Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Robert Ropo
TRIBUNFLORES.COM, RUTENG – Universitas Katolik (Unika) Santu Paulus Ruteng sukses mencatat sejarah baru di dunia akademik Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah pasangan suami-istri dosen aktifnya dikukuhkan sebagai Guru Besar atau profesor.
Dua dosen yang berstatus suami istri tersebut yakni Prof. Dr. Sebastianus Menggo, M.Pd. dan Prof. Dr. Sabina Ndiung, M.Pd.
Prof. Dr. Sebastianus Menggo, M.Pd telah dikukuhkan sebelumnya sebagai guru besar bidang pembelajaran matematika pendidikan dasar /asesmen pembelajaran matematika pendidikan dasar.
Sementara itu Prof. Dr. Sabina Ndiung, M.Pd dikukuhkan bersama Uskup Labuan Bajo, Prof Dr Maksimus Regus, S.Fil, M. Si di Aula GUT Lantai 5 Unika Santu Paulus Ruteng, dipimpin oleh Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Prof. Dr. Adrianus Amheka, ST., M.Eng, Jumat 8 Mei 2026.
Baca juga: Unika Santu Paulus Ruteng Miliki Dua Guru Besar Baru, Ini Harapan Ketua Yayasan
Prof. Sabina Ndiung sendiri menjadi sorotan karena tercatat sebagai dosen perempuan pertama di Unika Santu Paulus Ruteng yang meraih jabatan profesor di bidang Pembelajaran Matematika Pendidikan Dasar dan Asesmen Pembelajaran Matematika Pendidikan Dasar.
Ia mengaku pencapaian tersebut merupakan buah dari kerja keras, ketekunan serta anugerah Tuhan dalam perjalanan karier akademiknya.
“Ini adalah berkat Tuhan dan hasil proses panjang yang saya jalani dengan penuh syukur,” ujarnya.
Pada sisi lain, Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, mencatat sejarah sebagai uskup ke-4 di Indonesia yang menyandang gelar profesor, sekaligus menjadi tokoh agama Katolik dan Protestan pertama di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meraih jabatan akademik tertinggi tersebut.
Pencapaian ini disampaikan Kepala Lembaga LLDIKTI Wilayah XV, Prof. Dr. Adrianus Amheka, ST., M.Eng, dalam sambutannya saat mengukuhkan dua Guru Besar Universitas Katolik (Unika) Santu Paulus Ruteng, Jumat (8/5/2026).
Ia menegaskan, capaian Prof. Maksimus di bidang Pendidikan Sosial Agama dan Multikulturalisme memberi kontribusi penting bagi penguatan nilai keagamaan, kemasyarakatan serta keberagaman budaya.
Menurut Prof. Adrianus, pengukuhan guru besar merupakan prosesi formal akademik yang menjaga kehormatan jabatan tertinggi seorang dosen sekaligus memperkuat wibawa institusi perguruan tinggi.
Ia menambahkan, kualitas dosen yang mencapai gelar profesor akan berdampak langsung pada peningkatan mutu pendidikan di kampus, khususnya di Unika Santu Paulus Ruteng.
Ia juga menyoroti masih terbatasnya jumlah profesor di NTT. Saat ini, Unika Santu Paulus Ruteng telah memiliki lima profesor aktif setelah pengukuhan dua guru besar tersebut.
Prof. Adrianus berharap semakin banyak lahir profesor baru dari kampus tersebut guna mendukung pembangunan pendidikan di daerah.
Sementara itu, Mgr. Maksimus Regus menyampaikan rasa syukur atas pencapaian yang diraihnya. Ia menyebut gelar profesor ini bukan hanya anugerah pribadi tetapi juga rahmat bagi banyak orang.
“Perasaan penuh syukur atas penghargaan ini. Ini bukan hanya anugerah bagi saya, tetapi rahmat bagi semua,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya menjaga harmoni dalam kehidupan beragama, sosial dan budaya. Menurutnya, keberagaman harus dirawat melalui semangat kebersamaan dan persaudaraan.