Industri pariwisata nasional mulai mewaspadai potensi perlambatan perjalanan wisatawan domestik menjelang musim libur sekolah. Tingginya harga tiket pesawat hingga tekanan daya beli masyarakat menjadi tantangan utama yang kini dihadapi sektor pariwisata.
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran, mengatakan wisatawan nusantara masih menjadi tulang penopang industri pariwisata Indonesia. Karena itu, kondisi ekonomi masyarakat sangat menentukan pergerakan sektor tersebut.
"Kalau kita bicara pariwisata di Indonesia, sebenarnya yang paling penting itu kontribusi perjalanan wisatawan nusantara. Untuk mendorong itu berkembang, yang pertama harus dijaga adalah daya beli masyarakat. Kalau daya belinya rendah tentu perjalanan akan sulit dilakukan," kata Maulana seperti dilansir CNBCIndonesia.com
Selain daya beli, persoalan akses transportasi juga dinilai menjadi hambatan besar. Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat bergantung pada transportasi udara untuk menggerakkan perjalanan domestik antardaerah. Sayangnya, kenaikan harga tiket pesawat disebut mulai memukul minat masyarakat untuk bepergian.
"Sekarang dengan naiknya harga tiket ini jadi tantangan tersendiri. Belum lagi jumlah armada pesawat untuk perjalanan domestik juga masih terbatas," ujarnya.
Dari pantauan di situs Google Flight, tiket pesawat untuk rute populer seperti Jakarta-Surabaya sudah naik mulai Rp 2.520.000 untuk keberangkatan awal Juni. Tarif ini sudah mengalami kenaikan dibanding awal tahun yang masih di angka Rp 2 jutaan. Tiket pesawat menuju Bali juga sama mengalami kenaikan.
PHRI juga menyoroti kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak pada biaya perjalanan darat. Tekanan biaya transportasi kini dirasakan hampir di seluruh jalur perjalanan wisata. Situasi global yang belum stabil ikut membuat sektor pariwisata domestik semakin rentan.
"Kalau dalam negeri, perjalanan wisatawan nusantara memang banyak tantangannya. Dengan situasi geopolitik sekarang, yang paling utama itu menjaga daya beli masyarakat," kata Maulana.
PHRI mencatat tingkat okupansi hotel pada Januari dan Februari sebenarnya lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan baru mulai terlihat pada Maret karena terdorong momentum Lebaran.
Perbandingan dengan tahun sebelumnya juga perlu dilihat detil karena perbedaan momentum Ramadan dan Lebaran memengaruhi pola perjalanan masyarakat.
"Bulan Maret tahun ini ada kontribusi Lebaran, sementara tahun sebelumnya penuh Ramadan. Kalau Ramadan itu okupansi hotel hampir tidak pernah di atas 40%," katanya.
PHRI kini menaruh fokus pada situasi kuartal II-2026 setelah momentum Lebaran berlalu. Industri hotel disebut tidak ingin terlalu cepat merasa aman hanya karena ada lonjakan sementara pada musim mudik.
"Nanti kita lihat di kuartal dua bagaimana setelah libur Lebaran lewat. Jadi kita juga tidak boleh terlalu terlena dengan kondisi sekarang," ujar Maulana.
Hotel di Mataram sudah Menunggak Pajak
Penurunan okupansi ini sudah terasa di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Pelaku usaha hotel di Mataram mengeluhkan anjloknya tingkat hunian kamar sejak awal tahun 2026 hingga April.
Bahkan imbasnya sampai membuat banyak hotel yang menunggak pajak. Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram melalui Badan Keuangan Daerah (BKD) pun memberikan perpanjangan waktu selama satu bulan kepada wajib pajak (WP), khususnya sektor hotel dan restoran, untuk melunasi tunggakan pajak.
"Kami berikan waktu satu bulan, setelah itu nanti ada peringatan satu, dua, dan tiga. Ada tahapan-tahapan (peringatannya)," kata Kepala BKD Kota Mataram, Muhamad Ramayoga seperti dilansir dari detikBali.
Ramayoga berharap perpanjangan waktu bisa dimanfaatkan sebaik mungkin oleh wajib pajak. Sehingga bisa segera menyelesaikan tunggakan pajaknya.
"Tidak menutup kemungkinan dengan kondisinya yang sekarang ini ada waktu untuk mereka menyelesaikan itu (tunggakan)," terangnya.
Permintaan Perjalanan di Agen Travel Juga Turun sampai 30%
Industri perjalanan tengah menghadapi dinamika baru di tengah berbagai faktor global. Namun, Direktur Utama PT Bayu Buana Tbk, Agustinus Kasjaya Pake Seko menilai kondisi saat ini masih relatif stabil dibandingkan masa pandemi.
Menurutnya, penurunan permintaan perjalanan memang terjadi, tetapi tidak sedalam yang pernah dialami saat pandemi COVID-19. "Kalau dibandingkan dengan pandemi COVID-19, situasi sekarang masih lebih baik. Permintaan masih ada, meskipun ada penurunan," ujarnya.
Agustinus memperkirakan, penurunan permintaan berada di kisaran 20 hingga 25 persen. Angka tersebut sudah mencerminkan berbagai faktor yang memengaruhi industri, mulai dari kondisi geopolitik hingga penyesuaian perilaku wisatawan.
"Perkiraan saya sekitar 20-25 persen, dan itu sudah mencakup semua faktor," jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penurunan tersebut tidak sepenuhnya disebabkan oleh pembatalan perjalanan. Justru, mayoritas pelanggan memilih untuk menunda keberangkatan dibanding membatalkan secara permanen.
" sebenarnya tidak ada. Yang terjadi adalah reschedule. Jadi perjalanan tetap ada, hanya waktunya yang bergeser," katanya.
Fenomena ini terlihat jelas pada perjalanan ke kawasan Timur Tengah yang sempat terdampak situasi tertentu. Banyak wisatawan yang akhirnya mengatur ulang jadwal keberangkatan mereka ke bulan-bulan berikutnya.
"Ada yang berangkat di Juni, bahkan ada yang sampai September. Jadi ini lebih ke shifting waktu, bukan pembatalan total," tambahnya.
Selain perubahan waktu, tren lain yang juga mencuat adalah pergeseran destinasi wisata. Wisatawan kini cenderung memilih destinasi yang lebih stabil secara regional. "Regional destination menjadi lebih favorit sekarang," ungkap Agustinus.
Beberapa negara di Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, dan China disebut mengalami peningkatan minat dari wisatawan Indonesia.
Pergeseran ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan terhadap industri perjalanan, minat masyarakat untuk bepergian tetap tinggi. Hanya saja, wisatawan kini lebih selektif dalam memilih waktu dan destinasi yang dianggap aman serta nyaman. Dengan kondisi tersebut, pelaku industri seperti Bayu Buana terus berupaya menjaga kinerja agar penurunan tidak semakin dalam, sekaligus beradaptasi dengan perubahan pola perjalanan masyarakat.





