Kisah Nenek Jumariah JCH Maros Dua Dekade Menabung di Ember Demi Berangkat ke Tanah Suci
Sudirman May 09, 2026 05:08 PM

TRIBUN-TIMUR.COM - Sosok Nenek Jumariah, jamaah haji asal Maros, Sulawesi Selatan, menjadi buah bibir dan inspirasi bagi banyak orang di tanah suci.

Di tengah keterbatasan ekonomi, Jumariah berhasil mewujudkan mimpinya menunaikan ibadah haji setelah menabung selama hampir dua dekade.

Kisah perjuangan Nenek Jumariah bukanlah jalan yang mudah.

Sehari-harinya, ia bekerja keras sebagai buruh sawah dan kebun.

Namun di balik fisik senjanya, tersimpan tekad baja untuk memenuhi panggilan Allah SWT ke Baitullah.

Baca juga: Menyusuri Tenda Arafah-Mina, Wajah Baru Fasilitas Haji Mulai dari Lantai Tebal hingga Urinoir

Demi mengumpulkan rupiah demi rupiah, Nenek Jumariah memilih menjalani gaya hidup yang sangat sederhana.

Ia mengaku sering mengonsumsi daun singkong (ubi) dan telur ayam hasil ternak sendiri agar tidak perlu menyentuh uang yang telah diniatkan untuk naik haji.

"Kalau mau makan, saya petik daun ubi saja atau goreng telur. Uang hasil panen tidak boleh diganggu," ungkapnya dengan suara lirih.

Nenek Jumariah menyimpan uang tergolong sangat tradisional.

Ia menyisihkan upahnya mulai dari Rp20.000 hingga Rp200.000 dan menyimpannya di dalam sebuah ember.

Ember tersebut ia sembunyikan di bawah tempat tidur dan ditutup dengan kain lusuh agar tidak diketahui oleh orang lain, bahkan oleh cucu-cucunya sendiri.

Strategi "tabungan ember" ini ia jalani secara konsisten selama kurang lebih 20 tahun.

Hingga akhirnya pada tahun 2011, uang yang terkumpul dirasa cukup untuk mendaftarkan diri di kantor urusan haji.

Penantian panjang selama 13 tahun sejak mendaftar akhirnya terbayar lunas.

Setibanya di Madinah, Nenek Jumariah tak kuasa membendung air mata, terutama saat memasuki Masjid Nabawi dan Raudah.

Sambil terisak, ia mengenang pesan kedua orang tuanya yang menjadi motivasi terbesarnya untuk berangkat haji.

Ia mengaku sempat tidak percaya bisa menginjakkan kaki di tanah suci dengan segala keterbatasannya.

"Saya ini orang miskin. Mungkin saya bisa ke sini karena panggilan Tuhan. Saya terus mendoakan orang tua saya semoga mereka bahagia di sana," tuturnya sambil menyeka air mata.

Kisah Nenek Jumariah menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa niat yang kuat dan ikhtiar yang sabar mampu meruntuhkan tembok ketidakmungkinan.

Kini, "Ikon Mekar" asal Sulawesi Selatan ini tengah fokus menjalankan rangkaian ibadah dengan penuh rasa syukur sebagai tamu Allah.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.