TRIBUNKALTIM.CO - Kapan Hari Arafah 2026? Hari Arafah diperingati setiap tangghal 9 Dzulhijjah satu hari sebelum Hari Raya Idul Adha.
Saat ini, umat Islam di berbagai penjuru dunia mulai bersiap menyambut datangnya bulan Dzulhijah 1447 Hijriah yang merupakan salah satu bulan paling mulia dalam kalender Islam.
Di antara hari-hari istimewa pada bulan tersebut, Hari Arafah menjadi momen yang paling dinanti karena menyimpan keutamaan besar, baik bagi jemaah haji di Tanah Suci maupun Muslim yang beribadah dari rumah.
Baca juga: Jelang Idul Adha 2026, Keutamaan dan Jadwal Puasa Tarwiyah dan Arafah, Bacaan Niatnya
Hari Arafah diperingati setiap 9 Zulhijah, sehari sebelum Hari Raya Idul Adha. Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia yang diterbitkan Kementerian Agama (Kemenag) RI, Hari Arafah 1447 H diperkirakan jatuh pada Selasa, 26 Mei 2026.
Namun, dalam sistem kalender Hijriah, pergantian hari dimulai sejak matahari terbenam. Artinya, malam Arafah sudah dimulai sejak Senin, 25 Mei 2026 selepas magrib.
Meski demikian, tanggal tersebut masih berupa prediksi hisab dan belum bersifat final.
Pemerintah Indonesia melalui Kemenag RI nantinya tetap akan menetapkan awal Zulhijah melalui sidang isbat yang digelar pada akhir bulan Zulkaidah yakni pada 17 Mei 2026.
Perbedaan metode rukyat dan hisab juga memungkinkan adanya perbedaan penetapan tanggal di sejumlah negara, termasuk Arab Saudi.
Hari Arafah bukan sekadar penanda menjelang Idul Adha.
Dalam ajaran Islam, hari ini memiliki kedudukan yang sangat agung karena menjadi waktu pelaksanaan wukuf di Padang Arafah, yang merupakan rukun paling utama dalam ibadah haji.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bahkan menegaskan:
Al-hajju ‘Arafah
“Haji itu adalah Arafah.” (HR Tirmidzi)
Hadits tersebut menunjukkan bahwa inti pelaksanaan haji terletak pada wukuf di Arafah. Tanpa wukuf, ibadah haji dianggap tidak sah.
Dikutip dari buku 12 Bulan Mulia karya Abdurrahman Ahmad As, Hari Arafah termasuk salah satu hari paling utama dalam sepuluh hari pertama Zulhijah yang penuh keberkahan.
Pada hari itu, jutaan jemaah haji berkumpul di Padang Arafah untuk berdoa, berzikir, dan memohon ampun kepada Allah SWT.
Keutamaan Hari Arafah juga dijelaskan dalam banyak hadits Nabi Muhammad SAW. Salah satu yang paling terkenal adalah riwayat dari Aisyah RA.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tiada hari ketika Allah lebih banyak membebaskan hamba dari api neraka selain Hari Arafah.” (HR Muslim)
Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam an-Nawawi dijelaskan bahwa Hari Arafah menjadi momentum turunnya rahmat dan ampunan Allah SWT dalam jumlah yang sangat besar.
Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, istigfar, takbir, tahmid, dan amal saleh lainnya pada hari tersebut.
Sebagian ulama bahkan menyebut Hari Arafah sebagai salah satu waktu terbaik untuk memanjatkan doa karena doa pada hari itu memiliki peluang besar untuk dikabulkan.
Bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, salah satu amalan paling dianjurkan adalah puasa sunnah Arafah pada 9 Zulhijah.
Dalam buku Fiqih karya Hasbiyallah dijelaskan bahwa puasa Arafah termasuk puasa sunnah paling utama karena bertepatan dengan momen wukuf para jemaah haji di Arafah.
Keutamaan puasa Arafah dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Abu Qatadah RA:
“Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR Muslim)
Hadits tersebut menjadi alasan mengapa puasa Arafah selalu menjadi amalan yang sangat dianjurkan bagi umat Islam di seluruh dunia.
Namun, jumhur ulama sepakat puasa Arafah tidak dianjurkan bagi jemaah yang sedang wukuf di Arafah karena dikhawatirkan melemahkan kondisi fisik mereka selama menjalankan puncak ibadah haji.
Dalam riwayat Abu Hurairah RA disebutkan bahwa Rasulullah SAW melarang puasa Arafah bagi orang yang sedang berada di Arafah.
Pelaksanaan puasa Arafah pada dasarnya sama seperti puasa sunnah lainnya. Yang membedakan hanyalah niat dan waktu pelaksanaannya.
Dikutip dari buku Fiqih Puasa karya Dr. Thoat Stiawan dkk, berikut tata cara puasa Arafah:
1. Membaca Niat
Niat puasa Arafah dapat dibaca sejak malam hari hingga sebelum waktu zuhur selama belum makan dan minum.
Berikut bacaan niat puasa Arafah:
Nawaitu shauma ‘Arafata sunnatan lillaahi ta’aalaa.
Artinya: “Saya berniat puasa Arafah sunnah karena Allah Ta’ala.”
2. Makan Sahur
Meski puasa sunnah, umat Islam tetap dianjurkan makan sahur karena mengandung keberkahan sebagaimana sunnah Rasulullah SAW.
3. Menjaga Perilaku dan Lisan
Puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga ucapan, emosi, dan perilaku dari hal-hal yang dapat mengurangi pahala.
4. Memperbanyak Doa dan Zikir
Hari Arafah dikenal sebagai salah satu waktu mustajab untuk berdoa. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak istigfar, doa, membaca Al Quran, serta zikir.
5. Menyegerakan Berbuka
Saat waktu magrib tiba, umat Islam dianjurkan segera berbuka sebagaimana sunnah Nabi Muhammad SAW.
Hari Arafah tidak hanya identik dengan puasa sunnah, tetapi juga menjadi momentum refleksi spiritual menjelang Hari Raya Idul Adha.
Di saat jutaan jemaah haji berkumpul di Padang Arafah mengenakan pakaian ihram serba putih, umat Islam di berbagai negara juga dianjurkan memperbanyak ibadah sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.
Dalam buku Rahasia Ibadah Haji dan Umrah karya Imam Al-Ghazali disebutkan bahwa wukuf di Arafah menggambarkan suasana manusia saat dikumpulkan di Padang Mahsyar pada hari kiamat.
Oleh karena itu, Hari Arafah menjadi pengingat tentang pentingnya taubat, keikhlasan, dan persiapan menuju kehidupan akhirat.
Tak heran jika banyak umat Islam memanfaatkan hari tersebut untuk memperbanyak amal, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu.
Di tengah kesibukan dunia modern, Hari Arafah menjadi salah satu momen spiritual yang selalu dirindukan umat Islam setiap tahunnya.
Baca juga: Bacaan Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah, Keutamaan Puasa Sunnah sebelum Idul Adha
(*)