Itu harus dilaksanakan dengan beberapa pihak termasuk, keuskupan masing-masing, tarekat, kongregasi atau juga ordo yang ada di Indonesia. Karena secara nyata, merekalah yang memiliki para misionaris. 

“Ini akan menjadi potensi dan gerakan yang luar biasa. Pertemuan budaya termasuk bahasa antar dua negara terjadi di akar rumput. Untuk masuk ke masyarakat destinasi misi, para misionaris akan belajar budaya dan tradisi termasuk bahasa negara tujuan misi. Dan sebaliknya, biasanya, para misionaris juga akan memerkenalkan budaya termasuk bahasa Indonesia ke masyarakat tujuan misi,” ujar Rm Agoeng. 

Harapan tawaran kerja sama Badan Bahasa tersebut merupakan tanggapan atas penjelasan Putut Prabantoro terkait perjalanan MOU penggunaan secara resmi Bahasa Indonesia oleh Vatican News, yang merupakan media resmi Takhta Suci (Vatikan). 

Menurut Putut, Indonesia merupakan negara terbesar dalam mengirimkan para misionaris ke seluruh penjuru dunia. Dan penggunaan bahasa Indonesia secara resmi pada Vatican News dapat membantu para misionaris menerima informasi penting dari Takhta Suci (Vatikan).  

Melalui para misionaris budaya Indonesia termasuk bahasa secara tidak langsung diperkenalkan kepada masyarakat di negara tujuan misi.

“Saya juga  berharap suatu saat, bahasa Indonesia akan  digunakan secara resmi di banyak negara, termasuk di Timur Tengah. Vatikan merupakan negara kedua setelah AS yang memiliki hubungan diplomatik terbanyak yakni 186 negara. Jadi ini tidak hanya soal agama tetapi soal _soft diplomacy, yang dilakukan diaspora termasuk para misionaris  di seluruh dunia,” ujar Putut Prabantoro. 

“Bukan sekedar menerjemahkan menggunakan AI. Dan ini tidak sama dengan menerjemahkan isi Vatican News ke dalam bahasa Indonesia semata.” ujarnya.  

Terkait dengan misionaris, Hafidz melihat bahwa para misionaris dapat menjadi sarana bagi pengembangan bahasa Indonesia. ”Bahasa Indonesia dibawa para misionaris sebagai duta atau pengajar bahasa Indonesia di tempat misi mereka. Karena selain misi keagamaan juga membawa misi budaya, yang sesuai dengan Indonesia,” ujarnya.

“Bahkan kerja sama dapat melalui fasilitasi tes UKBI atau Uji Kemahairan Berbahasa Indonesia bagi para misionaris. Kerja sama dengan forum wartawan dapat berbentuk, media diplomasi, advokasi, dan publikasi.

Samindo

Di tempat terpisah Ketua PWKI Ovier Paluin, menjelaskan bahwa gagasan Kepala Badan Bahasa untuk bekerja sama tersebut secara tidak langsung membutuhkan beberapa langkah persiapan termasuk institusi lintas ordo, kongregasi ataupun keuskupan untuk merangkul seluruh misionaris yang berkarya di berbagai belahan dunia.  

“Sebagian besar para misionaris berasal dari provinsi Nusa Tenggara Timur.  Dan Paus Fransiskus pada Februari 2022 mengakui peran Indonesia terkait misionaris tersebut. Gagasan membentuk komunikasi bagi para misionaris seluruh dunia sudah berjalan. Komunitas misionaris yang dibentuk melalui grup WA yang dinamai Sahabat Misionaris Indonesia atau Samindo. Samindo itu digagas oleh Rm Leo Mali dan Rm Paul Hale SSCC dan mas Putut Prabantoro,” jelas Ovier.

Menurut Yophiandi Kurniawan, pembentukan Samindo muncul saat pandemi covid. Untuk membantu para misionaris yang pulang ke Indonesia saat covid, dibentuklah WA Group SAMINDO pada 3 Juni 2021 untuk berkomunikasi. WA Group Samindo ini kemudian menjadi media komunikasi misionaris seluruh dunia hingga sekarang. 

“Pada Mei 2022,  untuk pertama kali diadakan kegiatan misa bersama yang dipersembahkan bagi misionaris yang berkarya di seluruh dunia. Kegiatan Mei 2022  merupakan kerja sama antara PWKI, IRRIKA (Ikatan Rohaniwan-Rohaniwati di Kota Abadi atau Roma) dan KKI (Keluarga Katolik Indonesia). Dubes RI Untuk Takhta Suci Amrih Jinangkung ikut membantu  dan mendukung kegiatan tersebut,” tandas Yophi.

Pada Juni 2022, Yophi melanjutkan, sebagai panitia penyelenggara kegiatan tersebut, PWKI ke Vatikan untuk memintakan berkat kepausan bagi para misionaris di seluruh dunia. 

Berkat itu diberikan melalui pembubuhan tandatangan Paus Fransiskus secara langsung  pada piagam yang sudah dibawa dari Indonesia.

Rencana pembentukan Samindo secara resmi mendapat dukungan dari beberapa uskup NTT secara lisan termasuk Uskup Agung Ende, Mgr Budi Kleden SVD. 

Selain bertujuan membangun komunikasi antar misionaris seluruh dunia, gerakan ini juga untuk membantu para misionaris yang kembali ke Indonesia. Samindo melibatkan kaum awam untuk mendukung para misionaris yang berkarya di berbagai negara. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.