TRIBUNNEWS.COM - Sebagian penumpang kapal pesiar MV Hondius asal Spanyol dilanda kekhawatiran terkait wabah hantavirus.
Kapal pesiar MV Hondius - yang beberapa penumpangnya telah meninggal atau jatuh sakit akibat spesies hantavirus langka - berangkat dari negara kepulauan Tanjung Verde dan menuju Kepulauan Canary di Spanyol, sebuah perjalanan selama 3 hingga 4 hari.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengonfirmasi lima kasus infeksi dan tiga kematian, memperingatkan lebih banyak kasus masih dapat muncul karena virus ini dapat memiliki masa inkubasi hingga enam minggu, tetapi secara tegas menolak kemungkinan pandemi.
Kapal pesiar Belanda itu kini sedang menuju Tenerife, di Kepulauan Canary, dan diperkirakan akan tiba pada Minggu, 10 Mei 2026.
Kapal tersebut dijadwalkan untuk berlabuh di lepas pantai, dan 144 penumpangnya akan dipindahkan ke bandara menggunakan perahu.
Sebanyak 14 penumpang berkebangsaan Spanyol yang berada di kapal akan dipindahkan ke Rumah Sakit Gómez Ulla di Madrid, di mana mereka akan dikarantina selama 45 hari.
Sementara, awak kapal lainnya akan dipindahkan ke negara masing-masing.
Kini seorang pria Spanyol mengaku takut bagaimana mereka akan diterima kembali di daratan.
Hal ini disampaikan dua penumpang kepada Associated Press melalui telepon dari kapal tersebut pada Jumat (8/5/2026).
“Anda membuka media sosial - mereka ingin meledakkan kapal itu. Mereka ingin menenggelamkan kapal itu,” kata seorang pria Spanyol.
Baca juga: Ahli IDAI: Penularan Hantavirus Sangat Rendah, Campak Lebih Berisiko Menyebar Cepat
Dia mengatakan dia khawatir akan distigmatisasi sebagai pembawa virus yang harus dihindari - atau lebih buruk lagi.
Dia berbicara dengan syarat anonim karena kekhawatiran ini, dan seorang wanita Spanyol lainnya juga meminta anonimitas karena alasan yang sama.
“Anda melihat apa yang ada di luar sana dan menyadari bahwa Anda sedang menuju ke pusat badai,” katanya.
“Banyak orang lupa bahwa di sini ada lebih dari 140 penumpang. Sebenarnya, ada 140 manusia," jelasnya.
Lebih dari 140 penumpang dan awak kapal dapat mulai turun dari kapal paling cepat hari Minggu.
Presiden regional Kepulauan Canary, Fernando Clavijo, mengatakan kepada surat kabar El País Spanyol pada hari Jumat bahwa ia tidak akan tenang sampai kapal tersebut meninggalkan Spanyol dan semua penumpang menuju ke tempat karantina masing-masing.
Lalu, pemimpin regional Madrid, Isabel Díaz Ayuso, pada hari Kamis mengatakan ia tidak setuju dengan keputusan untuk memindahkan 14 penumpang Spanyol dari kapal tersebut ke rumah sakit militer di ibu kota Spanyol, tempat pihak berwenang mengatakan mereka harus menjalani karantina.
Sementara itu, rutinitas harian para penumpang berjalan tenang.
Mereka yang keluar dari kabin ke area umum bersantai sambil membaca, atau mengikuti ceramah — semuanya sambil mengenakan masker dan menjaga jarak sosial.
Beberapa bergabung dengan kelompok olahraga pukul 07.30 pagi di salah satu dek atas.
Yang lain keluar untuk menghirup udara segar dan mencoba mengamati burung.
Baca juga: CDC Naikkan Status Darurat Hantavirus, WHO Pastikan Bukan Covid Baru
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, memberi penjelasan tentang sekelompok kasus hantavirus yang terkait dengan kapal pesiar MV Hondius.
Sejauh ini telah dilaporkan delapan kasus, termasuk tiga kematian.
