Jelang Muktamar ke-35 NU, Gus Salam Disebut Punya Visi dan Roadmap yang Jelas
Glery Lazuardi May 09, 2026 12:38 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dukungan terhadap KH Abdussalam Shohib untuk maju dalam bursa Ketua Umum PBNU jelang Muktamar ke-35 NU terus menguat. Kali ini, sejumlah kiai pengasuh pondok pesantren di Sarang, Rembang, disebut sepakat merestui dan mendoakan Gus Salam untuk menakhodai PBNU.

Dukungan itu mengemuka usai rangkaian sowan dan silaturrohim Gus Salam ke sejumlah kiai sepuh di Jawa Tengah, Jumat (8/5/2026), termasuk ke kediaman Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh di PP Al-Itqon Bugen, Semarang.

Dalam keterangannya, Gus Salam mengaku bersyukur dapat kembali sowan ke para guru dan masyayikh pesantren, termasuk ke keluarga besar PP Ma’hadul ‘Ulum Asy-Syar’iyyah (MUS) Sarang.

“Dulu saya tabarrukan ngaji kitab di PP MUS Sarang. Alhamdulillah tadi pagi saya bisa sowan silaturrohim ke KH M Said Abdurrochim; mohon restu, nasihat dan doa untuk berikhtiar khidmah NU dalam Muktamar ke-35 mendatang,” ujar Gus Salam dalam keterangan yang diterima.

Dia juga menyebut pertemuannya bersama PCNU se-karesidenan Semarang dan Pati dipenuhi banyak masukan terkait arah gerakan NU ke depan.

“Salah satunya dari PCNU Blora yang mengapresiasi positif banyaknya kader NU yang maju sebagai kandidat Ketua Umum PBNU. Itu menunjukkan NU tidak kehilangan kader unggul,” ujar dia.

Dukungan juga disampaikan Pengasuh PP Ma’hadul Ilmi Asy-Syar’i (MIS) Sarang, KH Achmad Rosikh Roghibi. Ia menyebut para kiai pesantren di Sarang menilai Gus Salam sebagai figur yang memiliki kepedulian terhadap masa depan jam’iyah sekaligus memahami tantangan zaman.

“Gus Salam dinilai oleh kiai-kiai Sarang sebagai figur paling tepat yang memiliki kepedulian terhadap masa depan jam’iyah, khususnya dalam menjaga nilai-nilai Islam Aswaja sekaligus merespons tantangan zaman,” kata Gus Rosikh.

Baca juga: PBNU Tetapkan Muktamar NU Ke-35 Digelar Agustus 2026, Diawali Munas dan Konbes

Dalam pernyataannya, Gus Rosikh turut menyinggung arah kepemimpinan PBNU di abad kedua NU. Menurutnya, NU tidak cukup hanya dipimpin figur populer, tetapi membutuhkan gagasan besar dan arah strategis yang jelas.

“NU di abad kedua ini tidak cukup hanya dengan sopir yang piawai dan navigator yang paham peta global, tetapi juga membutuhkan mesin baru dengan pengemudi yang benar-benar memahami arah dan tujuan jam’iyah,” ujarnya.

Dia menilai dinamika jelang Muktamar ke-35 NU saat ini terlalu fokus pada sosok calon ketua umum, bukan pada visi dan gagasan yang akan menentukan masa depan organisasi.

Gus Rosikh juga menekankan pentingnya kepemimpinan PBNU yang dekat dengan pesantren dan memahami akar historis NU sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyyah.

Menurutnya, figur pemimpin NU ke depan harus mampu menjaga kesinambungan nilai, tradisi, dan perjuangan para muasis NU agar tidak tercerabut dari akar pesantren.

“Saya yakin kalau kiai-kiai pondok pesantren se-Indonesia, santri, dan warga Nahdliyin memahami kepribadian Gus Salam dengan baik, mereka akan menilainya sangat layak dan tepat untuk menakhodai PBNU,” ungkapnya.

Ia pun mengingatkan agar Muktamar ke-35 NU tidak sekadar menjadi arena kontestasi pragmatis yang memicu polarisasi internal.

“NU butuh pemimpin yang tidak hanya kuat secara simbolik, tapi punya roadmap yang jelas. Dan Muktamar ke-35 harus menghasilkan konsensus ideologis dan strategis agar NU tetap relevan, berdaya, dan menjadi pemandu umat,” tegas Gus Rosikh.

Di sela kunjungannya, Gus Salam juga mengaku sempat berencana sowan ke KH Musthofa Bisri di PP Raudlotut Tholibin, Leteh, Rembang. Namun, menurutnya, Gus Mus sedang kurang sehat sehingga belum bisa menerima tamu.

Muktamar ke-35 NU

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) dijadwalkan berlangsung pada Juli atau Agustus 2026, setelah sebelumnya PBNU menetapkan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) digelar pada April 2026. 

"Terkait agenda organisasi, rapat menetapkan Munas dan Konbes NU 2026 akan digelar pada bulan Syawal 1447 H atau April 2026, sementara Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada Juli atau Agustus 2026," kata Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.

Agenda ini menjadi forum tertinggi dalam organisasi NU untuk menentukan arah kebijakan, kepemimpinan, serta konsolidasi jam’iyyah di tengah dinamika sosial, politik, dan keagamaan nasional.

Muktamar NU merupakan momentum penting karena di forum inilah dilakukan evaluasi terhadap program kerja PBNU, pembahasan isu-isu strategis umat, serta pemilihan kepemimpinan baru, khususnya posisi Rais Aam dan Ketua Umum Tanfidziyah. 

Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, keputusan yang dihasilkan dalam Muktamar biasanya memiliki dampak luas, tidak hanya bagi warga nahdliyin, tetapi juga bagi arah kebijakan keagamaan dan sosial di tingkat nasional.

Selain aspek kepemimpinan, Muktamar ke-35 NU juga akan menjadi ajang pembahasan isu-isu aktual yang dihadapi umat Islam dan bangsa Indonesia. 

Tema-tema seperti moderasi beragama, peran NU dalam menjaga persatuan nasional, serta respons terhadap tantangan global seperti disrupsi teknologi dan geopolitik diperkirakan akan menjadi bagian dari agenda pembahasan. 

Dengan basis kultural yang kuat melalui jaringan pesantren dan organisasi masyarakat, NU diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam menjawab tantangan zaman.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.