TRIBUNMATARAMAN.COM, TULUNGAGUNG - Pabrik Gula Modjopanggoong (PG Mojopanggung) Tulungagung menggelar tradisi manten tebu, Sabtu (9/5/2026).
Manten tebu merupakan tradisi turun temurun sebagai penanda dimulainya musim giling.
Menurut General Manager PG Mojopanggung, Sugianto, manten tebu adalah simbol bersatunya 2 lembaga yang berbeda, yaitu PG Mojopanggung dan para petani tebu.
“Makna prosesi ini mengawinkan petani tebu dan PG Mojopanggung. Harapannya menghasilkan manfaat sebesar-besarnya untuk masyarakat.” ujarnya.
Baca juga: Pekerja Migran asal Trenggalek Dideportasi dari Taiwan, Lakukan Overstay 8 Tahun
Dua boneka pengantin di arak dari tengah perkampungan, simbol dari para petani tebu.
Sementara di belakangnya diiringi penjor yang terbuat dari pohon tebu, lengkap dengan kembar mayang.
Pengantin tebu ini kemudian diarak masuk ke dalam area PG Mojopanggung dari arah barat.
Selanjutnya para pejabat di PG Mojopanggung bergantian menggendong boneka pengantin ini ke mesin penggiling.
Boneka pengantin dan ubo rampe (kelengkapan upacara) ditaruh di atas konveyor yang membawa ke dalam mesin giling yang menyala.
“Harapan besar dalam musim giling 2026 ini diberi kemudahan dan kelancaran. Kelancaran produksi dan alatnya, diberi selamat karyawan dan alatnya,” sambung Sugianto.
Sugianto berharap musim giling 2026 ini bisa membangkitkan kejayaan PG Mojopanggung seperti tahun 2024.
Saat itu pabrik gula yang sudah ada sejak 1852 ini menjadi yang terbaik di PT Sinergi Gula Nusantara (SGN).
Tahun ini PG Mojopanggung menargetkan bisa menggiling tebu sebanyak 446.123 ton.
Jumlah tebu itu didapat dari 6.783 hektare lahan petani di Kabupaten Malang, Kota Blitar, Kabupaten Blitar, Tulungagung dan Trenggalek.
“Lamanya musim giling tahun ini 161 hari. Cuaca tahun ini sangat mendukung,” ujarnya.
PG Mojopanggung mencanangkan rendemen tebu sebesar 7,21 persen.
Artinya dalam setiap 100 kilogram tebu bisa menghasilkan 7,21 kilogram gula pasir.
Baca juga: Fenomena Bunuh Diri di Kediri Jadi Alarm, Psikolog: Banyak Laki-laki Menanggung Tekanan Sendiri
Kapasitas giling yang dicanangkan minimal 2.864 ton tebu per hari (TCT), dengan target produksi gula 33.705 ton
Sugianto juga mengungkap kendala tahun 2025 yang terganggu karena lanina atau musim hujan panjang.
Kondisi yang terus hujan menyebabkan rendemen tebu rendah, sehingga gula yang dihasilkan tidak maksimal.
PG Mojopanggung menghasilkan sekitar 31.000 ton gula dari target yang ditetapkan 33.000 ton.
“Realisasi sekitar 90 persen. Alhamdulillah, dengan kondisi tahun lalu yang buruk kami masih bisa memberi kontribusi positif untuk SGN,” katanya.
Sugianto menyebut tahun 2025 sebagai pendidikan terbaik dalam menghadapi kendala yang sangat kompleks.
PG Mojopanggung menghadapi dinamika petani, cuaca, dinamika perdagangan gula dan perdagangan tetes.
“Tahun 2025 menjadi latihan terbaik untuk masa depan SGN,” pungkasnya.
Plt Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin juga hadir dalam prosesi manten tebu ini.
Baharudin mengatakan, Pemkab Tulungagung juga punya kepentingan untuk mendukung produksi tebu.
Upaya ini menjadi salah satu pencapaian ketahanan pangan, karena gula masuk dalam komoditas yang diperhatikan dalam program ketahanan pangan.
“PG Mojopanggung dan Pemkab Tulungagung bisa bersinergi untuk meningkatkan produksi tebu, tanpa mengurangi produk pangan lainnya,” jelasnya.
Pemkab Tulungagung melalui Dinas Pertanian juga menjalankan program bongkar ratoon yang dicanangkan Kementerian Pertanian.
Bongkar ratoon adalah peremajaan tebu yang sudah tidak produktif, diganti dengan tanaman baru.
Selain itu ada target perluasan lahan tebu 300 hektar selama 2026.
(David Yohanes/TribunMataraman.com)