Lima dari delapan kasus tersebut telah dikonfirmasi sebagai hantavirus.
Virus hanta yang terlibat adalah virus Andes, satu-satunya spesies yang diketahui mampu menular secara terbatas antar manusia, terkait dengan kontak dekat dan berkepanjangan.
“Meskipun ini adalah insiden serius, WHO menilai risiko kesehatan masyarakatnya rendah," kata Tedros, Kamis (7/5/2026), dilansir laman resmi WHO.
Ia mencatat mengingat masa inkubasi, “ada kemungkinan lebih banyak kasus yang akan dilaporkan.”
WHO berkoordinasi erat dengan berbagai negara di bawah Peraturan Kesehatan Internasional atau IHR, peraturan yang mendefinisikan hak dan kewajiban negara dan WHO dalam menanggapi peristiwa kesehatan masyarakat.
Peristiwa ini menunjukkan mengapa IHR ada, menunjukkan pentingnya kerja sama dan solidaritas global dalam menanggapi ancaman kesehatan yang tidak mengenal batas negara.
“Prioritas kami adalah memastikan pasien yang terdampak menerima perawatan, penumpang yang tersisa di kapal tetap aman dan diperlakukan dengan bermartabat, serta mencegah penyebaran virus lebih lanjut,” kata Tedros.
Dilansir laman Kementerian Kesehatan RI, hantavirus menyebar melalui sesuatu yang sering kita anggap sepele yakni melalui debu yang terkontaminasi kotoran tikus.
Dalam pedoman nasional disebutkan penularan terutama terjadi melalui aerosolized excreta dari rodensia.
Dengan kata lain, seseorang tidak perlu digigit tikus untuk tertular.
Cukup berada di lingkungan dengan manifestasi tikus dan menghirup udara yang terkontaminasi.
Baca juga: Kasus Hantavirus di Indonesia Didominasi Seoul Virus, Ini Gejala Umum Jika Terinfeksi
Berbeda dengan banyak penyakit infeksi lain, hantavirus tidak bisa dikendalikan hanya dengan obat atau vaksin (yang hingga kini belum ada yang disetujui secara luas).
Pengendalian hantavirus sangat bergantung pada pengendalian populasi tikus, perbaikan sanitasi lingkungan, edukasi masyarakat, dan surveilans berbasis risiko.
Dalam pedoman Kemenkes, pendekatan yang dianjurkan mencakup pengendalian reservoir secara terpadu, perbaikan sanitasi lingkungan, dan komunikasi risiko kepada masyarakat.
Ini menunjukkan bahwa hantavirus adalah contoh nyata pendekatan One Health, yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Pada manusia, gejala biasanya mulai muncul antara satu hingga delapan minggu setelah terpapar, tergantung pada jenis virusnya, dan biasanya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, dan gejala gastrointestinal seperti sakit perut, mual, atau muntah.
Dikutip dari laman WHO, pada HCPS, penyakit ini dapat berkembang dengan cepat menjadi batuk, sesak napas, penumpukan cairan di paru-paru, dan syok.
Pada HFRS, stadium lanjut dapat mencakup tekanan darah rendah, gangguan pembekuan darah, dan gagal ginjal.
Tidak ada pengobatan antivirus spesifik atau vaksin berlisensi untuk infeksi hantavirus.
Perawatan bersifat suportif dan berfokus pada pemantauan klinis yang ketat serta penanganan komplikasi pernapasan, jantung, dan ginjal.
Akses dini ke perawatan intensif, bila diindikasikan secara klinis, meningkatkan hasil, terutama untuk pasien dengan sindrom kardiopulmoner hantavirus.
Pencegahan infeksi hantavirus terutama bergantung pada pengurangan kontak antara manusia dan hewan pengerat.
Langkah-langkah efektif meliputi:
Selama wabah atau ketika kasus dicurigai, identifikasi dan isolasi dini kasus, pemantauan kontak dekat, dan penerapan langkah-langkah pencegahan infeksi standar sangat penting untuk membatasi penyebaran lebih lanjut.
(Tribunnews.com/Nuryanti)